Kamis, 12 November 2015

Dunia Tido & Friends (Kreativitas, Imajinasi, dan Mimpi-Mimpi)

____________________________________________________________________________
Sekilas Tentang Tido & Friends
____________________________________________________________________________

Dunia anak-anak lekat dengan imajinasi. Lewat imajinasi tersebut terciptalah kreativitas  yang menghantarkan mereka pada mimpi-mimpi. Itulah yang menjadi alasan tim Gobaksor Interactive yang digawangi oleh Iki Mazadi dalam menciptakan aplikasi atau media yang membantu mengasah imajinasi dan kreativitas anak-anak.

Tentunya yang saya maksud di sini adalah anak-anak berusia 3 hingga 6 tahun (anak usia dini). Sebab, anak-anak dalam rentang usia seperti itu sedang berada dalam periode emas masa pertumbuhan (Golden Age Era). Dari situlah sel-sel aktif otak terbentuk. Pertumbuhan sel-sel aktif ini dimulai di usia 3 tahun dan terbentuk secara sempurna di usia 5 hingga 6 tahun. Di sinilah pentingnya optimalisasi kecerdasan anak melalui serangkaian aktivitas yang menyenangkan yang tentunya akan berdampak pada tumbuhkembang termasuk kreativitas dan imajinasi mereka. 

Tido & Friends adalah salah satu hasil olah kreativitas tim Gobaksodor Interactive. Ada beberapa jenis produk yang telah dihasilkan Gobaksodor Interactive di antaranya game, e-book interactive, komik, animasi (2D maupun 3D), dan kini mulai merambah ke dunia Virtual Reality.

Seperti yang diutarakan oleh Iki Mazadi (founder Startup Gobaksodor Interactive), Tido & Friends diharapkan mampu menjadi sebuah media penyampai nilai-nilai kebaikan dan pengetahuan yang membentuk karakter serta kepribadian anak-anak calon pewaris masa depan Indonesia. 

Tido & Friends sendiri adalah karakter imajiner berbentuk binatang yang imut dan lucu. Di dalamnya terdapat 9 tokoh yang memiliki karakteristik berbeda. Mereka adalah Tido (komodo), Fogi (katak), Simoo (sapi), Pinky (naga), Bibu (buaya), Quin (penguin), Chipo (luwak), dan Phipo (naga). Saat ini, telah  ada 3 jenis produk kreatif Tido & Friend, di antaranya : edumini komik, animasi dalam bentuk lagu anak-anak (2D dan 3D), dan e-book interactive berbasis android.

Pantengin terus ya postingan ini sampai akhir karena ada Giveaway 5 DVD animasi (lagu anak Tido & Friends) buat kamu yang mau ikutan. Iya buat kamu.
Gambar GIF 1. Karakter-karakter Animasi Tido & Friends
 _______________________________________________________________________________
Lagu Anak Tido & Friends (Animasi) 
________________________________________________________________________________ 
Mobil Listrik
 
Mobil listrik itu mobil yang keren
Tidak menyebabkan asap polusi
Yang lebih hebat dan lebih keren lagi
Yang membuat adalah teman kita sendiri 
Di Indonesia mobil itu dibuat, negara kita tercinta

Ini adalah sebagian lirik yang saya cuplik dari lagu anak Mobil Listrik. Mobil listrik adalah mobil yang tidak membutuhkan bahan bakar fosil (misal bensin) sehingga tidak menimbulkan polusi udara. Mobil ini hanya perlu diisi ulang (charging) jika kehabisan energi listrik. Mobil listrik digadang-gadang menjadi salah satu kendaraan masa depan yang ramah lingkungan (green car). Di Indonesia ada beberapa teknokrat yang menggagas dan menciptakan mobil listrik, di antaranya Bung Ricky Elson. 

Dari situlah ide awal penciptaan lagu mobil listrik ini. Lagu ini diharapkan memberi insight dan nilai edukasi kepada anak-anak Indonesia agar menjadi generasi kreatif yang mampu menciptakan terobosan-terobosan di bidang teknologi, semisal penciptaan mobil ramah lingkungan (mobil listrik). Tentu saja dalam hal ini peranan orangtua menjadi kunci dalam menumbuhkembangkan proses kreatif anak dalam menciptakan ide-ide. 

Jaman sekarang sangat sulit mencari lagu anak-anak. Apalagi yang cocok untuk usia 3 hingga 6 tahun. Tidak seperti jaman saya ketika masih TK atau SD. Begitu banyak penyanyi cilik bersliweran. Hal-hal semacam ini menjadi tantangan tim Gobaksodor Interactive dalam menciptakan lagu anak. Lagu-lagu tersebut dibuat dalam format animasi agar anak-anak jatuh hati. Selain mobil listrik ada judul lain seperti cita-cita, layar ajaib, dan Indahnya pagi. 

