Minggu, 04 Desember 2016

SRE bersama Yamaha Riding Education

SRE? Wah apa lagi itu? Yups guys SRE yang saya maksud merupakan singkatan dari Safety Riding Education atau edukasi mengenai cara berkendara yang aman. Berkendara menggunakan sepeda motor maksudnya. Pada tanggal 27 November 2016 saya bersama rekan blogger dan vlogger Jogja mendapat kesempatan mengikuti Safety Riding Education yang diselenggarakan oleh Yamaha Riding Education. Tempatnya berlokasi di Stadion Maguwoharjo. Wah terima kasih saya ucapkan kepada Mas Wawan atas kesempatan ini.
Antrean tampak mengular. Dokuemntasi pribadi
Nah apa itu Safety Riding education? Mengapa pengguna sepeda motor perlu sekali berkendara yang aman? Kecelakaan motor yang cukup tinggi di Indonesia dan angkanya terus meningkat menjadikan pengendara perlu mendapat edukasi ini. Yamaha sangat care terhadap tingginya kasus kecelakaan akibat kurangnya safety riding di Indonesia.

Acara ini berlangsung dari pagi hingga menjelang sore. Ada kelas teori dan kelas praktik di lapangan. Di kelas teori ada beberapa instruktur yang berbagi materi tentang bagaimana berkendara cara berkendara yang aman yang tepat serta contoh-contoh sikap di jalanan yang tidak menunjukkan safety riding. Dalam slide presentasi ditampilkan pula video-video kecelakaan karena pengguna tidak mencerminkan sikap safety riding, seperti misalnya berkendara tanpa menggunakan helm atau berboncengan melebihi batas sewajarnya, 3 atau 4 orang dalam satu motor.
YRA Program for kids and adults. Dokumetasi pribadi. 
Kadang saya juga ngeri sendiri kalau melihat anak kecil tanpa helm berkendara motor di jalan sambil ngebut. Pasalnya, saya dan ayah saya pernah berpapasan dengan anak-anak dengan gaya berkendara seperti ini. Anak SD pula pemirsa! Saat itu saya membonceng ayah, stang motor ayah saya kesenggol stang motor anak SD tadi. Ayah saya bisa mengendalikan situasi walau kami hampir jatuh. Saya lebam di bagian lengan karena kena stang motor anak SD tersebut. Ayah saya lebih parah. Nah si anak SD terjatuh dalam kondisi berdarah. Saya sempat ngeri menyaksikannya. Kami dihadang massa saat itu. Sungguh situasi yang sangat mencekam. Saya berpikir semoga saya dan ayah saya tidak kenapa-napa (saya masih ingin hidup dan tidak ingin berurusan dengan polisi). Emosi massa yang mengerumuni sudah mulai naik. Namun untungnya setelah memberi penjelasan, salah satu dari mereka berusaha membuat suasana kondusif. Ayah saya diberi nomor telepon keluarga anak kecil tadi agar bisa mengganti kerugian yang terjadi. Ugh yang salah siapa, yang kena siapa. Anak SD tersebut dengan seragam yang masih menempel di bajunya ngebut tanpa helm. Mungkin kurang berhati-hati sehingga tanpa sengaja menyenggol stang motor ayah saya. Beberapa saat kemudian kami diberi kesempatan melanjutkan perjalanan ke Jogja. Kami juga tidak berurusan dengan polisi karena masalah diseleseikan dengan kekeluargaan. 

Inilah sedikit cerita. Sedikit perhatian dan peringatan dari orangtua agar jangan sembarangan membebaskan anaknya berkeliaran liar menggunakan motornya di jalan. Selayaknyanya orangtua memberikan panduan berkendara yang baik dan benar. Jika belum cukup umur jangan dipaksakan, apalagi sampai menembak SIM segala. Kan kasihan kalau ada kejadian seperti yang saya alami tadi. Kedua belah pihak sama-sama terluka. 

Nah lanjut ke materi safety riding yak....
Salah satu instruktur, Mas Danang sedang memaparkan materi Safety riding.
Berdasarkan pemaparan Mas Danang, ada 3 faktor yang menjadi penyebab kecelakaan. Ketiga hal tersebut meliputi faktor manusia, kendaraan, kondisi lingkungan atau jalan. Dalam berkendara, kita kudu bisa mengendalikan emosi selama berkendara. Usahakan fokus. Jaga kecepatan berkendara sesuai batas sewajarnya yang bisa dilakukan. jangan arogan, apalagi kebut-kebutan buat ajang pamer kecepatan. Kita juga kudu mengenal karakter motor kita seperti apa. Check kelengkapan dan perawatannya apakah sudah memadai atau belum. Lingkungan dan kondisi jalan juga bisa berpengaruh terhadap kecelakaan lho guys. Misal kondisi jalan yang licin karena terguyur hujan atau cuaca berkabut yang menghalangi penglihatan pengendara. 

Dari ketiga faktor tesebut faktor manusia menjadi penyebab utama kecelakaan. Itu berkaitan dengan bagaimana pola dan mindset yang dibangun ketika berkendara (safety mind). Jika seseorang mengenal karakter motornya dengan baik, merawatnya serta sadar akan peraturan lalu lintas yang ada maka dia bisa menimalkan angka terjadinya kecelakaan. Coba deh perhatikan, meme-meme yang sering beredar mengenai ibu-ibu matik sein kiri belok kanan, ternyata memang benar adanya. Saya pernah menjumpai hal yang semacam itu di jalan. Pokoknya banyak banget hal yang patut diperhatikan ketika berkendara di jalanan guys! 

Next, bagaimana praktiknya di lapangan? Beberapa youtuber atau motovlogger Jogja mengabadikan momen-moment tersebut dalam videonya. Mulai dari awal hingga akhir. Saya ambil contoh dari videonya Bro Sutopo AKA Gondes Motovlog. Watch this guys!



Sabtu, 26 November 2016

Jejak-Jejak Inspirasi di Blogger Gathering #HarblognasJNE

Dunia bergerak. Banyak hal berubah. Begitupun dengan teknologi, lanskap bisnis, dan juga ekonomi. Sekarang kita sudah memasuki era ekonomi digital. Begitu kuatnya pengaruh teknologi sehingga banyak bisnis memanfaatkan hal tersebut untuk mendongkrak omset dan profit. Semua serba digital. Digitalisasi mengubah berbagai aspek, termasuk digital lifestyle, perilaku konsumen, bagaimana entitas bisnis menjalankan aktivitasnya dan sebagainya. Dengan sentuhan jari melalui layar gawai yang kita miliki, kita tak perlu repot-repot ke supermarket atau restoran hanya untuk berbelanja atau order makanan. Tinggal klik-klik, pilih menu pada galeri, transfer melalui ATM, mobile banking, atau alat pembayarannya lainnya, beberapa waktu kemudian barang yang kita pesan sudah diantar melalui jasa kurir. Praktis dan efisien bukan? Teknologi memudahan hidup kita. 

Dalam kurun satu dasawarsa terakhir, perkembangan teknologi membuat pertumbuhan e-commerce melesat. Banyak startup atau perusahaan baru bermunculan. Bisnis online menjamur. Siapapun bisa berjualan di ranah maya. Tua muda bukan lagi persoalan. Emak-emak rempong, anak sekolahan, hingga mahasiswa pun cukup banyak yang melakukan aktivitas ini, berjualan online. Di antara mereka ada yang menjual melalui website yang dikelola secara profesional, ada juga yang memanfaatkan akun media sosial untuk mempromosikan produk-produk andalannya. Saya sendiri punya teman yang menjual produk fashion melalui akun facebook dan instagramnya. 

Berbicara mengenai e-commerce dan bisnis online, pastinya melekat dong dengan bagaimana cara pengantaran suatu barang hingga bisa sampai ke tangan konsumen dengan selamat dan tepat waktu. Selamat dan tepat waktu maksudnya barang yang dikirim utuh, tidak pecah, dan sampai ke tujuan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kita tentunya butuh perusahaan ekspedisi dan logistik yang kredibel dan bisa dipercaya. JNE misalnya. Berdasarkan pengalaman, beberapa e-commerce tempat saya berbelanja online menggunakan jasa JNE. Dua atau 3 hari setelah saya melakukan pesanan, barang sampai ke tempat saya dengan kondisi baik. Saya tentunya sangat puas dengan hal ini. 
Penimbangan dan pengepakan barang di JNE. Sumber : kontan.co.id
JNE merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa kurir ekspedisi dan logistik yang memiliki pangsa pasar cukup besar di Indonesia. JNE berdiri pada tanggal 26 November 1990 di bawah naungan PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir dengan fokus pada pengiriman domestik dan internasional. Kiprahnya melang melintang di bidang ini sudah tidak diragukan ini. Usianya sudah lebih dari seperempat abad. Ya pada tanggal 26 November 2016 ini, JNE genap berusia 26 tahun. 26 tahun JNE mewarnai negeri. 26 tahun JNE merajut kisah. Sungguh sebuah perjalanan panjang yang sarat dengan berbagai pengalaman.

