Sabtu, 26 November 2016

Jejak-Jejak Inspirasi di Blogger Gathering #HarblognasJNE

Dunia bergerak. Banyak hal berubah. Begitupun dengan teknologi, lanskap bisnis, dan juga ekonomi. Sekarang kita sudah memasuki era ekonomi digital. Begitu kuatnya pengaruh teknologi sehingga banyak bisnis memanfaatkan hal tersebut untuk mendongkrak omset dan profit. Semua serba digital. Digitalisasi mengubah berbagai aspek, termasuk digital lifestyle, perilaku konsumen, bagaimana entitas bisnis menjalankan aktivitasnya dan sebagainya. Dengan sentuhan jari melalui layar gawai yang kita miliki, kita tak perlu repot-repot ke supermarket atau restoran hanya untuk berbelanja atau order makanan. Tinggal klik-klik, pilih menu pada galeri, transfer melalui ATM, mobile banking, atau alat pembayarannya lainnya, beberapa waktu kemudian barang yang kita pesan sudah diantar melalui jasa kurir. Praktis dan efisien bukan? Teknologi memudahan hidup kita. 

Dalam kurun satu dasawarsa terakhir, perkembangan teknologi membuat pertumbuhan e-commerce melesat. Banyak startup atau perusahaan baru bermunculan. Bisnis online menjamur. Siapapun bisa berjualan di ranah maya. Tua muda bukan lagi persoalan. Emak-emak rempong, anak sekolahan, hingga mahasiswa pun cukup banyak yang melakukan aktivitas ini, berjualan online. Di antara mereka ada yang menjual melalui website yang dikelola secara profesional, ada juga yang memanfaatkan akun media sosial untuk mempromosikan produk-produk andalannya. Saya sendiri punya teman yang menjual produk fashion melalui akun facebook dan instagramnya. 

Berbicara mengenai e-commerce dan bisnis online, pastinya melekat dong dengan bagaimana cara pengantaran suatu barang hingga bisa sampai ke tangan konsumen dengan selamat dan tepat waktu. Selamat dan tepat waktu maksudnya barang yang dikirim utuh, tidak pecah, dan sampai ke tujuan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kita tentunya butuh perusahaan ekspedisi dan logistik yang kredibel dan bisa dipercaya. JNE misalnya. Berdasarkan pengalaman, beberapa e-commerce tempat saya berbelanja online menggunakan jasa JNE. Dua atau 3 hari setelah saya melakukan pesanan, barang sampai ke tempat saya dengan kondisi baik. Saya tentunya sangat puas dengan hal ini. 
Penimbangan dan pengepakan barang di JNE. Sumber : kontan.co.id
JNE merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa kurir ekspedisi dan logistik yang memiliki pangsa pasar cukup besar di Indonesia. JNE berdiri pada tanggal 26 November 1990 di bawah naungan PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir dengan fokus pada pengiriman domestik dan internasional. Kiprahnya melang melintang di bidang ini sudah tidak diragukan ini. Usianya sudah lebih dari seperempat abad. Ya pada tanggal 26 November 2016 ini, JNE genap berusia 26 tahun. 26 tahun JNE mewarnai negeri. 26 tahun JNE merajut kisah. Sungguh sebuah perjalanan panjang yang sarat dengan berbagai pengalaman.

Demi berbagi kebahagiaan di usianya yang sudah menginjak 26 tahun, JNE memberikan promo Hari Bebas Ongkos Kirim atau Harbokir selama 2 hari berturut-turut, yakni dari tanggal 26-27 November 2016. Yeiiii! Tentunya para online shop dan kamu yang akan mengirim barang pada tanggal tersebut bakalan seneng nih. Iya enggak?

Lanjut...