Lagu cita-cita mengajarkan anak-anak akan keindahan mimpi-mimpi. Hey apa cita-citamu di masa depan? Begitulah kira-kira makna yang tersirat. Lagu layar ajaib mengajarkan anak berbuat kebaikan. Lagu Indahnya pagi mengajarkan anak akan pentingnya bangun di pagi hari. 

Berikut saya lampirkan tautan lagu-lagu anak Tido & Friends yang lain yang bisa kamu tonton via Youtube.
1. Layar Ajaib
2. Indahnya Pagi
3. Cita-Cita
________________________________________________________________________________
Edumini Komik Tido
________________________________________________________________________________
Rahasia Antara Pohon & Daun
Belajar Sambil Berlibur
Wortel
Edumini komik adalah komik singkat yang memberikan nilai-nilai kebaikan dan juga pengetahuan untuk anak usia dini. Menarik bukan? Kalau kamu punya ide kreatif untuk Tido & Friends silakan saja sampaikan ide tersebut ke  Fanspage Tido & Friends. Apapun itu. Mungkin ide tersebut berupa narasi dan sebagainya. Cerita berjudul WORTEL di atas adalah ide kreatif saya yang kemudian diolah kembali oleh tim kreatif Gobaksodor Interactive.
_______________________________________________________________________________
Colouring Sheet For Kids
_______________________________________________________________________________

Kalau lembar mewarnai ini anggap saja bonus untuk mengasah kreativitas anak-anak. Kamu bisa mengunduhnya di Album Colouring Sheet For Kids. Jangan lupa di-print dan siapkan alat mewarnai ya?
_______________________________________________________________________________
E-Book Interactive Berbasis Android (Free Download)
_______________________________________________________________________________ 
1. Cita-Cita
Cita-cita @Playstore
Gambar GIF 2. Cita-Cita
E-book interaktif berjudul cita-cita merupakan aplikasi edukasi dalam bentuk e-book yang bisa diunduh via playstore. Didalamnya dilengkapi fitur-fitur berupa game kecermatan, lagu anak cita-cita, narasi teks, serta beberapa benda atau objek dalam e-book tersebut bisa dimainkan. Ada pula jendela untuk memilih halaman yang diinginkan. Selengkapnya kamu bisa mengunduhnya sendiri di tautan berikut Cita-CitaUntuk mendapatkannya kamu tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun sebab e-book ini free alias gratis diunduh siapa saja.

2. Indahnya Pagi
Indahnya Pagi @Playstore
E-book interaktif berikutnya berjudul Indahnya Pagi. Fitur yang disematkan hampir mirip dengan yang pertama (cita-cita). Ada games yang melatih kecermatan juga narasi teks. Juga lagu anak Indahnya Pagi. Jika berkenan silakan unduh di sini Indahnya Pagi
3. Tido di Negeri Huruf 
Tido di Negeri Huruf @Playstore
E-book interaktif Tido di Negeri Huruf membantu anak-anak usia dini mengenal huruf melalui aktivitas yang menyenangkan yakni games. E-book interaktif ini juga dilengkapi lagu anak 'Mengenal Huruf.' Nama-nama benda atau objek yang ada disesuaikan dengan awalan huruf, misal A untuk Ayam. Huruf-hurufnya lengkap dari A hingga Z. Selain itu, Tido di Negeri Huruf bisa dimainkan secara offline. Kalau penasaran silakan mampir ke Tido di Negeri Huruf

Selengkapnya boleh berkunjung ke Gobaksodor Interactive Via Google Play
_______________________________________________________________________________
Capaian Prestasi
_______________________________________________________________________________
Tido & Friends di ajang Baros International Animation Festival 2015
Gobaksodor Interactive sendiri merupakan sebuah digital startup yang berfokus pada digital kreatif yang dirintis oleh Iki Mazadi pada tahun 2012 di Yogyakarta. Saat ini pria yang pernah mengenyam pendidikan di jurusan teknik informatika di suatu universitas di Bandung ini mulai mantap meniti karirnya di dunia digital creative startup. Semenjak tahun 2014, studio Gobaksodor Interactive menjadi sebuah tempat untuk bermain dan berkarya dengan ide-ide kreatif terkait pengembangan aplikasi digital berupa games dan e-book interaktif, animasi 2D & 3D, aplikasi augmented reality & virtual reality, ataupun lainnya terkait ranah digital kreatif.

Selain Tido & Friends, Iki Mazadi dan tim Gobaksodor Interactive telah menelurkan cukup banyak karya. Salah satu dari sekian karyanya yakni desain 3D home interior, desain 3D Candi Borobudur, dan game virtual Reality dengan konsep petualangan luar angkasa (project 3599).
Hasil kreativitas Gobaksodor Interactive
Selama kurun waktu 2012 hingga 2013, Tido & Friends sendiri pernah menyabet beberapa penghargaan, di antaranya juara 3 Indigo Fellowship Telkom kategori game dan komik interaktif (2012) serta harapan 1 dalam ajang Rockstar Intel 2013. Sebenarnya masih ada penghargaan yang lain lagi, tapi 2 aja yang saya tulis cukup kan?