Demi berbagi kebahagiaan di usianya yang sudah menginjak 26 tahun, JNE memberikan promo Hari Bebas Ongkos Kirim atau Harbokir selama 2 hari berturut-turut, yakni dari tanggal 26-27 November 2016. Yeiiii! Tentunya para online shop dan kamu yang akan mengirim barang pada tanggal tersebut bakalan seneng nih. Iya enggak?

Lanjut...

Nah, untuk meningkatkan kualitas layanannya, JNE pun melakukan berbagai inovasi. Salah satunya dengan meluncurkan aplikasi My JNE yang bisa diunduh di Play Store. Melalui aplikasi tersebut, kamu bisa mengecek informasi tarif JNE di seluruh Indonesia sekaligus tracking kiriman. Selain aplikasi My JNE, JNE juga mengembangkan layanan PESONA atau Pesanan Oleh-Oleh Nusantara. Program PESONA tersebut bertujuan untuk memberdayakan dan meningkatkan kualitas daya saing pelaku Usaha, Mikro, Kecil, menengah, dan Koperasi (UMKMK), terutama pelaku usaha yang fokus di industri kuliner. Saat ini sudah ada sekitar 200 UMKMK hasil kerjasama dengan pihak JNE yang menawarkan lebih dari 3000 jenis kuliner lokal.
Pada tanggal 22 November lalu, bertempat di Plaza Senayan Jakarta, JNE mengadakan event "JNE Media & Blogger Gathering : Local Heroes Go Internasional." Adapun tema yang diusung yakni "26 Tahun JNE Menginspirasi Negeri." Dalam event tersebut JNE menghadirkan narasumber keren yang merupakan pelaku usaha di bidang bisnis online. Mereka adalah Jaya Setiabudi (founder yukbisnis.com) dan Ria Sarwono (brand & marketing of Cotton Ink). Pada tanggal tersebut linimasa twitter saya dipenuhi kicauan dan hestek #JNELocalHero. Sampai jadi trending topic coba. Mantap ya blogger jakarta. 
Jaya Setiabudi at JNE Media & Blogger gathering 2016. Sumber  : @tuti-utut 
Jika di Jakarta sukses menyelenggarakan event semacam itu, demikian pula di Yogyakarta. Kebetulan seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 19 November 2016, JNE mengajak blogger Jogja untuk menghadiri acara serupa. Mendengar kabar ini tentu membuat saya bersuka cita. Masih seputar inspirasi. Jika di Jakarta, JNE mengambil subtema "Local Heroes Go Internasional," dengan tema utama "26 Tahun JNE Menginspirasi Negeri," maka di Jogja tema yang diusung adalah "Menembus Batas Menjadi Inspirasi bagi negeri."

Adakah jejak-jejak inspirasi yang bisa dipetik?
Senja itu saya sudah bersiap menuju Hotel Harper Mangkubumi. Di sana ada sebuah event yang diselenggarakan oleh perusahaan jasa ekspedisi dan logistik terbesar di tanah air, apalagi kalau bukan JNE. Berdasarkan notifikasi yang saya terima di email, registrasi dimulai pada pukul 18.30. Tentu saja saya tidak boleh telat. Hotel Harper letaknya sendiri tidak jauh dari Tugu Jogja. Ini kali ketiga saya berkunjung ke Harper untuk memenuhi suatu undangan. Yang saya suka dari Harper, selain makanannya yang sangat yummy adalah desain interiornya yang cantik. Suasananya juga cozy serta alunan musiknya terdengar syahdu. 

Sesampainya di Harper, ternyata acara belum dimulai. Berlokasi di  Rustik Resto & Bar Harper, JNE mengundang sekitar 50 orang yang terdiri dari blogger dan beberapa awak media. Saya pun menyiapkan amunisi berapa smartphone dan mencari seat kosong yang letaknya strategis buat mengambil foto. Soalnya saya dengar ada live tweet competition berhadiah smartphone. Pasti mupeng kan jadinya? Hehehe... Siap-siap twitter ramai dengan hestek #HarblognasJNE. Selain live tweet competition, nanti bakalan ada undian rate aplikasi MY JNE.

Beberapa saat kemudian saya menemukan posisi yang pas. Saya duduk disamping Mbak Dian Farida. Tak selang berapa lama banyak blogger yang sudah hadir. Sang pemandu acara, Mbak Kurnia Kartikawati atau kerap dipanggil Qhachan menyapa dengan ramah blogger-blogger yang hadir. Suasana pun menjadi hangat. Suasana menjadi semakin seru ketika Qhachan mengumumkan akan membagikan doorprize. Kami diminta membuka taplak meja di hadapan kami. Di antara sekian taplak meja yang ada, di bawahnya diselipkan kertas berlogo JNE. Nanti kertas tersebut bisa ditukar dengan hadiah yang telah disediakan panitia. Wuihhh. Sayangnya saya bukan orang beruntung yang mendapatkan doorprize tersebut. Hiks :'( 

Acara dilanjut dengan sambutan (welcoming speech) dari Branch Manager JNE Express Jogja, Bapak Adi Subagya. Pada kesempatan kali ini, Pak Adi mengapresiasi blogger dan semua pegiat online yang telah bersama-sama memajukan dunia e-commerce Indonesia. Review blogger sangat berpengaruh terhadap reputasi sebuah brand. Blogger melalui media sosialnya juga bisa berperan sebagai endorser atau buzzer yang memperkenalkan produk-produk lokal kepada publik. Pertumbuhan e-commerce yang cukup signifikan berpengaruh sangat besar terhadap jasa ekspedisi dan logistik seperti JNE ini. 

Di tahun 2006, JNE hanya mengantar 600 Kg paket saja per harinya. Sekarang JNE mampu mengantar paket hingga 10 ton per hari. Wow! Maka tak heran, kini JNE bermimpi mampu membidik omset sebesar 5,75 triliun. Fantastis!

Pak Adi menambahkan bahwasanya JNE pada tanggal 26 November ini merayakan ulang tahunnya yang ke-26. Adapun pemilihan kata Harblognas sendiri merupakan singkatan dari Hari Blogger Nasional. Meskipun Hari Blogger Nasional jatuh pada tanggal 27 Oktober silam, tetapi momen tersebut masih layak dirayakan bersama ulang tahun JNE. Hadirin yang hadir kemudian memberikan applause kepada Pak Adi. 
Pak Subagya memberikan welcoming speech. Dokumentasi pribadi.
Acara berikutnya yakni hiburan dan makan malam. Yeiiiii! Mbak Winda Carmelita menghibur tamu undangan dengan suaranya yang merdu. Aseekkkkk. 

Saya melihat-lihat menu yang ada. Sebagian besar menu yang ada di Harper berupa Continental Food alias makanan Eropa. Ada lasagna, spagetti, burger, salad, pizza, serta aneka cake yang menggoyang lidah. Menu lokal juga ada kok. Di sini saya mencoba sate dan juga sup jagung. 
Aneka pilihan menu di Rustik Resto & Bar Harper. Dokumentasi pribadi
Ini apa coba? Pizza dicampur sosis, kentang dan juga sate. Benar-benar pilihan yang aneh. Dokumentasi pribadi
Cakenya imut dan lazisssss abisss. Suka tampilannya yang super catchy! Dokumentasi pribadi.
Menjelang acara inti, Qhachan menyambut Pungki Prayitno selaku moderator yang akan mendampingi 3 narasumber yang akan berbagi cerita dan inspirasi. Siapa saja mereka guys? Mereka adalah Pak Marsudi (Head of Regional JNE wilayah Jateng-DIY), Grace melia (parenting blogger dan pendiri Rumah Ramah Rubella), dan Uphie Mashar (pebisnis online dan pemilik @stupidroom). Acara ini dikemas layaknya bincang-bincang santai ala talkshow. 
Dari kiri ke kanan. Pungki Prayitno. Pak Marsudi, Grace melia, dan Uphie Mashar. Dokumentasi pribadi
Wanita muda dan cantik bertubuh mungil itu bernama Grace Melia. Sungguh tak disangka, buah hati pertamanya yang bernama Ubii menderita Congenital Rubella Syndrome. Virus Rubella yang menyerang Ubii berpengaruh pada perkembangan kondisi psikomotoriknya. Special kids need special parents. Grace sadar buah hatinya membutuhkan perawatan khusus. Tak kenal lelah, dengan penuh cinta Grace terus memperjuangkan Ubii melalui berbagai perawatan dan fisioterapi. Grace kemudian berinisitif mendirikan Rumah Ramah Rubella sebagai tempat berbagi informasi seputar TORCH (Toxoplasma, Rubella, CMV dan Herpes Simpleks), tips-tips parenting dan sebagainya. Grace juga kerap berbagi cerita di blog pribadi. Lambat laun banyak orang simpati lalu tertarik pada kisah hidupnya. Kegigihanya melawan virus rubella melalui Rumah Ramah Rubella diganjar berbagai penghargaan. Penghargaan tersebut di antaranya diberikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika kepada Grace sebagai Woman As An Agen Of Change Kartini Next generation 2014