Nah, untuk meningkatkan kualitas layanannya, JNE pun melakukan berbagai inovasi. Salah satunya dengan meluncurkan aplikasi My JNE yang bisa diunduh di Play Store. Melalui aplikasi tersebut, kamu bisa mengecek informasi tarif JNE di seluruh Indonesia sekaligus tracking kiriman. Selain aplikasi My JNE, JNE juga mengembangkan layanan PESONA atau Pesanan Oleh-Oleh Nusantara. Program PESONA tersebut bertujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan kualitas daya saing pelaku Usaha, Mikro, Kecil, menengah, dan Koperasi (UMKMK), terutama pelaku usaha yang fokus di industri kuliner. Saat ini sudah ada sekitar 200 UMKMK hasil kerjasama dengan pihak JNE yang menawarkan lebih dari 3000 jenis kuliner lokal.
Pada tanggal 22 November lalu, bertempat di Plaza Senayan Jakarta, JNE mengadakan event "JNE Media & Blogger Gathering : Local Heroes Go Internasional." Adapun tema yang diusung yakni "26 Tahun JNE Menginspirasi Negeri." Dalam event tersebut JNE menghadirkan narasumber keren yang merupakan pelaku usaha di bidang bisnis online. Mereka adalah Jaya Setiabudi (founder yukbisnis.com) dan Ria Sarwono (brand & marketing of Cotton Ink). Pada tanggal tersebut linimasa twitter saya dipenuhi kicauan dan hestek #JNELocalHero. Sampai jadi trending topic coba. Mantap ya blogger jakarta. 
Jaya Setiabudi at JNE Media & Blogger gathering 2016. Sumber  : @tuti-utut 
Jika di Jakarta sukses menyelenggarakan event semacam itu, demikian pula di Yogyakarta. Kebetulan seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 19 November 2016, JNE mengajak blogger Jogja untuk menghadiri acara serupa. Mendengar kabar ini tentu membuat saya bersuka cita. Masih seputar inspirasi. Jika di Jakarta, JNE mengambil subtema "Local Heroes Go Internasional," dengan tema utama "26 Tahun JNE Menginspirasi Negeri," maka di Jogja tema yang diusung adalah "Menembus Batas Menjadi Inspirasi bagi negeri."

Adakah jejak-jejak inspirasi yang bisa dipetik?
Senja itu saya sudah bersiap menuju Hotel Harper Mangkubumi. Di sana ada sebuah event yang diselenggarakan oleh perusahaan jasa ekspedisi dan logistik terbesar di tanah air, apalagi kalau bukan JNE. Berdasarkan notifikasi yang saya terima di email, registrasi dimulai pada pukul 18.30. Tentu saja saya tidak boleh telat. Hotel Harper letaknya sendiri tidak jauh dari Tugu Jogja. Ini kali ketiga saya berkunjung ke Harper untuk memenuhi suatu undangan. Yang saya suka dari Harper, selain makanannya yang sangat yummy adalah desain interiornya yang cantik. Suasananya juga cozy serta alunan musiknya terdengar syahdu. 

Sesampainya di Harper, ternyata acara belum dimulai. Berlokasi di  Rustik Resto & Bar Harper, JNE mengundang sekitar 50 orang yang terdiri dari blogger dan beberapa awak media. Saya pun menyiapkan amunisi berapa smartphone dan mencari seat kosong yang letaknya strategis buat mengambil foto. Soalnya saya dengar ada live tweet competition berhadiah smartphone. Pasti mupeng kan jadinya? Hehehe... Siap-siap twitter ramai dengan hestek #HarblognasJNE. Selain live tweet competition, nanti bakalan ada undian rate aplikasi MY JNE.

Beberapa saat kemudian saya menemukan posisi yang pas. Saya duduk disamping Mbak Dian Farida. Tak selang berapa lama banyak blogger yang sudah hadir. Sang pemandu acara, Mbak Kurnia Kartikawati atau kerap dipanggil Qhachan menyapa dengan ramah blogger-blogger yang hadir. Suasana pun menjadi hangat. Suasana menjadi semakin seru ketika Qhachan mengumumkan akan membagikan doorprize. Kami diminta membuka taplak meja di hadapan kami. Di antara sekian taplak meja yang ada, di bawahnya diselipkan kertas berlogo JNE. Nanti kertas tersebut bisa ditukar dengan hadiah yang telah disediakan panitia. Wuihhh. Sayangnya saya bukan orang beruntung yang mendapatkan doorprize tersebut. Hiks :'( 

Acara dilanjut dengan sambutan (welcoming speech) dari Branch Manager JNE Express Jogja, Bapak Adi Subagya. Pada kesempatan kali ini, Pak Adi mengapresiasi blogger dan semua pegiat online yang telah bersama-sama memajukan dunia e-commerce Indonesia. Review blogger sangat berpengaruh terhadap reputasi sebuah brand. Blogger melalui media sosialnya juga bisa berperan sebagai endorser atau buzzer yang memperkenalkan produk-produk lokal kepada publik. Pertumbuhan e-commerce yang cukup signifikan berpengaruh sangat besar terhadap jasa ekspedisi dan logistik seperti JNE ini. 

Di tahun 2006, JNE hanya mengantar 600 Kg paket saja per harinya. Sekarang JNE mampu mengantar paket hingga 10 ton per hari. Wow! Maka tak heran, kini JNE bermimpi mampu membidik omset sebesar 5,75 triliun. Fantastis!

