Senin, 10 Oktober 2016

#Batik Indonesia : Dari Jogja untuk Dunia

Dalam 3 detik, apa yang Anda bayangkan ketika saya menyebut kata Jogja? Gambaran apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendengar Jogja? Jogja sebagai kota budaya? Jogja kota pelajar? Kota industri kreatif? Jogja kota Gudeg? Jogja kota wisata? Malioboro? Sri Sultan Hamengkubuwono dan tradisi keraton? Bakpia? Angkringan? Atau jangan-jangan Anda mengingat lirik lagu yang Yogyakarta yang pernah dibawakan Kla Project? Lagu yang tenar di tahun 90-an dan membuat baper anak muda pada masa itu. Masih ingatkah liriknya?

Terhanyut aku akan nostalgi...
Saat kita luangkan waktu...
Nikmati bersama...
Suasana Jogja...
Wah, Anda jadi teringat kenangan masa lalu. Namun, saya akui, selain syahdu, lagu tersebut masih cukup populer dalam konteks kekinian. Jika saya rindu suasana Jogja, saya akan menyetel lagu ini. Lagu ini merekam tiap jengkal kenangan saya di Kota budaya. Baiklah, saya ulangi lagi. Apa yang Anda ingat tentang Jogja? Apa yang melekat dan menjadi identitas dari Jogja itu sendiri? Banyak! Saya rasa Anda bisa menjawabnya sendiri. 

Begitu kuatnya local branding yang melekat pada kata Jogja sehingga siapapun bisa mendeskripsikannya meski belum pernah sekalipun berkunjung ke kota ini. Jogja istimewa. Inilah branding anyar yang dikemas untuk menguatkan positioning Jogja pada dunia.  Di mata publik (termasuk netizen), Jogja istimewa memukau dengan  beragam atraksi seni dan budaya. Tradisi dan budaya adalah kekayaan intelektual sekaligus warisan leluhur yang wajib dijaga kelestariannya. Karena hal tersebut merupakan keunggulan sekaligus aset berharga daerah. Ada beragam jenis kekayaan daerah yang mampu menjadi intelectual property dan ikon Yogyakarta. beberapa di antaranya misalnya berupa karya arsitektur (Candi Prambanan), kuliner (gudeg), dan seni (batik).

Hmmm... batik. Saya sendiri jatuh hati pada salah satu warisan adiluhur nusantara bernama batik. Jogja pun mencanangkan diri sebagai kota batik dunia. Maka dari itu, untuk ulasan kali ini saya akan fokus membahas satu topik saja yakni batik. Mengapa batik? Tidak salah lagi batik merupakan salah satu hasil kreativitas turun-temurun bangsa Indonesia. Begitu kuat daya magis dan pesona batik sehingga membuat Negeri Tiongkok berupaya meniru konsep, memproduksi batik, hingga menjualnya ke Indonesia dengan harga yang lebih murah. Negeri Jiran Malaysia pun sempat mengklaim bahwasanya batik merupakan bagian dari kekayaan intelektual miliknya. Bangsa ini pun resah dengan klaim tersebut. Bangsa Indonesia tidak terima dan menggugatnya.

Pemerintah tidak diam. Dengan perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan pemerintah Indonesia mengajukan batik sebagai representasi warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan tak benda (masterpieces of the oral and intagible cultural heritage of humanity) melalui Badan PBB UNESCO. Puncaknya pada tanggal 2 Oktober 2009 batik dikukuhkan sebagai representasi budaya tak benda warisan manusia. Pengukuhan ini sekaligus pernyataan bahwasanya setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Mengapa batik masuk kategori sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) bukan warisan budaya benda (tangible cultural heritage) seperti candi-candi dan situs-situs peninggalan purbakala? Padahal batik bisa dirasakan secara fisik dan kasat mata oleh indera manusia. Secara fisik memang batik bisa dikatakan sebagai benda cagar budaya yang bentuknya bisa dirasakan dan disentuh. Namun lebih dari itu, dalam setiap goresan, batik mempunyai makna filosofis tersendiri. Selain mengandung makna filosofis, batik juga memiliki ragam pengetahuan yang terjalin di dalamnya, nilai-nilai, motif, serta kajian historis yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Hal-hal semacam ini tak dapat diindera manusia, akan tetapi dapat dirasakan keberadaannya. Tergurat dari tiap kain yang dibentangkan oleh para perajin batik. Nilai-nilai dan pengetahuan itulah yang melekat. Maka dari itu batik digolongkan sebagai intangible cultural heritage. Selama nilai-nilai dan pengetahuan tersebut dipertahankan dari generasi ke generasi, maka batik akan terus eksis. Status intangible cultural heritage tersebut tak bisa dicabut bahkan diklaim oleh pihak manapun di dunia ini.