Awal ngeblog Grace memikirkan bagaimana caranya agar blognya bisa populer seperti blogger-blogger lainnya. Grace kudu muter otak. Berbekal pengalamannya menjadi orangtua dan mengasuh buah hatinya. Grace memilih tema parenting. Personal branding adalah senjata utama. Selebihnya sebagai blogger kita kudu mempelajari dan mengembangkan ilmu terkait teknis blogging seperti SEO (Search Engine Optimization), desain grafis, fotografi, videografi, koding, dan sebagainya. Lambat laun, Blog Grace disukai banyak orang. Trafik dan visitor pun meningkat. Peningkatan ini berpengaruh pada sejumlah tawaran job review dan kerjasama dari berbagai brand. Saya masih ingat, bulan Maret lalu Grace bekerjasama dengan JNE mengadakan giveaway berupa review aplikasi MY JNE. Hadiahnya... ahaiiii kece lho. Ada voucher belanja senilai ratusan ribu dan juga grand prize 3 smartphone keren (Sony Xperia M5 Aqua, Samsung Grand Prime VE, dan Samsung Galaxy J1 Ace)

Jadi blogger jangan baperan! Jangan pula minder melihat prestasi blogger lain. Progresif dan inovatif adalah kata kuncinya. Grace berpesan, sebagai blogger kita kudu kreatif dan inovatif dalam mengembangkan konten dan ide-ide. Apalagi jika semisal dunia blogging sudah tidak diminati lagi Misal lho ya. Terus asah kemampuan pada bidang yang lain dan kreasikan hal tersebut menjadi sesuatu yang menarik. Misal nih ya, kemampuan di bidang vlogging dan blogging jika disatukan akan menjadi poin plus tersendiri. 
***
Jika JNE di Jakarta menghadirkan Jaya Setiabudi sebagai narasumber sekaligus pelaku bisnis online, JNE di Jogja menghadirkan Uphie Mashar. Siapakah dia? Uphie adalah pemilik akun instagram @stupidroom yang menjual produk-produk impor berkualitas. Sungguh tak disangka, kisah perjalanan hidupnya ternyata penuh liku. 

Berkali-kali lamaran kerjanya ditolak perusahaan. Pernah juga diusir dari kostnya karena tak mampu membayar biaya sewa. Pernah pula diremehkan orang. "Buat apa kuliah? Selepas kuliah paling ujung-ujungnya nikah!" Demikian nada-nada sumbang dari orang yang pernah merendahkannya. Berderai air mata perjuangan wanita bernama lengkap Uphie Mashar tersebut. 

Suatu ketika salah seorang sahabat mengajaknya berjualan online sembari mencari kerja. Pelan tapi pasti, apa-apa yang diusahakan Uphie membuahkan hasil. Jerih payahnya berjualan online mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan lebih dari itu. Penghasilannya per bulan dari bisnis ini terbilang cukup fantastis. 

Jika ditanya apa yang membuat Uphie mampu bertahan di masa-masa sulit? Doa dan motivasi ibulah jawabannya. Motivasi ibunyalah yang membuat bara kecil di dadanya terus berkobar, mengantarkan Uphie menjadi pebisnis online sukses seperti sekarang ini. 
***
Kiprahnya selama 21 di perusahaan ekspedisi dan logistik JNE mengantarkan Pak Marsudi hingga menjabat sebagai Head of Regional JNE wilayah Jateng-DIY. Apa yang menjadikan JNE mampu bertahan di tengah gempuran para kompetitior? Pak marsudi memaparkan beberapa poin kunci.

Poin pertama, inovasi. Dengan hadirnya inovasi, JNE berupaya menawarkan kemudahan dan solusi bagi para pelanggan atau konsumen. Inovasi inilah yang menjadikan JNE terdepan, terpercaya, serta menghasilkan layanan yang unggul. Seperti sudah dijelaskan di atas, aplikasi MY JNE adalah salah satu inovasi yang dikembangkan JNE (7 magnificent of JNE), selain JNE-PopBox, @Box prepaid, JNE Super Speed, JNE Internasional Shipment,  layanan CD musik, terakhir JNE Trucking.

Poin kedua, kolaborasi dan sinergi. JNE berkolaborasi dengan dunia e-commerce dan pelaku bisnis online. Sebab, perkembangan e-commerce berdampak signifikan terhadap pertumbuhan JNE. Melalui sinergi dengan blogger, JNE yakin iklim bisnis Indonesia semakin baik. Blogger berperan sebagai reviewer, buzzer, dan juga endorser sebuah produk yang mana memberikan nilai tambah dan reputasi positif sebuah brand.

Poin ketiga, berbagi. Pak Marsudi menuturkan, 2,5% dari keuntungan yang dihasilkan JNE digunakan untuk sedekah. Sedekah ditujukan kepada anak yatim, kaum dhuafa, dan juga mereka yang membutuhkan. Dengan berbagi bertambah rizki. Sepakat?
***
Bagaimana pemirsa? Semoga jejak-jejak inspirasi dari narasumber di atas menjadikan kita berbenah ke arah yang lebih baik. Kita semakin persisten, inovatif, kolaboratif, serta kreatif dalam mengembangkan ide-ide dan juga life skill.

Saya tengok jam di layar ponsel. Ternyata waktu hampir mendekati jam 21.15 WIB. Detik dan detak berlalu. Tak terasa bincang inspiratif berlalu begitu cepat. Tahu-tahu sudah di penghujung acara.

Terakhir Qhachan akan mengumumkan pemenang live tweet competition (pemenang berdasarkan tweet teraktif) dan juga rate aplikasi MY JNE (pemenang diundi). Jeng...jeng...jeng. Jadi deg-degan. Saya berdoa dan memejamkan mata. Berharap bisa membawa pulang hadiah. Tak berselang lama, 2 pemenang live tweet competition diumumkan. Juara pertama mendapatkan smartphone (@dityatuxlin). Juara kedua mendapatkan bingkisan (@AriefRamadhan88). Untuk pemenang rate aplikasi juga mendapat bingkisan.

Ternyata eh ternyata, nama saya tidak nyangkut sebagai pemenang baik di live tweet competition maupun rate aplikasi MY JNE pemirsa. Hiks. Tapi tak apalah. Yang penting saya bisa pulang membawa kaos cantik dan 2 voucher ini. Yeeiiiii!!! Bisa belanja-belanja asyik di Indomaret. Proud Blogger. Saya suka tulisannya. Cakep kan kaosnya?
Suka kaos dan vouchernya. Dokumentasi pribadi.
Sebelum acara berakhir, Qhachan mewakili JNE mengucapkan terima kasih kepada para blogger yang telah meluangkan waktunya untuk hadir di event Harblognas JNE, "Menembus Batas Menjadi Inspirasi Bagi Negeri." harapan saya, semoga di usianya yang ke-26 tahun ini semakin banyak inspirasi yang ditularkan JNE. Always connecting happinessSee you next time
Sesi terakhir. Foto bersama blogger Jogja dan JNE. Dokumentasi ; Winda Carmelita

Minggu, 13 November 2016

Telkom dan Spirit Inovasi dalam Atmosfer Digital Indonesia

Mendung pekat. Langit kelam. Butir-butir hujan mulai membasahi Kota Budaya. Detik demi detik berlalu mencipta deras yang tak berkesudahan. Gelegar petir. Bunyi kecipak air. Bau tanah yang khas.

Ah, hujan mengurai kenangan. Bukan kenangan tentang mantan. Bukan. Hujan Bulan November ini mengingatkanku pada Meta, a partner in crime. Meta adalah partner asyik buat seru-seruan. Jika saja... Jika saja Meta masih di Jogja, mungkin aku bisa mampir ke kosnya barang sebentar. Ah sayang, dia sudah kembali ke Bumi Sumatra, selepas diwisuda awal tahun lalu. 

Teringat percakapanku dengan Meta Februari silam melalui telepon. 

“Meta, aku mau ngirim tugas kuliah, deadline malam ini, tapi koneksi internetku lelet banget. Bahkan tadi sempat no signal. Padahal aku baru beli kuota internet kemarin. Hiks.” 

 “Kok bisa?” 

“Entahlah. Mungkin cuaca sedang tidak bersahabat.” 

“Mampir aja ke kosku Arinta, di sini internetnya lagi kenceng-kencengnya. Ayo gih, mumpung hujan belum deras. Sekalian aja nginap di sini kalau mau. Aku ada oleh-oleh keripik pisang cokelat dan kopi Lampung lho.” 