Pak Adi menambahkan bahwasanya JNE pada tanggal 26 November ini merayakan ulang tahunnya yang ke-26. Adapun pemilihan kata Harblognas sendiri merupakan singkatan dari Hari Blogger Nasional. Meskipun Hari Blogger Nasional jatuh pada tanggal 27 Oktober silam, tetapi momen tersebut masih layak dirayakan bersama ulang tahun JNE. Hadirin yang hadir kemudian memberikan applause kepada Pak Adi. 
Pak Subagya memberikan welcoming speech. Dokumentasi pribadi.
Acara berikutnya yakni hiburan dan makan malam. Yeiiiii! Mbak Winda Carmelita menghibur tamu undangan dengan suaranya yang merdu. Aseekkkkk. 

Saya melihat-lihat menu yang ada. Sebagian besar menu yang ada di Harper berupa Continental Food alias makanan Eropa. Ada lasagna, spagetti, burger, salad, pizza, serta aneka cake yang menggoyang lidah. Menu lokal juga ada kok. Di sini saya mencoba sate dan juga sup jagung. 
Aneka pilihan menu di Rustik Resto & Bar Harper. Dokumentasi pribadi
Ini apa coba? Pizza dicampur sosis, kentang dan juga sate. Benar-benar pilihan yang aneh. Dokumentasi pribadi
Cakenya imut dan lazisssss abisss. Suka tampilannya yang super catchy! Dokumentasi pribadi.
Menjelang acara inti, Qhachan menyambut Pungki Prayitno selaku moderator yang akan mendampingi 3 narasumber yang akan berbagi cerita dan inspirasi. Siapa saja mereka guys? Mereka adalah Pak Marsudi (Head of Regional JNE wilayah Jateng-DIY), Grace melia (parenting blogger dan pendiri Rumah Ramah Rubella), dan Uphie Mashar (pebisnis online dan pemilik @stupidroom). Acara ini dikemas layaknya bincang-bincang santai ala talkshow. 
Dari kiri ke kanan. Pungki Prayitno. Pak Marsudi, Grace melia, dan Uphie Mashar. Dokumentasi pribadi
Wanita muda dan cantik bertubuh mungil itu bernama Grace Melia. Sungguh tak disangka, buah hati pertamanya yang bernama Ubii menderita Congenital Rubella Syndrome. Virus Rubella yang menyerang Ubii berpengaruh pada perkembangan kondisi psikomotoriknya. Special kids need special parents. Grace sadar buah hatinya membutuhkan perawatan khusus. Tak kenal lelah, dengan penuh cinta Grace terus memperjuangkan Ubii melalui berbagai perawatan dan fisioterapi. Grace kemudian berinisitif mendirikan Rumah Ramah Rubella sebagai tempat berbagi informasi seputar TORCH (Toxoplasma, Rubella, CMV dan Herpes Simpleks), tips-tips parenting dan sebagainya. Grace juga kerap berbagi cerita di blog pribadi. Lambat laun banyak orang simpati lalu tertarik pada kisah hidupnya. Kegigihanya melawan virus rubella melalui Rumah Ramah Rubella diganjar berbagai penghargaan. Penghargaan tersebut di antaranya diberikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika kepada Grace sebagai Woman As An Agen Of Change Kartini Next generation 2014

Awal ngeblog Grace memikirkan bagaimana caranya agar blognya bisa populer seperti blogger-blogger lainnya. Grace kudu muter otak. Berbekal pengalamannya menjadi orangtua dan mengasuh buah hatinya. Grace memilih tema parenting. Personal branding adalah senjata utama. Selebihnya sebagai blogger kita kudu mempelajari dan mengembangkan ilmu terkait teknis blogging seperti SEO (Search Engine Optimization), desain grafis, fotografi, videografi, koding, dan sebagainya. Lambat laun, Blog Grace disukai banyak orang. Trafik dan visitor pun meningkat. Peningkatan ini berpengaruh pada sejumlah tawaran job review dan kerjasama dari berbagai brand. Saya masih ingat, bulan Maret lalu Grace bekerjasama dengan JNE mengadakan giveaway berupa review aplikasi MY JNE. Hadiahnya... ahaiiii kece lho. Ada voucher belanja senilai ratusan ribu dan juga grand prize 3 smartphone keren (Sony Xperia M5 Aqua, Samsung Grand Prime VE, dan Samsung Galaxy J1 Ace)

Jadi blogger jangan baperan! Jangan pula minder melihat prestasi blogger lain. Progresif dan inovatif adalah kata kuncinya. Grace berpesan, sebagai blogger kita kudu kreatif dan inovatif dalam mengembangkan konten dan ide-ide. Apalagi jika semisal dunia blogging sudah tidak diminati lagi Misal lho ya. Terus asah kemampuan pada bidang yang lain dan kreasikan hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik. Misal nih ya, kemampuan di bidang vlogging dan blogging jika disatukan akan menjadi poin plus tersendiri. 
***
Jika JNE di Jakarta menghadirkan Jaya Setiabudi sebagai narasumber sekaligus pelaku bisnis online, JNE di Jogja menghadirkan Uphie Mashar. Siapakah dia? Uphie adalah pemilik akun instagram @stupidroom yang menjual produk-produk impor berkualitas. Sungguh tak disangka, kisah perjalanan hidupnya ternyata penuh liku. 