Menurut Drs. Hamzuri dalam buku Batik Klasik, batik merupakan lukisan atau gambar pada kain mori yang dibuat dengan menggunakan alat bernama canting. Pak Mudjib, guru muatan lokal membatik saya ketika SMP pernah berujar bahwasanya batik dapat dikatakan secara sederhana sebagai Buat titik-titik. Membatik berarti menciptakan titik-titik atau garis yang terjalin padu. Titik-titik atau garis tersebut saling dihubungkan melalui goresan canting berisi malam panas hingga membentuk pola tertentu seperti bentuk binatang, tanaman, dan sebagainya.

Indonesia memiliki beraneka ragam motif atau corak batik. Akan tetapi setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pekalongan, Solo, Cirebon, Banyumas, Madura, Jepara, Kudus, dan Jogja merupakan segelintir daerah yang menghasilkan karya seni batik.

Dulu batik digunakan sebagai pakaian khusus untuk kaum bangsawan kerajaan dan keraton. Tidak sembarangan orang mengenakannya. Seni batik dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Di era pra kemerdekaan Indonesia, banyak pengusaha lokal yang tergabung dalam serikat dagang memproduksi dan menjual batik sebagai produk andalan. Masih ada kesan ekslusif di dalamnya dan penjualannya pun masih terbatas pada golongan tertentu seperti para pejabat dan priyayi. Di era modern seperti sekarang ini, batik memiliki kesan inklusif. Siapapun bisa memilikinya. Beragam orang dengan usia dan latar belakang berbeda menyukai batik. Pada hari tertentu, sekolah-sekolah di Jawa mewajibkan untuk mengenakan seragam batik. Peruntukan batik pun tidak terbatas pada pakaian saja, tetapi meluas pada tas, sepatu, boneka, jok motor, stiker, dan aneka aksesoris penunjang gaya hidup. Bahkan beberapa seniman dan desainer menampilkan batik di berbagai festival, pagelaran seni, dan fashion show baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Intinya ada diversifikasi dan inovasi pada batik itu sendiri.
Festival seni daerah menggunakan batik. Sumber : Karnaval Batik 
Lalu bagaimana dengan Batik Jogja sendiri? Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari gunadarma.ac.id, batik di daerah Yogyakarta dikenal sejak zaman kerajaan Mataram 1. Pada masa itu, proses pembatikan terbatas hanya lingkungan keraton di mana pengerjaannya dilakukan oleh wanita-wanita pengiring ratu. Kombinasi batik dan lurik digunakan ketika keraton mengadakan hajatan atau upacara resmi kerajaan. Desa Plered dikenal sebagai desa pembatikan pertama.