Ah kombinasi yang perfect! Camilan, secangkir kopi hangat, dan internet. Siapa yang tak betah menikmatinya? Beruntung sekali Meta. Di kosnya ada wifi. Kenceng pula. Aku yang kerap fakir kuota internet sering nebeng di kosnya sekadar mendownload tugas kuliah atau menonton stand-up comedy via youtube. Jika aku menginap di kosnya, Meta pasti menyediakan stok camilan buat dimakan bersama. Ah, momen itu! 

“Internetmu kok lancar jaya meski hujan gini sih Met?” tanyaku kala itu. 

“Di sini sudah pake Indihome Ta. Jadi dalam kondisi apapun sinyal internet tetap stabil.” 

“Asik tahu. Mau dah tiap hari mampir ke kosmu dan ngerampok makanan...hahaha” Candaku kala itu. 

“Ah kamu Arinta, dasar predator. Enggak heran gendutan sekarang. Ingat berat badan Ta. Orang baper jadi mudah laper...ahahaha” Tawanya meledak. Terkekeh-kekeh. Sedikit meledek. 

“Ugh sial! Gendut katamu!” Aku pura-pura marah. Yang diujung telepon malah cengegesan. 

“Ayo gih cepat ke sini. Entar keburu hujan malah enggak jadi.” Akhirnya kututup telepon sembari bergegas ke kosan Meta. 

Itu dulu. Dulu saat Meta masih di sini. Di kota sejuta kenangan. Jogja. Sekarang Meta telah kembali ke kampung halaman. Merangkai episode baru di sana. 

Bagiku internet sangatlah berarti. Jika kuota internetku habis. Mati sudah! Aku kudu beli lagi. Kalau lagi enggak ada duit, aku cari-cari teman yang mau berbagi internet. Thetering atau apalah istilahnya. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Upss salah. Lebih baik enggak jajan daripada enggak beli kuota. Ada kuota internet, tapi sinyal lelet itu sama saja. Mending nyebur ke laut.

“Coba kamu ganti pakai Simpati. Dijamin antilelet. Lha aku Ta, selama KKN pakai itu. Padahal daerah tempatku KKN lebih terpelosok darimu. Tapi kecepatannya tetap stabil. Aku masih bisa facebookan dan twitteran. Recommended deh!” Ujar Meta ketika aku curhat mengenai kendalaku ketika KKN di Dukuh Blimbing, Kabupaten Gunung Kidul tahun 2014 silam. Semenjak itu, selama 2 bulan KKN aku memakai Simpati. Hingga kini aku masih setia dengannya. Eaaa.
Internet menjadikan hidup kita lebih praktis dan efisien. Kamu pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, freelance, pekerja kantor, pebisnis, apapun latar belakang dan profesimu pasti membutuhkan internet. Kirim dan simpan data atau file, berjejaring via media sosial, belanja (online), browsing, aktivitas apapun pasti menggunakan internet. Di era digital seperti sekarang ini, internet sudah seperti kebutuhan pokok. Yang terpenting, bagaimana kita menggunakankan media tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat dan berdampak positif. Sampai di sini sepakat?

Selain di kosan Meta, aku menemukan tempat nongkrong asyik dengan suasana cozy yang menyediakan akses internet cepat. Gratis pula. Jogja Digital Valley, demikian nama tempat tersebut. Jogja Digital Valley atau biasa disingkat JDV merupakan co-working space sekaligus digital startup Incubator dari Telkom. Ah, baiklah aku punya sedikit cerita. Dengarkan baik-baik.
Lokomotif ekonomi. Big size. Ikonik. Impactful. Demikan Prof. Rhenald Kasali menjelaskan 4 komponen utama sebuah powerhouse. Siapa yang tidak kenal Prof. Rhenald Kasali? Beliau seorang guru besar ekonomi, socialpreneur sekaligus penulis buku yang kerapkali mengulas topik-topik yang berhubungan dengan perubahan. Change! Ini sangat menarik. Dalam bukunya yang berjudul  Mutasi DNA Powerhouse, Prof. Rhenald memaparkan bahwasanya powerhouse merupakan sebuah kekuatan raksasa. Dalam hal ini, powerhouse bisa dikatakan sebagai sebuah rumah besar berbentuk badan usaha yang mengayomi puluhan ribu hingga ratusan ribu orang. Kehadiran suatu powerhouse berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebagai lokomotif ekonomi, dia kuat dan  powerful. Big size di sini artinya besar. Baik besar dalam jumlah SDM, dukungan teknologi, pangsa pasar, profit, pajak, pendapatan, dan sebagainya. Dia juga mampu menjadi ikon suatu bangsa. Terakhir, impactful. Langkahnya, baik maju ataupun mundur memiliki dampak cukup signifikan.

Telkom merupakan sebuah powerhouse yang bergerak di bidang informasi, telekomunikasi dan jaringan. Perjalanannya menembus rimba belantara di era yang semakin kompetitif seperti sekarang ini sangat berat. Tidak mudah. Bahkan berdarah-darah. BUMN dengan logo telapak tangan menggenggam bola dunia ini pun terus berbenah. Melangkah. Bergegas. Mendengarkan suara-suara perubahan. Sebab, Indonesia semakin digital. Sebagai perusahaan teknologi yang sudah makan asam dan garam puluhan tahun, Telkom sadar akan atmosfer digital Indonesia yang semakin menguat. Mata elangnya yang tajam dan visioner selalu awas. Telkom haruslah terdepan dalam hal inovasi.

Melalui sinergi dan kolaborasi quad-helix ABG-C (Academic, Business, Goverment, dan Community), Telkom yakin dan optimistis mampu membentuk ekosistem digital Indonesia yang kreatif, inovatif, dan memberdayakan. Inovasi bisa lahir dari dalam (internal perusahaan) dan dari luar (eksternal perusahaan). Human capital adalah aset. Maka dari itu, Telkom membuat program-program dan komunitas yang menumbuhkan jiwa digital kreatif di kalangan generasi muda Indonesia. Telkom kemudian menggandeng digital talent (startuper) untuk membuat terobosan-terobosan yang bersifat solutif.
Indigo Creative Nation contohnya. Indigo merupakan wujud nyata dan komitmen Telkom guna mendorong pertumbuhan industri digital kreatif Indonesia. Lewat Indigo, para digital talent akan mendapat dukungan melalui program inkubasi dan akselerasi bisnis. Tak lupa mulai dari tahap ideasi hingga pendanaan. Tema yang diusung di tahun 2016 ini yakni Building Strong Indonesia Digitalpreneur with Disruptive Mindset dengan tagline Grow Together Work Together.  Belum cukup. Telkom pun mengembangkan Digital Innovation Lounge (Dilo) yang tersebar di belasan kota besar di Indonesia serta Digital Valley (Diva) yang merupakan co-working space sekaligus tempat inkubasi dan akselarasi para digital talent (startuper). Khusus Digital Valley saat ini hanya ada di 3 kota besar, yakni Bandung, Jogja, dan Jakarta. Tenang saja, telkom memfasilitasi akses internet cepat, stabil, dan gratis kok baik di Dilo maupun Diva.

Pada masa-masa awal pendirian program Indigo, banyak suara-suara yang menyangsikannya. Skeptis. Meragukan kesuksesannya. Jika diibaratkan, program ini sekadar hangat-hangat tahi ayam. Namun, seiring berjalannya waktu, ditambah atmosfer digital Indonesia yang semakin menguat, Telkom berhasil menelurkan berbagai startup dan produk digital yang inovatif, kreatif, dan juga solutif. Seperti yang diulas Tech In Asia berikut, inilah daftar 9 startup yang terpilih pada program Indigo batch 1 tahun 2016. Sedangkan untuk batch 2 ada 13 startup yang berhasil lolos. Bagaimana ide-idenya? Unik dan menarik bukan?

Indigo Creative Nation sendiri terinspirasi dari Silicon Valley yang menyebarkan semangat kolaborasi dan berbagi yang berasal dari komunitas untuk komunitas. Edukasi dan awarding untuk produk digital kreatif saja belumlah cukup, harus ada upaya pembinaan para digital talent.  Telkom sadar akan hal itu. Maka di tahun 2016 ini Telkom mendukung pemerintah untuk melahirkan 1000 teknopreneur hingga tahun 2020 dengan menggandeng akademisi dan masyarakat. Misalnya nih bekerjasama dengan kampus ITS, Telkom mendirikan Digital Innovation Lounge Surabaya. 
Ada 6 kategori produk yang bisa dipilih dan dikembangkan oleh startup
Kalau kamu ada di Jogja sesekali mampirlah ke Jogja Digital Valley (Jogdiva). Untuk mendapatkan akses internet cepat dan gratis, kamu kudu daftar jadi member dulu. Sebab akses masuk sudah menggunakan fingerprint scanner. Otomatis admin membutuhkan data lengkap kamu. Apa yang didapat setelah jadi member? Banyak banget benefitnya. Salah satunya kamu bisa sewa ruang buat meeting, bahkan gratis lho. Bisa juga ikut event seru seperti workshop, seminar, dan talkshow bertema teknologi tentunya. Tentunya dari event-event tersebut kamu bisa menambah jejaring, pengalaman, pengetahuan dan skill. Komunitas pun diperkenankan berbagi ide dan pengetahuannya di sini. Misal nih, Jogdiva memperkenankan Gamelan (komitas game developer Jogja) mengadakan sesi diskusi terkait pengembangan game.