Berkali-kali lamaran kerjanya ditolak perusahaan. Pernah juga diusir dari kostnya karena tak mampu membayar biaya sewa. Pernah pula diremehkan orang. "Buat apa kuliah? Selepas kuliah paling ujung-ujungnya nikah!" Demikian nada-nada sumbang dari orang yang pernah merendahkannya. Berderai air mata perjuangan wanita bernama lengkap Uphie Mashar tersebut. 

Suatu ketika salah seorang sahabat mengajaknya berjualan online sembari mencari kerja. Pelan tapi pasti, apa-apa yang diusahakan Uphie membuahkan hasil. Jerih payahnya berjualan online mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan lebih dari itu. Penghasilannya per bulan dari bisnis ini terbilang cukup fantastis. 

Jika ditanya apa yang membuat Uphie mampu bertahan di masa-masa sulit? Doa dan motivasi ibulah jawabannya. Motivasi ibunyalah yang membuat bara kecil di dadanya terus berkobar, mengantarkan Uphie menjadi pebisnis online sukses seperti sekarang ini. 
***
Kiprahnya selama 21 di perusahaan ekspedisi dan logistik JNE mengantarkan Pak Marsudi hingga menjabat sebagai Head of Regional JNE wilayah Jateng-DIY. Apa yang menjadikan JNE mampu bertahan di tengah gempuran para kompetitior? Pak marsudi memaparkan beberapa poin kunci.

Poin pertama, inovasi. Dengan hadirnya inovasi, JNE berupaya menawarkan kemudahan dan solusi bagi para pelanggan atau konsumen. Inovasi inilah yang menjadikan JNE terdepan, terpercaya, serta menghasilkan layanan yang unggul. Seperti sudah dijelaskan di atas, aplikasi MY JNE adalah salah satu inovasi yang dikembangkan JNE (7 magnificent of JNE), selain JNE-PopBox, @Box prepaid, JNE Super Speed, JNE Internasional Shipment,  layanan CD musik, terakhir JNE Trucking.

Poin kedua, kolaborasi dan sinergi. JNE berkolaborasi dengan dunia e-commerce dan pelaku bisnis online. Sebab, perkembangan e-commerce berdampak signifikan terhadap pertumbuhan JNE. Melalui sinergi dengan blogger, JNE yakin iklim bisnis Indonesia semakin baik. Blogger berperan sebagai reviewer, buzzer, dan juga endorser sebuah produk yang mana memberikan nilai tambah dan reputasi positif sebuah brand.

Poin ketiga, berbagi. Pak Marsudi menuturkan, 2,5% dari keuntungan yang dihasilkan JNE digunakan untuk sedekah. Sedekah ditujukan kepada anak yatim, kaum dhuafa, dan juga mereka yang membutuhkan. Dengan berbagi bertambah rizki. Sepakat?
***
Bagaimana pemirsa? Semoga jejak-jejak inspirasi dari narasumber di atas menjadikan kita berbenah ke arah yang lebih baik. Kita semakin persisten, inovatif, kolaboratif, serta kreatif dalam mengembangkan ide-ide dan juga life skill.

Saya tengok jam di layar ponsel. Ternyata waktu hampir mendekati jam 21.15 WIB. Detik dan detak berlalu. Tak terasa bincang inspiratif berlalu begitu cepat. Tahu-tahu sudah di penghujung acara.

Terakhir Qhachan akan mengumumkan pemenang live tweet competition (pemenang berdasarkan tweet teraktif) dan juga rate aplikasi MY JNE (pemenang diundi). Jeng...jeng...jeng. Jadi deg-degan. Saya berdoa dan memejamkan mata. Berharap bisa membawa pulang hadiah. Tak berselang lama, 2 pemenang live tweet competition diumumkan. Juara pertama mendapatkan smartphone (@dityatuxlin). Juara kedua mendapatkan bingkisan (@AriefRamadhan88). Untuk pemenang rate aplikasi juga mendapat bingkisan.