Perkembangan desa atau kampung batik kian meluas. Selain dijadikan sentra penghasil batik tulis, biasanya kampung batik dijadikan sebagai desa wisata sekaligus tempat edukasi batik bagi para pengunjung. Desa Giriloyo yang terletak di Imogiri Bantul misalnya. Ternyata kegiatan membatik sudah berlangsung di desa ini semenjak pembangunan kompleks keraton di tahun 1654. Keterikatannya dengan keraton membuat para perajin yang notabene abdi dalam atau rakyat biasa memperoleh pengetahuan khusus tentang seni dan proses pembuatan batik. Tradisi dan pengetahuan tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagaimana? Menarik bukan sedikit ulasan tentang batik? Batik bagian dari warisan budaya Indonesia dan juga Yogyakarta wajib dijaga kelestariannya. kalau tidak generasi muda sebagai generasi penerus siapa lagi? Barangkali kisah inspiratif berikut membuat kita semakin mencintai batik sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia untuk dunia.
Anak muda itu bernama Nova Suparmanto. Nova merupakan lulusan Universitas Negeri Yogyakarta jurusan pendidikan  teknik informatika dengan predikat cum laude di tahun 2013. Di usia yang masih muda telah banyak prestasi dan inovasi yang telah ditorehkan. Selama masa kuliah, Nova aktif di berbagai organisasi kampus. Dalam berbagai kesempatan, Nova kerap kali diundang untuk mempresentasikan gagasan-gagasannya. Kira-kira apa inovasi yang diciptakan Nova sehingga berprestasi baik di taraf nasional maupun internasional serta mampu membangun PT. Putra Multi Cipta Teknikindo? Tercatat sudah 55 penghargaan diraihnya.

Apa jadinya jika suatu tradisi atau budaya bertemu teknologi? Nova yang sangat mencintai batik dan juga dunia teknologi pun berpikir. Harus ada inovasi yang memberikan solusi! Inovasi yang berhasil Nova ciptakan berupa kompor membatik Astoetik (Auto-Electric Stove for Batik). Inovasi inilah yang mengantarkan Nova menjadi jawara Mandiri Young Technopreneur 2013 untuk kategori produk nondigital. Kompor batik tersebut menggunakan energi listrik sehingga sangat ramah lingkungan. Inovasi Astoetik mampu menghemat energi listrik hingga 30-40% dibandingkan produk lain yang sejenis. Suhunya pun bisa diatur secara manual atau otomatis. Kompor listrik ini dikemas dengan sangat menarik. Terdapat aksen batik yang menjadi ciri khasnya. Nilai ekonomis dan estetikanya terlihat jelas bukan?
Kompor Batik Astoetik. Sumber : Nova Suparmanto
Kompor Batik Astoetik. Sumber : Nova Suparmanto
Kompor batik konvensional menggunakan minyak tanah sebagai bahan energinya. Kelemahan dari kompor minyak tanah adalah nyala api yang kadang tidak merata di sekitar wajan. Kadang ada bagian yang nyala apinya terlalu besar, sebagian yang lain nyala apinya kecil. Sisa pembakaran dari kompor konvensional menimbulkan polusi udara (tidak ramah lingkungan) sehingga tidak baik untuk kesehatan para perajin batik. Selain itu, bahan bakar minyak tanah sudah mulai langka di pasaran. Jikapun ada, harganya cukup mahal. Alasan-alasan ini yang membuat Nova dan rekan berinisiatif membuat kompor batik Astoetik.
Kompor Batik Astoetik. Sumber : Nova Suparmanto
Tahun 2016 ini, Nova meluncurkan satu inovasi lagi berupa canting listrik. Nova pun membuka kesempatan kepada siapapun yang ingin belajar membatik. Datang aja ke workshopnya yang terletak di Desa Jeblog, Kasihan Bantul. dengan senang hati Nova dan tim akan memandu proses membuat batik dari awal (pembuatan motif) hingga proses akhir (pengeringan).

Nova meyakinkan bahwa kegiatan membatik bukan untuk orang tua saja, tetapi anak muda pun bisa melakukannya. Membatik itu mudah, asal dilakukan dengan tekun dan telaten.
Membuat batik tulis menggunakan Kompor batik Astoetik. Sumber : Sanggar Batik Astoetik
Workshop Batik. Sumber : Sanggar Batik Astoetik
Kisah Nova dalam menemukan inovasi kompor dan canting listrik untuk membatik sangat menginspirasi kita semua. Dari situ kita bisa belajar bahwa gagasan-gagasan sederhana yang direalisasikan mampu memberikan kontribusi pada masyarakat luas.