Bulan lalu, di event JDV #TechTalk, Jogdiva menghadirkan beberapa narasumber yang mengulas Financial Technology & Cyber Crime. Narasumber tersebut di antaranya dari Telkom, Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Pusat Studi Forensik Digital Universitas Islam Indonesia (PUSFID UII), dan pelaku startup. Nah, khusus bulan ini pas aku liat di websitenya Jogdiva, ada seminar dari Kominfo terkait penggunaan tanda tangan digital beserta keamanan dan keasliannya terhadap suatu data atau dokumen elektronik. Ternyata enggak sembarangan lho penggunaan digital signature ini. Ada semacam kunci kriptografisnya yang sifatnya privat dan rahasia.

Masih berkaitan dengan Financial Technology. Perlu diketahui pemirsah, Financial Technology atau Fintech merupakan topik yang sedang hangat diperbincangkan terkait bidang inovasi digital di sepanjang tahun 2016 ini. Sepertinya kita belum cukup familiar dengan terminologi Fintech ya? Secara sederhana, FinTech dapat dikatakan sebagai perusahaan di bidang teknologi yang menawarkan layanan atau produk yang berhubungan dengan dunia finansial. Mengutip dari Accenture Asia Pasific, FinTech merupakan sebuah segmen dari suatu perusahaan atau startup yang memaksimalkan penggunaan teknologi guna mengubah, mempercepat, dan mempertajam berbagai aspek dari layanan keuangan.

Telkom melalui anak perusahaanya Telkomsel menawarkan layanan keuangan digital selayaknya dompet elektronik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti bayar tagihan, kirim pulsa, bayar transaksi di suatu ecommerce, dan sebagainya. FinTech Telkomsel ini bernama TCash. Aku termasuk pengguna layanan fintech bernama TCash tersebut.

Untuk menjadi pengguna Tcash kamu harus memakai kartu dari Telkomsel, entah Simpati, Kartu Halo atau Kartu As. Tcash memudahkan aku membayar tagihan listrik, aku enggak perlu perlu lagi mengantri lama di kantor pos. Selain itu bagian yang asyik adalah banyak promo menarik dan diskon gede (terkadang sampai 50%) dari merchant yang bekerjasama dengan Tcash.
Tcash dapat diibaratkan sebagai dompet digital
Indonesia semakin digital. Sekali lagi, teknologi memudahkan hidup kita. Bahkan sebelumnya tak terpikirkan tentang dompet elektronik dan layanan keuangan digital. Teknologi dan inovasi hadir membawa realitas baru.

Aku beruntung sekali bisa bergabung di komunitas Jogja Digital Valley. Bisa mengikuti event-event keren. Bisa memperoleh pengetahuan terkait inovasi digital Telkom dan para startuper. Dapat akses internet cepat dan juga wifi.id.

Ada secuil alasan kenapa aku betah seharian nongkrong di sini. Jogdiva itu tempatnya cozy banget. Cocok buat freelance dan digital talent. Ada kafenya. Aku bisa ngenet sembari menikmati segelas good day dan 3 bungkus chocolatos. Kursinya empuk dan nyaman. Udah gitu aku bisa mendengarkan lagu-lagu terbaru yang lagi ngehits dan  menonton kanal tv lokal maupun internasional via USEETV Indihome. Jogdiva juga termasuk area yang menjangkau wifi.id. Dengan wifi.id kamu bisa menikmati internet ngebut sampai 100 Mbps. Gimana enggak asyik?
Wifi.id bisa diakses di Jogja Digital Valley
Aku pakai wifi.id buat nonton video, streamingan, atau kalau ada live seminar di telegram dan sebagainya. Kayak beberapa waktu lalu ada Webinar dari Inspira tentang bagaimana studi di USA. Wah pengen banget tahu tentang itu, meski belum ada rencana buat study abroad dalam waktu dekat ini. Tapi minimal aku mendapatkan informasi-informasi yang harus aku persiapkan ketika mau lanjut studi ke USA.

Paling sebel kalau lagi nonton video terus buffering. Nah solusiku ya pakai wifi.id ini aja. Lagi seru-seru nonton malah loading. Lagi asyik-asyik download malah failed. Bikin bete. Enggak mau dah kejadian kayak gitu terulang lagi. Sudah putuskan saja! Ya sejak itu aku putuskan pakai wifi.id. Aku memanfaatkan wifi.id untuk mengunduh dan mengoleksi video-video presentasi TED Talks edisi Bahasa Inggris. Lewat video TED Talks tersebut, aku belajar budaya negara lain serta bagaimana gaya komunikasi seseorang.Ya siapa tahu kan nanti dapat kesempatan ke USA atau Eropa, jadi udah punya bekal bahasa.
Selain di Jogja Digital Valley, kita bisa menikmati akses wifi.id di wifi.id corner Kotabaru Yogyakarta
Di youtube kan banyak banget tuh video tutorial, baik tutorial desain, masak, hijab, creative DIY making project, dan sebagainya. Jadi kita bisa belajar mandiri sekaligus mengasah keahlian lewat video. Bicara tutorial, aku jadi ingat Anggara. Pertama kali ketemu dia ya di Jogdiva ini. Ternyata Anggara seorang desainer grafis 3D. Anggara menggunakan Autodesk Maya untuk membuat karakter-karakter animasi dan game. Ya Anggara menjual hasil karyanya lewat forum-forum internasional. Dia dibayar dengan dollar. Buah kerja kerasnya terbayar lunas. Sebelumnya Anggara harus berlatih mendesain karakter 3D selama berjam-jam di ruang kosnya yang sempit. Anggara belajar desain 3D secara autodidak via youtube dan vimeo. Anggara memanfaatkan jaringan wifi di kosnya untuk belajar dan mengasah keahlian. Kegiatannya tersebut dilakukannya selama setahun. Anggara fokus. Hingga dia bisa menikmati jerih payahnya. Hasil memang tak akan mengkhianati proses. Mantap ya si Anggara ini?

Kamu. Iya kamu. di era yang semakin digital seperti sekarang ini, apa hal-hal yang sudah berhasil kamu kembangkan?
Voucher wifi.id edisi Slank
Ini voucher wifi.id-ku. Gambar cover depan Slank. Ini edisi khusus. Kayaknya sudah enggak keluar lagi deh sekarang. Meskipun demikian masa aktif voucher tersebut sampai 31 Mei 2017. Harganya murah kok, dengan Rp 5.000 kita bisa menikmati akses internet cepat hingga 12 jam. Puas-puasin deh nonton youtube tanpa buffering.

Terima kasih Telkom. Telkom begitu adaptif terhadap perubahan. Telkom begitu memahami kebutuhan kami, para generasi digital. Aku berharap ke depannya semakin banyak inovasi yang dikembangkan Telkom. Berkaryalah untuk negeri! #IndonesiaMakinDigital

 Tabik!

Senin, 10 Oktober 2016

#Batik Indonesia : Dari Jogja untuk Dunia

Dalam 3 detik, apa yang Anda bayangkan ketika saya menyebut kata Jogja? Gambaran apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendengar Jogja? Jogja sebagai kota budaya? Jogja kota pelajar? Kota industri kreatif? Jogja kota Gudeg? Jogja kota wisata? Malioboro? Sri Sultan Hamengkubuwono dan tradisi keraton? Bakpia? Angkringan? Atau jangan-jangan Anda mengingat lirik lagu yang Yogyakarta yang pernah dibawakan Kla Project? Lagu yang tenar di tahun 90-an dan membuat baper anak muda pada masa itu. Masih ingatkah liriknya?

Terhanyut aku akan nostalgi...
Saat kita luangkan waktu...
Nikmati bersama...
Suasana Jogja...
Wah, Anda jadi teringat kenangan masa lalu. Namun, saya akui, selain syahdu, lagu tersebut masih cukup populer dalam konteks kekinian. Jika saya rindu suasana Jogja, saya akan menyetel lagu ini. Lagu ini merekam tiap jengkal kenangan saya di Kota budaya. Baiklah, saya ulangi lagi. Apa yang Anda ingat tentang Jogja? Apa yang melekat dan menjadi identitas dari Jogja itu sendiri? Banyak! Saya rasa Anda bisa menjawabnya sendiri. 