Ternyata eh ternyata, nama saya tidak nyangkut sebagai pemenang baik di live tweet competition maupun rate aplikasi MY JNE pemirsa. Hiks. Tapi tak apalah. Yang penting saya bisa pulang membawa kaos cantik dan 2 voucher ini. Yeeiiiii!!! Bisa belanja-belanja asyik di Indomaret. Proud Blogger. Saya suka tulisannya. Cakep kan kaosnya?
Suka kaos dan vouchernya. Dokumentasi pribadi.
Sebelum acara berakhir, Qhachan mewakili JNE mengucapkan terima kasih kepada para blogger yang telah meluangkan waktunya untuk hadir di event Harblognas JNE, "Menembus Batas Menjadi Inspirasi Bagi Negeri." harapan saya, semoga di usianya yang ke-26 tahun ini semakin banyak inspirasi yang ditularkan JNE. Always connecting happinessSee you next time
Sesi terakhir. Foto bersama blogger Jogja dan JNE. Dokumentasi ; Winda Carmelita

Minggu, 13 November 2016

Telkom dan Spirit Inovasi dalam Atmosfer Digital Indonesia

Mendung pekat. Langit kelam. Butir-butir hujan mulai membasahi Kota Budaya. Detik demi detik berlalu mencipta deras yang tak berkesudahan. Gelegar petir. Bunyi kecipak air. Bau tanah yang khas.

Ah, hujan mengurai kenangan. Bukan kenangan tentang mantan. Bukan. Hujan Bulan November ini mengingatkanku pada Meta, a partner in crime. Meta adalah partner asyik buat seru-seruan. Jika saja... Jika saja Meta masih di Jogja, mungkin aku bisa mampir ke kosnya barang sebentar. Ah sayang, dia sudah kembali ke Bumi Sumatra, selepas diwisuda awal tahun lalu. 

Teringat percakapanku dengan Meta Februari silam melalui telepon. 

“Meta, aku mau ngirim tugas kuliah, deadline malam ini, tapi koneksi internetku lelet banget. Bahkan tadi sempat no signal. Padahal aku baru beli kuota internet kemarin. Hiks.” 

 “Kok bisa?” 

“Entahlah. Mungkin cuaca sedang tidak bersahabat.” 

“Mampir aja ke kosku Arinta, di sini internetnya lagi kenceng-kencengnya. Ayo gih, mumpung hujan belum deras. Sekalian aja nginap di sini kalau mau. Aku ada oleh-oleh keripik pisang cokelat dan kopi Lampung lho.” 

Ah kombinasi yang perfect! Camilan, secangkir kopi hangat, dan internet. Siapa yang tak betah menikmatinya? Beruntung sekali Meta. Di kosnya ada wifi. Kenceng pula. Aku yang kerap fakir kuota internet sering nebeng di kosnya sekadar mendownload tugas kuliah atau menonton stand-up comedy via youtube. Jika aku menginap di kosnya, Meta pasti menyediakan stok camilan buat dimakan bersama. Ah, momen itu! 

“Internetmu kok lancar jaya meski hujan gini sih Met?” tanyaku kala itu. 

“Di sini sudah pake Indihome Ta. Jadi dalam kondisi apapun sinyal internet tetap stabil.” 

“Asik tahu. Mau dah tiap hari mampir ke kosmu dan ngerampok makanan...hahaha” Candaku kala itu. 

“Ah kamu Arinta, dasar predator. Enggak heran gendutan sekarang. Ingat berat badan Ta. Orang baper jadi mudah laper...ahahaha” Tawanya meledak. Terkekeh-kekeh. Sedikit meledek. 

“Ugh sial! Gendut katamu!” Aku pura-pura marah. Yang diujung telepon malah cengegesan. 

“Ayo gih cepat ke sini. Entar keburu hujan malah enggak jadi.” Akhirnya kututup telepon sembari bergegas ke kosan Meta. 

Itu dulu. Dulu saat Meta masih di sini. Di kota sejuta kenangan. Jogja. Sekarang Meta telah kembali ke kampung halaman. Merangkai episode baru di sana. 

Bagiku internet sangatlah berarti. Jika kuota internetku habis. Mati sudah! Aku kudu beli lagi. Kalau lagi enggak ada duit, aku cari-cari teman yang mau berbagi internet. Thetering atau apalah istilahnya. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Upss salah. Lebih baik enggak jajan daripada enggak beli kuota. Ada kuota internet, tapi sinyal lelet itu sama saja. Mending nyebur ke laut.

