Senin, 07 Agustus 2017

Netizen Cerdas, Media Sosial, dan Konten Positif

Media sosial bisa menjadi bara. Diam-diam menikam dan menghancurkan. Bisa juga menjadi cahaya. Memberikan pelita harapan dan menebar manfaat bagi yang cerdas memanfaatkanya. Dimensi politik dan agama merupakan salah satu elemen yang kerap dijadikan ladang memperkeruh bhinneka. Medan politik kerapkali dimanfaatkan segilitir orang untuk membentuk wacana, menggiring opini, dan membunuh karakter. Pilkada DKI salah satu contohnya. Sekali klik sepersekian detik informasi beredar. Selain pembunuhan karakter, isu radikalisme online, cyber bullying, hoax, ujaran kebencian, kerap menjadi konsumsi harian masyarakat. Masyarakat mengalami disorientasi persepsi, di mana mereka menjadi gamang atas ramainya lalu lintas informasi yang memanipulasi pikiran manusia sepersekian detik. Sebagian mudah tersulut isu, menjadi brutal, dan mengajak massa membuat kobaran api yang lebih besar. 

Lantas, bagaimana memanfaatkan media sosial demi kebaikan bersama? Media sosial adalah modal sosial. Netizen cerdas tahu bagaimana menangkal isu negatif yang beredar yang tidak memberdayakan. Netizen cerdas mampu menjadikan media sosial sebagai konten positif tempat berkreasi dan menebar jala pengetahuan. Seperti misalnya salah satu netizen Dwi Suwiknyo ini. Melalui akun facebooknya, Mas Dwi kerap berbagi seputar tips menulis dan juga motivasi agar terus menelurkan karya. Meskipun sudah menerbitkan beberapa buku dengan label mayor, tak menjadikan Mas Dwi tinggi hati. Mas Dwi masih mau berbagi secuil pengetahuan di kelas menulis online (facebook) yang diampunya, baik yang berbayar maupun cuma-cuma. Jarang sekali Mas Dwi melontarkan postingan yang tentunya memantik kebencian. Apalagi hoax yang tidak ada faedahnya. 

Boomingnya media sosial dan instan messaging seperti Whatsapp, Line, dan BBM memang menjadikan dunia dalam genggaman. Namun, tanpa dilandasi kesadaran dan kecerdasan dalam mengelolanya, menjadikan manusia gamang dan mudah menyalah-nyalahkan. Nyinyir dan meledak-ledak via medsos.  
Berkenaan dengan hal tersebut Divisi Humas Polri bekerjasama dengan netizen Jogja mengadakan diskusi dengan tajuk "Membangun Budaya Positif Dalam Bermedia Sosial." Netizen Jogja yang diundang merupakan komunitas-komunias yang memiliki basis pengaruh dan follower cukup kuat di dunia maya. 

Tagar #MedosAgawaRukun menjadi kata kunci untuk memviralkan acara yang berlokasi di Hotel Sahid Rich tersebut. Empat narasumber dihadirkan. Dua narasumber berasal dari kepolisian, satu dari Kominfo, dan terakhir dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). 

Drs. Ahmad Dofiri selaku Kapolda DIY berujar agar hati-hati ketika menyampaikan informasi via media sosial, apalagi jika hal tersebut dibaca banyak orang di suatu komunitas/grup dan viral. Jikalau informasinya positif dan bermanfaat tak apa. Jika sebaliknya malah memicu pertikaian sengit di dunia maya. Oleh karenanya, Tabayun atau kroscek dulu informasi sebelum jempol memencel tombol berbagi di media sosial. Tak berbeda dari itu, Drs. Adnas, M.Si yang saat ini menjabat sebagai brigadir jenderal di kepolisian mengharpkan agar masyarakat, khususnya netizen membangun edukasi agar tidak mudah termakan hoax. Sinergi polisi dengan netizen dalam membuat konten positif juga diperlukan. Netizen diharapkan berbagi informasi yang akurat, utuh, bisa dipertanggungjawabkan. 

Pembicara selanjutnya, Ibu Mariam F. Barata dari Kominfo menyampaikan betapa pentingnya kesadaran dan kecerdasan dalam bermedsos. Isu penutupan telegram nyatanya menjadi bola panas dan menyulut api ke mana-mana. Bahkan ada masyakat yang takut kalau-kalau media sosial dibungkam dan sehingga masyarakat sulit menyalurkan ekspresi serta gagasan-gagasan. Nyatanya tidak demikian, Telegram tetaplah eksis. Telegram disinyalir membawa kaum radikalis dan teroris muncul ke permukaan. Makanya pemerintah melalui Kominfo melakukan upaya preventif guna mencegah situs atau aplikasi yang melanggar undang-undang. Melalui kompromi, pendiri Telegram mau datang ke Indonesia dan bernegosiasi dengan pemerintah terkait adanya kejahatan cyber. 

Pembicara terakhir bernama Naomi Lania yang mewakili KPAI. Perempuan yang sudah memakan asam garam dan berkeliling hingga berbagai pelosok Indonesia menyampaikan kekesalannya mengenai pornografi online dan perisakan di dunia maya. Beliau mencontohkan kasus Yuyun yang sempat heboh beberapa waktu silam. Salah satu tersangka yang melakukan tindak pidana perkosaan kterhadap Yuyun terinspirasi dari situs-situs dewasa yang kerap dia konsumsi. Kasus-kasus kejahatan terhadap anak dan wanita kerap menjadi sorotan publik. Kasus kematian Angeline yang dibunuh ibu angkatnya misalnya. Naomi yang berjuang menyibak tabir kematian Angeline pun harus bergulat ketika dirinya dituduh menggelapkan dana masyarakat yang diperuntukkan bagi keluarga almarhum.

Inspirasi dari ke empat narasumber begitu luar biasa. Bagaimanapun, peran netizen cerdas dalam memproduksi konten positif di media sosial masih sangat diperlukan. Tak terasa waktu cepat berjalan. Jam menunjukkan lebih dari pul 22.00 WIB. Saat sesi tanya jawab dibuka beberapa tangan menunjukkan antusiasme. Termasuk saya. Overall, acara in terbilang keren. Hestek #MedosAgaweRukun yang beredar di twitter diviralkan lebih dari 100 netizen dan 500 post dengan impresi lebih dari 10.000.000.