Begitu kuatnya local branding yang melekat pada kata Jogja sehingga siapapun bisa mendeskripsikannya meski belum pernah sekalipun berkunjung ke kota ini. Jogja istimewa. Inilah branding anyar yang dikemas untuk menguatkan positioning Jogja pada dunia.  Di mata publik (termasuk netizen), Jogja istimewa memukau dengan  beragam atraksi seni dan budaya. Tradisi dan budaya adalah kekayaan intelektual sekaligus warisan leluhur yang wajib dijaga kelestariannya. Karena hal tersebut merupakan keunggulan sekaligus aset berharga daerah. Ada beragam jenis kekayaan daerah yang mampu menjadi intelectual property dan ikon Yogyakarta. beberapa di antaranya misalnya berupa karya arsitektur (Candi Prambanan), kuliner (gudeg), dan seni (batik).

Hmmm... batik. Saya sendiri jatuh hati pada salah satu warisan adiluhur nusantara bernama batik. Jogja pun mencanangkan diri sebagai kota batik dunia. Maka dari itu, untuk ulasan kali ini saya akan fokus membahas satu topik saja yakni batik. Mengapa batik? Tidak salah lagi batik merupakan salah satu hasil kreativitas turun-temurun bangsa Indonesia. Begitu kuat daya magis dan pesona batik sehingga membuat Negeri Tiongkok berupaya meniru konsep, memproduksi batik, hingga menjualnya ke Indonesia dengan harga yang lebih murah. Negeri Jiran Malaysia pun sempat mengklaim bahwasanya batik merupakan bagian dari kekayaan intelektual miliknya. Bangsa ini pun resah dengan klaim tersebut. Bangsa Indonesia tidak terima dan menggugatnya.

Pemerintah tidak diam. Dengan perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan pemerintah Indonesia mengajukan batik sebagai representasi warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan tak benda (masterpieces of the oral and intagible cultural heritage of humanity) melalui Badan PBB UNESCO. Puncaknya pada tanggal 2 Oktober 2009 batik dikukuhkan sebagai representasi budaya tak benda warisan manusia. Pengukuhan ini sekaligus pernyataan bahwasanya setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Mengapa batik masuk kategori sebagai warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage) bukan warisan budaya benda (tangible cultural heritage) seperti candi-candi dan situs-situs peninggalan purbakala? Padahal batik bisa dirasakan secara fisik dan kasat mata oleh indera manusia. Secara fisik memang batik bisa dikatakan sebagai benda cagar budaya yang bentuknya bisa dirasakan dan disentuh. Namun lebih dari itu, dalam setiap goresan, batik mempunyai makna filosofis tersendiri. Selain mengandung makna filosofis, batik juga memiliki ragam pengetahuan yang terjalin di dalamnya, nilai-nilai, motif, serta kajian historis yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Hal-hal semacam ini tak dapat diindera manusia, akan tetapi dapat dirasakan keberadaannya. Tergurat dari tiap kain yang dibentangkan oleh para perajin batik. Nilai-nilai dan pengetahuan itulah yang melekat. Maka dari itu batik digolongkan sebagai intangible cultural heritage. Selama nilai-nilai dan pengetahuan tersebut dipertahankan dari generasi ke generasi, maka batik akan terus eksis. Status intangible cultural heritage tersebut tak bisa dicabut bahkan diklaim oleh pihak manapun di dunia ini.

Menurut Drs. Hamzuri dalam buku Batik Klasik, batik merupakan lukisan atau gambar pada kain mori yang dibuat dengan menggunakan alat bernama canting. Pak Mudjib, guru muatan lokal membatik saya ketika SMP pernah berujar bahwasanya batik dapat dikatakan secara sederhana sebagai Buat titik-titik. Membatik berarti menciptakan titik-titik atau garis yang terjalin padu. Titik-titik atau garis tersebut saling dihubungkan melalui goresan canting berisi malam panas hingga membentuk pola tertentu seperti bentuk binatang, tanaman, dan sebagainya.

Indonesia memiliki beraneka ragam motif atau corak batik. Akan tetapi setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing yang berbeda satu dengan yang lainnya. Pekalongan, Solo, Cirebon, Banyumas, Madura, Jepara, Kudus, dan Jogja merupakan segelintir daerah yang menghasilkan karya seni batik.

Dulu batik digunakan sebagai pakaian khusus untuk kaum bangsawan kerajaan dan keraton. Tidak sembarangan orang mengenakannya. Seni batik dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Di era pra kemerdekaan Indonesia, banyak pengusaha lokal yang tergabung dalam serikat dagang memproduksi dan menjual batik sebagai produk andalan. Masih ada kesan ekslusif di dalamnya dan penjualannya pun masih terbatas pada golongan tertentu seperti para pejabat dan priyayi. Di era modern seperti sekarang ini, batik memiliki kesan inklusif. Siapapun bisa memilikinya. Beragam orang dengan usia dan latar belakang berbeda menyukai batik. Pada hari tertentu, sekolah-sekolah di Jawa mewajibkan untuk mengenakan seragam batik. Peruntukan batik pun tidak terbatas pada pakaian saja, tetapi meluas pada tas, sepatu, boneka, jok motor, stiker, dan aneka aksesoris penunjang gaya hidup. Bahkan beberapa seniman dan desainer menampilkan batik di berbagai festival, pagelaran seni, dan fashion show baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Intinya ada diversifikasi dan inovasi pada batik itu sendiri.
Festival seni daerah menggunakan batik. Sumber : Karnaval Batik 
Lalu bagaimana dengan Batik Jogja sendiri? Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari gunadarma.ac.id, batik di daerah Yogyakarta dikenal sejak zaman kerajaan Mataram 1. Pada masa itu, proses pembatikan terbatas hanya lingkungan keraton di mana pengerjaannya dilakukan oleh wanita-wanita pengiring ratu. Kombinasi batik dan lurik digunakan ketika keraton mengadakan hajatan atau upacara resmi kerajaan. Desa Plered dikenal sebagai desa pembatikan pertama.

Perkembangan desa atau kampung batik kian meluas. Selain dijadikan sentra penghasil batik tulis, biasanya kampung batik dijadikan sebagai desa wisata sekaligus tempat edukasi batik bagi para pengunjung. Desa Giriloyo yang terletak di Imogiri Bantul misalnya. Ternyata kegiatan membatik sudah berlangsung di desa ini semenjak pembangunan kompleks keraton di tahun 1654. Keterikatannya dengan keraton membuat para perajin yang notabene abdi dalam atau rakyat biasa memperoleh pengetahuan khusus tentang seni dan proses pembuatan batik. Tradisi dan pengetahuan tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagaimana? Menarik bukan sedikit ulasan tentang batik? Batik bagian dari warisan budaya Indonesia dan juga Yogyakarta wajib dijaga kelestariannya. kalau tidak generasi muda sebagai generasi penerus siapa lagi? Barangkali kisah inspiratif berikut membuat kita semakin mencintai batik sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia untuk dunia.
Anak muda itu bernama Nova Suparmanto. Nova merupakan lulusan Universitas Negeri Yogyakarta jurusan pendidikan  teknik informatika dengan predikat cum laude di tahun 2013. Di usia yang masih muda telah banyak prestasi dan inovasi yang telah ditorehkan. Selama masa kuliah, Nova aktif di berbagai organisasi kampus. Dalam berbagai kesempatan, Nova kerap kali diundang untuk mempresentasikan gagasan-gagasannya. Kira-kira apa inovasi yang diciptakan Nova sehingga berprestasi baik di taraf nasional maupun internasional serta mampu membangun PT. Putra Multi Cipta Teknikindo? Tercatat sudah 55 penghargaan diraihnya.

Apa jadinya jika suatu tradisi atau budaya bertemu teknologi? Nova yang sangat mencintai batik dan juga dunia teknologi pun berpikir. Harus ada inovasi yang memberikan solusi! Inovasi yang berhasil Nova ciptakan berupa kompor membatik Astoetik (Auto-Electric Stove for Batik). Inovasi inilah yang mengantarkan Nova menjadi jawara Mandiri Young Technopreneur 2013 untuk kategori produk nondigital. Kompor batik tersebut menggunakan energi listrik sehingga sangat ramah lingkungan. Inovasi Astoetik mampu menghemat energi listrik hingga 30-40% dibandingkan produk lain yang sejenis. Suhunya pun bisa diatur secara manual atau otomatis. Kompor listrik ini dikemas dengan sangat menarik. Terdapat aksen batik yang menjadi ciri khasnya. Nilai ekonomis dan estetikanya terlihat jelas bukan?
Kompor Batik Astoetik. Sumber : Nova Suparmanto
Kompor Batik Astoetik. Sumber : Nova Suparmanto
Kompor batik konvensional menggunakan minyak tanah sebagai bahan energinya. Kelemahan dari kompor minyak tanah adalah nyala api yang kadang tidak merata di sekitar wajan. Kadang ada bagian yang nyala apinya terlalu besar, sebagian yang lain nyala apinya kecil. Sisa pembakaran dari kompor konvensional menimbulkan polusi udara (tidak ramah lingkungan) sehingga tidak baik untuk kesehatan para perajin batik. Selain itu, bahan bakar minyak tanah sudah mulai langka di pasaran. Jikapun ada, harganya cukup mahal. Alasan-alasan ini yang membuat Nova dan rekan berinisiatif membuat kompor batik Astoetik.
Kompor Batik Astoetik. Sumber : Nova Suparmanto
Tahun 2016 ini, Nova meluncurkan satu inovasi lagi berupa canting listrik. Nova pun membuka kesempatan kepada siapapun yang ingin belajar membatik. Datang aja ke workshopnya yang terletak di Desa Jeblog, Kasihan Bantul. dengan senang hati Nova dan tim akan memandu proses membuat batik dari awal (pembuatan motif) hingga proses akhir (pengeringan).