“Coba kamu ganti pakai Simpati. Dijamin antilelet. Lha aku Ta, selama KKN pakai itu. Padahal daerah tempatku KKN lebih terpelosok darimu. Tapi kecepatannya tetap stabil. Aku masih bisa facebookan dan twitteran. Recommended deh!” Ujar Meta ketika aku curhat mengenai kendalaku ketika KKN di Dukuh Blimbing, Kabupaten Gunung Kidul tahun 2014 silam. Semenjak itu, selama 2 bulan KKN aku memakai Simpati. Hingga kini aku masih setia dengannya. Eaaa.
Internet menjadikan hidup kita lebih praktis dan efisien. Kamu pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, freelance, pekerja kantor, pebisnis, apapun latar belakang dan profesimu pasti membutuhkan internet. Kirim dan simpan data atau file, berjejaring via media sosial, belanja (online), browsing, aktivitas apapun pasti menggunakan internet. Di era digital seperti sekarang ini, internet sudah seperti kebutuhan pokok. Yang terpenting, bagaimana kita menggunakankan media tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat dan berdampak positif. Sampai di sini sepakat?

Selain di kosan Meta, aku menemukan tempat nongkrong asyik dengan suasana cozy yang menyediakan akses internet cepat. Gratis pula. Jogja Digital Valley, demikian nama tempat tersebut. Jogja Digital Valley atau biasa disingkat JDV merupakan co-working space sekaligus digital startup Incubator dari Telkom. Ah, baiklah aku punya sedikit cerita. Dengarkan baik-baik.
Lokomotif ekonomi. Big size. Ikonik. Impactful. Demikan Prof. Rhenald Kasali menjelaskan 4 komponen utama sebuah powerhouse. Siapa yang tidak kenal Prof. Rhenald Kasali? Beliau seorang guru besar ekonomi, socialpreneur sekaligus penulis buku yang kerapkali mengulas topik-topik yang berhubungan dengan perubahan. Change! Ini sangat menarik. Dalam bukunya yang berjudul  Mutasi DNA Powerhouse, Prof. Rhenald memaparkan bahwasanya powerhouse merupakan sebuah kekuatan raksasa. Dalam hal ini, powerhouse bisa dikatakan sebagai sebuah rumah besar berbentuk badan usaha yang mengayomi puluhan ribu hingga ratusan ribu orang. Kehadiran suatu powerhouse berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebagai lokomotif ekonomi, dia kuat dan  powerful. Big size di sini artinya besar. Baik besar dalam jumlah SDM, dukungan teknologi, pangsa pasar, profit, pajak, pendapatan, dan sebagainya. Dia juga mampu menjadi ikon suatu bangsa. Terakhir, impactful. Langkahnya, baik maju ataupun mundur memiliki dampak cukup signifikan.

Telkom merupakan sebuah powerhouse yang bergerak di bidang informasi, telekomunikasi dan jaringan. Perjalanannya menembus rimba belantara di era yang semakin kompetitif seperti sekarang ini sangat berat. Tidak mudah. Bahkan berdarah-darah. BUMN dengan logo telapak tangan menggenggam bola dunia ini pun terus berbenah. Melangkah. Bergegas. Mendengarkan suara-suara perubahan. Sebab, Indonesia semakin digital. Sebagai perusahaan teknologi yang sudah makan asam dan garam puluhan tahun, Telkom sadar akan atmosfer digital Indonesia yang semakin menguat. Mata elangnya yang tajam dan visioner selalu awas. Telkom haruslah terdepan dalam hal inovasi.

Melalui sinergi dan kolaborasi quad-helix ABG-C (Academic, Business, Goverment, dan Community), Telkom yakin dan optimistis mampu membentuk ekosistem digital Indonesia yang kreatif, inovatif, dan memberdayakan. Inovasi bisa lahir dari dalam (internal perusahaan) dan dari luar (eksternal perusahaan). Human capital adalah aset. Maka dari itu, Telkom membuat program-program dan komunitas yang menumbuhkan jiwa digital kreatif di kalangan generasi muda Indonesia. Telkom kemudian menggandeng digital talent (startuper) untuk membuat terobosan-terobosan yang bersifat solutif.
Indigo Creative Nation contohnya. Indigo merupakan wujud nyata dan komitmen Telkom guna mendorong pertumbuhan industri digital kreatif Indonesia. Lewat Indigo, para digital talent akan mendapat dukungan melalui program inkubasi dan akselerasi bisnis. Tak lupa mulai dari tahap ideasi hingga pendanaan. Tema yang diusung di tahun 2016 ini yakni Building Strong Indonesia Digitalpreneur with Disruptive Mindset dengan tagline Grow Together Work Together.  Belum cukup. Telkom pun mengembangkan Digital Innovation Lounge (Dilo) yang tersebar di belasan kota besar di Indonesia serta Digital Valley (Diva) yang merupakan co-working space sekaligus tempat inkubasi dan akselarasi para digital talent (startuper). Khusus Digital Valley saat ini hanya ada di 3 kota besar, yakni Bandung, Jogja, dan Jakarta. Tenang saja, telkom memfasilitasi akses internet cepat, stabil, dan gratis kok baik di Dilo maupun Diva.