Ada beragam gagasan terkait tradisi dan budaya, jika tidak direalisasikan sungguh disayangkan. Apalagi jika gagasan tersebut sangatlah inovatif, bermanfaat, dan memiliki nilai komersil yang cukup tinggi. Perhatikan gambar di bawah. Gambar tersebut adalah salah satu inovasi batik bermotif struktur kimia. So, tradisi untuk inovasi kenapa tidak?
Inovasi batik bermotif struktur kimia. Sumber : Aku dan kimia
Bagaimana cara mengedukasi agar tradisi membatik tetap bertahan hingga generasi selanjutnya? Banyak cara bisa dilakukan untuk menggaet anak muda agar tertarik. Saya beri beberapa contoh. Pertama, perkenalkan batik melalui kunjungan museum (misal Museum Batik Yogyakarta) atau sentra edukasi batik (desa batik). Yang kedua, jadikan seni membatik sebagai muatan lokal atau ekstrakurikuler di sekolah. Berikutnya, ajak anak muda mempelajari pengetahuan membatik melalui workshop atau seminar, diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut rasa cinta anak muda terhadap kegiatan membatik semakin meningkat.

Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2016 adalah wadah untuk memperkenalkan Batik Jogja kepada dunia. Pada tanggal 18 Oktober 2014 World Craft Council (WCC) menobatkan Jogja sebagai Kota Batik dunia. Tentu saja predikat dan reputasi ini menjadi kebanggan daerah. Adalah suatu kehormatan menjadi penyelenggara perhelatan akbar Jogja International Batik Biennale 2016.

Tak dapat dipungkiri bahwasanya perhelatan akbar JIBB 2016 turut melestarikan #BatikIndonsia sebagai Intangible Cultural Heritage. Banyak acara menarik selama JIBB 2016 yang berlangsung dari tanggal 12 hingga 16 Oktober 2016. Jika Anda luang, sempatkanlah mampir di event JIBB 2016. So, dalam 3 detik, jika ingat Jogja, ingat pula batiknya. Kuatkan local branding dan jadikan Jogja sebagai Kota Batik Dunia!
Sumber bahan tulisan :
1. World Class Technopreneur. novasuparmanto.com
2. Jogja Internasional Batik Biennale (JIBB) 2016

11 komentar:

  1. Suka banget sama tulisannya Mbak. Runut dan lengkap! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mas Dani Rachmat atas apresiasinya :)

      Hapus
  2. Wahhhh jadi ingin belajar membatik. keren artikelnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha tuh kan tuh kan. Ada yang pengen membatik jadinya :p

      Hayukkk mampir ke JIBB 2016 say. Aku pengen ke sana nih :)

      Hapus
  3. Seperti biasa, tulisan Arinta, selalu ada unsur edukasinya. Walaupun agak berat (untuk ukuran saya), tapi gaya bahasanya selalu enak dibaca. Mantap :)

    Saya salut dengan kota Jogja,juga dengan para pemudanya. Saya sering denger, banyak pemuda jogja yang aktif melestarikan kebudayaan lama kotanya.

    Mudah-mudahan deh semua pemuda di negeri ini bisa mencontoh. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya insya allah banyak anak muda Jogja yang melestarikan tradisi dan budayanya. Saya sendiri juga senang tinggal di kota ini. I love jogja so much.

      Amin semoga banyak yang mencontoh. Terima kasih Mas Agia telah mampir :)

      Hapus
  4. Sebagai generasi muda jadi pengen bener-bener melestarikan batik

    Ngomong2 tentang batik jadi nostalgia nih mba, dulu waktu SMP pernah disuruh buat batik canting yang memakan waktu lamaaa banget .__.

    BalasHapus
  5. Sekarang batik banyak yang keren. Setelah jadi pakaian atau lainnya pun keren dan kreatif. Mudah-mudahan generasi muda banyak yang tertarik untuk melestarikan batik :)

    BalasHapus
  6. Wah keren..
    ane sebagai pecinta batik turut bangga :-)

    BalasHapus
  7. Pas baca ini, saya sedang ke sebuah acara blogger dengan memakai batik 😄

    BalasHapus
  8. Pas baca ini, saya sedang ke sebuah acara blogger dengan memakai batik 😄

    BalasHapus