Nova meyakinkan bahwa kegiatan membatik bukan untuk orang tua saja, tetapi anak muda pun bisa melakukannya. Membatik itu mudah, asal dilakukan dengan tekun dan telaten.
Membuat batik tulis menggunakan Kompor batik Astoetik. Sumber : Sanggar Batik Astoetik
Workshop Batik. Sumber : Sanggar Batik Astoetik
Kisah Nova dalam menemukan inovasi kompor dan canting listrik untuk membatik sangat menginspirasi kita semua. Dari situ kita bisa belajar bahwa gagasan-gagasan sederhana yang direalisasikan mampu memberikan kontribusi pada masyarakat luas.

Ada beragam gagasan terkait tradisi dan budaya, jika tidak direalisasikan sungguh disayangkan. Apalagi jika gagasan tersebut sangatlah inovatif, bermanfaat, dan memiliki nilai komersil yang cukup tinggi. Perhatikan gambar di bawah. Gambar tersebut adalah salah satu inovasi batik bermotif struktur kimia. So, tradisi untuk inovasi kenapa tidak?
Inovasi batik bermotif struktur kimia. Sumber : Aku dan kimia
Bagaimana cara mengedukasi agar tradisi membatik tetap bertahan hingga generasi selanjutnya? Banyak cara bisa dilakukan untuk menggaet anak muda agar tertarik. Saya beri beberapa contoh. Pertama, perkenalkan batik melalui kunjungan museum (misal Museum Batik Yogyakarta) atau sentra edukasi batik (desa batik). Yang kedua, jadikan seni membatik sebagai muatan lokal atau ekstrakurikuler di sekolah. Berikutnya, ajak anak muda mempelajari pengetahuan membatik melalui workshop atau seminar, diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut rasa cinta anak muda terhadap kegiatan membatik semakin meningkat.

Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2016 adalah wadah untuk memperkenalkan Batik Jogja kepada dunia. Pada tanggal 18 Oktober 2014 World Craft Council (WCC) menobatkan Jogja sebagai Kota Batik dunia. Tentu saja predikat dan reputasi ini menjadi kebanggan daerah. Adalah suatu kehormatan menjadi penyelenggara perhelatan akbar Jogja International Batik Biennale 2016.

Tak dapat dipungkiri bahwasanya perhelatan akbar JIBB 2016 turut melestarikan #BatikIndonsia sebagai Intangible Cultural Heritage. Banyak acara menarik selama JIBB 2016 yang berlangsung dari tanggal 12 hingga 16 Oktober 2016. Jika Anda luang, sempatkanlah mampir di event JIBB 2016. So, dalam 3 detik, jika ingat Jogja, ingat pula batiknya. Kuatkan local branding dan jadikan Jogja sebagai Kota Batik Dunia!
Sumber bahan tulisan :
1. World Class Technopreneur. novasuparmanto.com
2. Jogja Internasional Batik Biennale (JIBB) 2016

Kamis, 29 September 2016

Dua Hal Menarik di Event #NgobrolBloggerDIY Bersama BCA

Ada event keren yang diadakan oleh BCA pada hari senin 5 September 2016. Nama event tersebut NgobrolBareng Blogger Yogyakarta. Beruntung sekali saya mendapat kesempatan hadir di event tersebut. Enggak sia-sialah pokoknya saya datang ke sana. Tempatnya berlokasi di Roaster & Bear. Saya suka Roaster & Bear. Alunan musik dan suasananya cozy banget deh pokoknya. Di lantai 1 saya berpapasan dengan Mas Nasirullah, pemilik nasirullah.com. Kirain acaranya di lantai 1 ternyata kami salah. Acara di lantai 2. Sesampainya di lantai 2, ternyata sudah banyak blogger yang berkumpul sembari menikmati live musik dari band lokal. 

Untung saya datang agak awal jadi bisa milih tempat duduk. Saya duduk tidak jauh dari 2 MC yang membuat suasana menjadi ‘lebih bernyawa.’ Gokil banget deh MC-nya. Sesekali saya tertawa.

Saya pun menyiapkan amunisi berupa smartphone dan juga blocknote untuk mencatat hal-hal atau poin-poin yang sekiranya menarik untuk dicatat. Biasanya sih untuk mendapatkan hasil foto yang mumpuni saya membawa kamera digital. Namun, karena ada sedikit masalah dengan kartu memorinya, jadi untuk sementara kamera digital saya tinggal di rumah. Saya pun berangkat cukup berbekal kamera smartphone. 
Ada Booth Photo lucu di acara Ngobrol bareng Blogger DIY dan BCA. Bonekanya ngegemesin.
Memasuki sesi materi pertama, menghadirkan seorang narasumber yang berkecimpung di dunia seni ilustasi dan desain. Yehezkiel Cyndo, demikian nama artpreneur kita kali ini. Tak salah lagi, Mas Cyndo demikian sapaan akrabnya, memiliki latar belakang pendidikan di dunia desain produk. Dengan kemampuannya di bidang seni visual Mas Cyndo memperkenalkan sekaligus menjual karyanya melalui media sosialnya. Terutama Instagram (Kalau kamu penasaran bisalah intip-intip di akun instagramnya @yehezkielcyndo) dan juga facebook. Ini sangat menarik menurut saya sebab saya juga seorang penikmat seni. Sesekali jika memiliki waktu luang, saya sempatkan mengunjungi galeri seni. Saya suka membayangkan betapa gila dan kreatifnya seorang seniman ketika membuat sebuah karya.
Keren yak karya-karya Mas Cyndo yang diposting di akun instagramnya? Mas Cyndo adalah orang yang sangat tahu akan passionnya. Dia terus mengasah dan mengembangkannya keahliannya di biang seni ilustrasi. Mas Cyndo juga pernah menantang dirinya sendiri, “berani enggak kita menjadi kreatif? Berani enggak kita hidup dari karya kita sendiri?” Ini sangat menarik menurut saya. Benar-benar inspiratif.
Sembari mendengarkan pemaparan dari Mas Cyndo saya menyantap lidah sapi dan lemon tea pesanan saya. Kelihatan banget kan kalau saya sudah mulai kelaparan? So, enjoy the dinner. Nyam...nyam...
Nah materi selanjutnya datang dari Mas Gunawan Jusup, selaku perwakilan dari BCA. Di era yang digital seperti sekarang ini orang lebih mengutamakan smartphone ketimbang dompet. Melalui smarphone kita bisa terkoneksi ke segala akun media sosial kita dan juga berbagai aplikasi yang kita butuhkan. Karena semua serba digital. Serba online.
Namun bagaimana jadinya kalau smartphone bisa dijadikan dompet? Memahami akan hal itu, BCA memperkenalkan sebuah aplikasi bernama Sakuku. Apa itu Sakuku? Sakuku dapat dikatakan sebagai dompet digital kita. Dengan aplikasi Sakuku di smartphone, kita bisa membayar saat berbelanja di toko atau retail online. Selain itu kita bisa mengisi pulsa dan melakukan transaksi perbankan lainnya. Jadi kita enggak perlu repot-repot bawa uang segepok atau kartu kredit di dompet. Cukup download aplikasi Sakuku di App Store bagi pengguna iOS (iOS 7.1 ke atas) dan Play Store bagi pengguna Android (OS 4.0 ke atas). Gratis, tidak ada biaya administrasi bulanan. Nantinya nomor ponsel kita akan menjadi nomor kepemilikan Sakuku. Selanjutnya lengkapi data dan verifikasi disertai pembuatan pin Sakuku yang terdiri dari 6 digit numerik. Setelah Sakuku aktif kamu bisa top up dengan maksimum saldo Rp 1.000.000. Untuk Sakuku Plus kamu bisa top up saldo hingga Rp 5.000.000. Aplikasi Sakuku bisa dipakai siapa saja baik nasabah BCA maupun non nasabah BCA sekalipun.

Lalu apa keuntungan dari aplikasi ini? Selayaknya dompet digital, dengan Sakuku kamu bisa Cek Saldo, Mutasi Transaksi (ragam transaksi yang kamu lakukan bisa dilihat di fitur ini), Bayar Belanja (baik melalui online ataupun offline merchant), dan Isi Pulsa. Selain itu, Sakuku bisa digunakan selayaknya media sosial. Kita bisa saling terhubung kepada pengguna atau teman yang menggunakan aplikasi tersebut.