Pada masa-masa awal pendirian program Indigo, banyak suara-suara yang menyangsikannya. Skeptis. Meragukan kesuksesannya. Jika diibaratkan, program ini sekadar hangat-hangat tahi ayam. Namun, seiring berjalannya waktu, ditambah atmosfer digital Indonesia yang semakin menguat, Telkom berhasil menelurkan berbagai startup dan produk digital yang inovatif, kreatif, dan juga solutif. Seperti yang diulas Tech In Asia berikut, inilah daftar 9 startup yang terpilih pada program Indigo batch 1 tahun 2016. Sedangkan untuk batch 2 ada 13 startup yang berhasil lolos. Bagaimana ide-idenya? Unik dan menarik bukan?

Indigo Creative Nation sendiri terinspirasi dari Silicon Valley yang menyebarkan semangat kolaborasi dan berbagi yang berasal dari komunitas untuk komunitas. Edukasi dan awarding untuk produk digital kreatif saja belumlah cukup, harus ada upaya pembinaan para digital talent.  Telkom sadar akan hal itu. Maka di tahun 2016 ini Telkom mendukung pemerintah untuk melahirkan 1000 teknopreneur hingga tahun 2020 dengan menggandeng akademisi dan masyarakat. Misalnya nih bekerjasama dengan kampus ITS, Telkom mendirikan Digital Innovation Lounge Surabaya. 
Ada 6 kategori produk yang bisa dipilih dan dikembangkan oleh startup
Kalau kamu ada di Jogja sesekali mampirlah ke Jogja Digital Valley (Jogdiva). Untuk mendapatkan akses internet cepat dan gratis, kamu kudu daftar jadi member dulu. Sebab akses masuk sudah menggunakan fingerprint scanner. Otomatis admin membutuhkan data lengkap kamu. Apa yang didapat setelah jadi member? Banyak banget benefitnya. Salah satunya kamu bisa sewa ruang buat meeting, bahkan gratis lho. Bisa juga ikut event seru seperti workshop, seminar, dan talkshow bertema teknologi tentunya. Tentunya dari event-event tersebut kamu bisa menambah jejaring, pengalaman, pengetahuan dan skill. Komunitas pun diperkenankan berbagi ide dan pengetahuannya di sini. Misal nih, Jogdiva memperkenankan Gamelan (komitas game developer Jogja) mengadakan sesi diskusi terkait pengembangan game.

Bulan lalu, di event JDV #TechTalk, Jogdiva menghadirkan beberapa narasumber yang mengulas Financial Technology & Cyber Crime. Narasumber tersebut di antaranya dari Telkom, Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Pusat Studi Forensik Digital Universitas Islam Indonesia (PUSFID UII), dan pelaku startup. Nah, khusus bulan ini pas aku liat di websitenya Jogdiva, ada seminar dari Kominfo terkait penggunaan tanda tangan digital beserta keamanan dan keasliannya terhadap suatu data atau dokumen elektronik. Ternyata enggak sembarangan lho penggunaan digital signature ini. Ada semacam kunci kriptografisnya yang sifatnya privat dan rahasia.

Masih berkaitan dengan Financial Technology. Perlu diketahui pemirsah, Financial Technology atau Fintech merupakan topik yang sedang hangat diperbincangkan terkait bidang inovasi digital di sepanjang tahun 2016 ini. Sepertinya kita belum cukup familiar dengan terminologi Fintech ya? Secara sederhana, FinTech dapat dikatakan sebagai perusahaan di bidang teknologi yang menawarkan layanan atau produk yang berhubungan dengan dunia finansial. Mengutip dari Accenture Asia Pasific, FinTech merupakan sebuah segmen dari suatu perusahaan atau startup yang memaksimalkan penggunaan teknologi guna mengubah, mempercepat, dan mempertajam berbagai aspek dari layanan keuangan.

Telkom melalui anak perusahaanya Telkomsel menawarkan layanan keuangan digital selayaknya dompet elektronik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti bayar tagihan, kirim pulsa, bayar transaksi di suatu ecommerce, dan sebagainya. FinTech Telkomsel ini bernama TCash. Aku termasuk pengguna layanan fintech bernama TCash tersebut.

Untuk menjadi pengguna Tcash kamu harus memakai kartu dari Telkomsel, entah Simpati, Kartu Halo atau Kartu As. Tcash memudahkan aku membayar tagihan listrik, aku enggak perlu perlu lagi mengantri lama di kantor pos. Selain itu bagian yang asyik adalah banyak promo menarik dan diskon gede (terkadang sampai 50%) dari merchant yang bekerjasama dengan Tcash.
Tcash dapat diibaratkan sebagai dompet digital
Indonesia semakin digital. Sekali lagi, teknologi memudahkan hidup kita. Bahkan sebelumnya tak terpikirkan tentang dompet elektronik dan layanan keuangan digital. Teknologi dan inovasi hadir membawa realitas baru.