Lalu apa bedanya Sakuku dengan Sakuku Plus? Untuk Sakuku Plus ada fitur tambahan seperti fitur Transfer, Split Bill, dan TarikTunai di ATM BCA. Begini penjelasannya, untuk fitur Transfer, kamu bisa mentransfer atau ditransfer sejumlah dana minimal Rp 5.000 antar sesama pengguna Sakuku Plus. Split bill, dengan memakai fitur ini kamu bisa berbagi tagihan ke sesama teman. Pokoknya bayar apa saja bisa dibagi rata. Nah terakhir Tarik Tunai di ATM BCA, dengan Sakuku Plus, kamu bisa tarik tunai di ATM BCA manapun yang bertanda Tarik Tunai Sakuku. Kamu tidak perlu menggunakan kartu lagi semisal kartu ATM untuk tarik tunai. Uang yang ditarik kelipatan Rp 50.000 dengan maksimal penarikan Rp 1.250.000 untuk setiap kali transaksi. Gimana nih? Tertarik enggak?

Dari event #NgobrolBloggerDIY tersebut saya mendapat dua poin menarik untuk dicatat. Dapat dikatakan pula sebagai dua pelajaran yang berharga. Poin pertama, bagaimana mengemas ide agar mampu memiliki nilai jual. Dalam hal ini Mas Cyndo telah berhasil memperkenalkan seni ilustrasi dan menjual karya-karyanya melalui media sosial yang dimiliki. Berani kreatif? Berani dong. Poin kedua, bagaimana di era digital ini dunia perbankan, terutama BCA begitu adaptif terhadap perkembangan teknologi. Beberapa waktu yang lalu saya sempat membuat postingan tentang financial technology yang menjadi tren baru di era ekonomi digital. Kehadiran financial technology ini turut  mendukung produk, sistem, dan layanan keuangan dan dunia perbankan di Indonesia. Nah aplikasi Sakuku merupakan salah satu produk atau layanan financial technology dari BCA, selain internet (BCA KlikPay) dan mobile banking tentunya. Jadi nih guys kalau dompetmu lagi bolong tapi pengin nongkrong enggak apa-apa, asalkan ada saldo di Sakuku ehehe.

Selasa, 27 September 2016

Karena Detak Jantung Begitu Berharga

Ruangan berkapasitas 100 peserta itu kini mulai penuh. Satu per satu peserta menduduki seat yang disediakan. Acara seminar teknopreneurship yang mengundang pembicara salah satu pelaku ecommerce sukses Indonesia akan dimulai 17 menit lagi. Barangkali saya terlalu bersemangat sehingga datang 35 menit lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan panitia. 

Di samping kiri saya ada 2 anak muda yang asyik berbicara. Sepertinya ada sesuatu menarik yang sedang mereka perbincangkan. Saya mencoba mencuri dengar. Dua pemuda tersebut menyebut-nyebut nama Yasa Singgih. Yasa Singgih? Saya cukup penasaran. Namun suasana yang semakin ramai membuat pembicaraan 2 anak muda tadi timbul tenggelam. 

Yasa Singgih. Siapa dia? Saya semakin penasaran hingga mengetikkan 2 kata tersebut di mesin pencari. Terdapat 96.900 hasil pencarian dalam waktu 0,39 detik. Saya baca beberapa artikel yang muncul di halaman pertama google. 

Yasa Singgih merupakan miliuner muda yang sukses di usia 20 tahun. Di usia yang begitu belia, Yasa membawa label fesyen miliknya Mens’s Republik hingga mendunia. Tercatat namanya pernah masuk dalam daftar Forbes sebagai pengusaha muda berpengaruh dalam industri ecommerce Indonesia. 

Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya. Yasa muda harus berjuang mandiri di usia belasan tahun. Di usia 15 tahun, sang ayah mendapat hipertensi dan serangan jantung yang mengharuskan pemasangan ring jantung. Pemasang ring (cincin) jantung merupakan prosedur untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat di bagian jantung. Tentu saja biaya perawatan sang ayah di rumah sakit tidaklah kecil. Bahkan saat itu Yasa sempat bimbang bagaimana membiayai sekolahnya sekaligus pengobatan sang ayah. Semenjak itu Yasa bertekad untuk mencari uang sendiri demi kesembuhan sang ayah tercinta. Kisah Yasa menyentuh hati saya. 

Kilas balik. Saya jadi teringat Eka, seorang sahabat asal Lombok yang mengambil jurusan seni rupa. Eka seangkatan dengan saya. Semangat dan motivasinya untuk kuliah di Pulau Jawa luar biasa tinggi. Ketika berkunjung ke kosannya, sejumlah alat lukis seperti kanvas-kanvas, palet, cat air, cat minyak, dan juga sketsa-sketsa bertebaran. Saya mengagumi bagaimana Eka mengekspresikan karya-karyanya melalui goresan kanvas.

Belum lama ini Eka diwisuda setelah menyelesaikan pendidikannya selama 4 tahun. Namun sayang, Eka menghadap Tuhan lebih cepat dari saya. Saya mendengar kabar tersebut dari Mbak Linda, teman dekat Eka. Kena jantung dek, begitu kata Mbak Linda. Singkat.

Lagi-lagi jantung. Sungguh sedih membayangkan orang yang dicintai meninggal karena penyakit jantung. Penyakit kardiovaskular atau jantung adalah salah satu mesin pembunuh paling mematikan di dunia. Berdasarkan artikel yang dipublikasikan oleh Yayasan Jantung Indonesia, dulu mayoritas penderita penyakit jantung adalah orang yang berusia senja. Namun, kini anak muda pun bisa terkena penyakit ini. Salah satu penyebabnya yakni gaya hidup tidak sehat. 
Seperti apa gaya hidup yang tidak sehat itu? Beberapa contoh dari gaya hidup tidak sehat yakni berupa kebiasaan merokok, terlalu sering mengonsumsi minuman beralkohol, junk food, makanan dengan kadar kolestorel tinggi dan sebagainya. Bagaimana gaya hidup yang sehat? Untuk mendukung gaya hidup sehat buat jantung sehat, Yayasan Jantung Indonesia menganjurkan masyarakat untuk menerapkan Panca Usaha Jantung Sehat yang meliputi : seimbangkan gizi, enyahkan rokok, hadapi dan awasi stress, awasi tekanan darah, dan teratur berolahraga. Gaya hidup sehat investasi masa depan.
Sakit itu selain tidak enak bisa menjebol isi kantong. Sakit bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Maka dari itu perlu tindakan preventif untuk mencegah suatu penyakit, apalagi penyakit jantung yang dianggap sebagai monster paling berbahaya. Konsumsi sayur-sayuran, kacang-kacangan, ikan, dan buah adalah modal awal untuk memulai gaya hidup sehat. Olahraga bisa dimulai dengan lari-lari kecil (joging) di pagi atau sore hari. Kalau tidak sempat minimal seminggu sekali luangkan waktu untuk ikut senam. Saya sendiri membiasakan berjalan kaki atau bersepeda jika ke kampus, sebab aktivitas tersebut selain bagus buat kinerja jantung dan paru-paru, bagus juga untuk menguatkan otot kaki. Saya tidak merokok dan sangat menghindari asap rokok. Namun terkadang para perokok pasif berkeliaran bebas di angkutan umum dan fasilitas publik lainnya. Untuk menghindari paparan asap rokok di tempat umum saya sarankan gunakan masker wajah.
Jangan lupa seimbangkan jam biologis dan perhatikan kondisi psikologis kita. Jam biologis dapat diartikan sebagai waktu di mana tubuh harus beristirahat dan melakukan berbagai aktivitas fisik selama 24 jam. Idealnya manusia tidur (istirahat) membutuhkan waktu kurang lebih 7-8 jam per hari. Jangan sampai memaksa tubuh bekerja tanpa jeda, misal dengan lembur sampai pagi. Dalam jangka lama, hal tersebut tidak baik untuk kesehatan jantung. Stres juga bisa memicu hipertensi dan serangan jantung. Lakukan hal-hal menyenangkan bersama orang yang dicintai untuk menghilangkan stres. Travelling dan nonton stand-up comedy misalnya. Cara-cara ini cukup sederhana dan terbilang murah bukan?
Bu Tri adalah guru kimia saya sekaligus figur yang menginspirasi gaya hidup sehat. Saya tahu beliau memiliki riwayat penyakit jantung, tetapi semangatnya mengajar dan mendidik siswanya luar biasa besar. Semangat itulah yang membuat beliau bertahan hingga kini. Saya masih ingat bagaimana wejangan beliau tentang gaya hidup sehat dimulai dari memilah makanan yang akan dikonsumsi. Perhatikan komposisi bahan kimianya! Ujar beliau di suatu kelas kimia. Karena detak jantung begitu berharga!