Aku beruntung sekali bisa bergabung di komunitas Jogja Digital Valley. Bisa mengikuti event-event keren. Bisa memperoleh pengetahuan terkait inovasi digital Telkom dan para startuper. Dapat akses internet cepat dan juga wifi.id.

Ada secuil alasan kenapa aku betah seharian nongkrong di sini. Jogdiva itu tempatnya cozy banget. Cocok buat freelance dan digital talent. Ada kafenya. Aku bisa ngenet sembari menikmati segelas good day dan 3 bungkus chocolatos. Kursinya empuk dan nyaman. Udah gitu aku bisa mendengarkan lagu-lagu terbaru yang lagi ngehits dan  menonton kanal tv lokal maupun internasional via USEETV Indihome. Jogdiva juga termasuk area yang menjangkau wifi.id. Dengan wifi.id kamu bisa menikmati internet ngebut sampai 100 Mbps. Gimana enggak asyik?
Wifi.id bisa diakses di Jogja Digital Valley
Aku pakai wifi.id buat nonton video, streamingan, atau kalau ada live seminar di telegram dan sebagainya. Kayak beberapa waktu lalu ada Webinar dari Inspira tentang bagaimana studi di USA. Wah pengen banget tahu tentang itu, meski belum ada rencana buat study abroad dalam waktu dekat ini. Tapi minimal aku mendapatkan informasi-informasi yang harus aku persiapkan ketika mau lanjut studi ke USA.

Paling sebel kalau lagi nonton video terus buffering. Nah solusiku ya pakai wifi.id ini aja. Lagi seru-seru nonton malah loading. Lagi asyik-asyik download malah failed. Bikin bete. Enggak mau dah kejadian kayak gitu terulang lagi. Sudah putuskan saja! Ya sejak itu aku putuskan pakai wifi.id. Aku memanfaatkan wifi.id untuk mengunduh dan mengoleksi video-video presentasi TED Talks edisi Bahasa Inggris. Lewat video TED Talks tersebut, aku belajar budaya negara lain serta bagaimana gaya komunikasi seseorang.Ya siapa tahu kan nanti dapat kesempatan ke USA atau Eropa, jadi udah punya bekal bahasa.
Selain di Jogja Digital Valley, kita bisa menikmati akses wifi.id di wifi.id corner Kotabaru Yogyakarta
Di youtube kan banyak banget tuh video tutorial, baik tutorial desain, masak, hijab, creative DIY making project, dan sebagainya. Jadi kita bisa belajar mandiri sekaligus mengasah keahlian lewat video. Bicara tutorial, aku jadi ingat Anggara. Pertama kali ketemu dia ya di Jogdiva ini. Ternyata Anggara seorang desainer grafis 3D. Anggara menggunakan Autodesk Maya untuk membuat karakter-karakter animasi dan game. Ya Anggara menjual hasil karyanya lewat forum-forum internasional. Dia dibayar dengan dollar. Buah kerja kerasnya terbayar lunas. Sebelumnya Anggara harus berlatih mendesain karakter 3D selama berjam-jam di ruang kosnya yang sempit. Anggara belajar desain 3D secara autodidak via youtube dan vimeo. Anggara memanfaatkan jaringan wifi di kosnya untuk belajar dan mengasah keahlian. Kegiatannya tersebut dilakukannya selama setahun. Anggara fokus. Hingga dia bisa menikmati jerih payahnya. Hasil memang tak akan mengkhianati proses. Mantap ya si Anggara ini?

Kamu. Iya kamu. di era yang semakin digital seperti sekarang ini, apa hal-hal yang sudah berhasil kamu kembangkan?
Voucher wifi.id edisi Slank
Ini voucher wifi.id-ku. Gambar cover depan Slank. Ini edisi khusus. Kayaknya sudah enggak keluar lagi deh sekarang. Meskipun demikian masa aktif voucher tersebut sampai 31 Mei 2017. Harganya murah kok, dengan Rp 5.000 kita bisa menikmati akses internet cepat hingga 12 jam. Puas-puasin deh nonton youtube tanpa buffering.

Terima kasih Telkom. Telkom begitu adaptif terhadap perubahan. Telkom begitu memahami kebutuhan kami, para generasi digital. Aku berharap ke depannya semakin banyak inovasi yang dikembangkan Telkom. Berkaryalah untuk negeri! #IndonesiaMakinDigital

 Tabik!