Selain itu, untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas Iki Mazadi pernah mengikutsertakan Tido & Friends ke beberapa pameran, di antaranya Pekan Produk Kreatif Indonesia or PPKI 2013 (jakarta), Business Connect 2013 (Jakarta), ICT Expo 2014 (Jakarta), Baros International Animation Festival or BIAF 2015 (Bandung), dan terakhir Digital Science Technopark 2015 (Semarang).

Apa mimpi-mimpi serta harapan ke depan? Tido & Friends diciptakan sebagai media kreativitas dan visualisasi imajinasi dunia anak-anak. Ini sesuai dengan spirit Gobaksodor Interactive yakni Inspiring, educating,visualizasing, and empowering for children imagination. Harapannya Tido & Friends mampu menjadi media penyampai nilai-nilai tersebut.

Mari mampir ke :
1. Tido & Friends Website
2. Gobaksodor Website 
3. Tidofiends Lands (Official Facebook) 
4Tido & Friends (Fanspage)
_______________________________________________________________________________
Giveaway Tido & Friends 
________________________________________________________________________________
Okay Sobat Blogger. Terima kasih sudah mampir ke lapak saya yang sederhana ini. Nah kali ini saya akan mengadakan giveway yang hadiahnya berupa DVD animasi (10 lagu anak Tido & Friends). Ada 5 DVD dari sponsor saya Gobaksodor Interaktive. So ikuti alurnya ya yang mau ikutan.
A. Syarat dan Ketentuan
  1. Like Fanspage Tido & Friends dan add facebook Tidofriends Lands
  2. Share postingan ini di akun facebook masing-masing
  3. Silakan tulis di kolom komentar postingan ini dengan menyertakan : nama lengkap dan akun sosmed masing-masing (boleh twitter atau facebook)
  4. Berikan ulasan mengenai produk Tido & Friends (Lagu Anak Tido & Friends, Edumini komik Tido, E-book interaktif) pilih salah satu atau ketiganya sekaligus boleh. Tulis di kolom komentar di bawah Nama dan Akun social Media. Apakah kamu punya pengalaman terkait dunia komik, animasi, atau game, kemudian hubungkan pengalamanmu dengan Tido & Friends. Apakah kamu kesulitan mencari media edukasi untuk anak usia dini, kaitkan pengalamanmu dengan Tido & Friends, Apakah anak-anak atau adik kecilmu di rumah tertarik dengan komik atau lagu Tido, silakan bagi pengalamanmu di sini. Apakah review Tido & Friends ini menarik menurutmu? Setiap orang pasti punya hal menarik untuk diceritakan. Tulislah bebas sekreatif mungkin. 
  5. Tim Gobaksodor Interactive akan memilih 4 pemenang dengan komentar/ulasan paling kreatif dan unik (baik berupa masukan, saran, support, dan sebagainya). Sedangkan 1 Pemenang akan diundi secara random (acak) oleh saya. Jadi siapapun bisa dapat kesempatan untuk mendapatkan DVD ini (total 5 DVD). 
  6. Menjelang deadline GA, saya mau memberi tambahan hadiah buat para pemenang. Hadiahnya yakni oleh-oleh khas Yogyakarta berupa 3 kaos (bertuliskan Yogyakarta), 3 buah tas rajut/tas etnik mungil, dan @ 3 gantungan kunci (bertuliskan Yogyakarta/Malioboro) untuk 3 pemenang beruntung. Hadiah diundi secara acak oleh saya. 
B. Periode Giveaway dan Pengumuman Pemenang 
  1. Masa Berlakunya Giveaway ini dimulai dari tanggal 13 November hingga tanggal 8 Desember 2015. 
  2. Para Pemenang Giveaway Tido & Friends akan diumumkan di fanspage Tido & Friend pada tanggal 15 Desember 2015.    

Minggu, 08 November 2015

The Mahuzes (MIFEE & Cerita Getir Perampasan Tanah Ulayat)

________________________________________________________________________________
Seperti yang saya janjikan di postingan sebelumnya yakni Papua di Mata Jogja, saya akan membuat ulasan film dokumenter The Mahuzes. Jika kamu baca Papua di Mata Jogja, mulanya saya mengira akan ada akan diskusi dan pemutaran film Raja Ampat dalam acara bertajuk #CorakTanahPapua, tapi ternyata tidak. Film yang diputar justru berjudul The Mahuzes. Pada awalnya saya agak sedikit kecewa. Saya datang meluangkan waktu dari  jam 19.30 WIB ke Fisipol UGM untuk menyaksikan film Raja Ampat. Bukan The Mahuzes.

Tapi saya salah kira, justru dari The Mahuzes ini saya belajar banyak hal. Saya belajar bagaimana menjadi seorang Indonesia yang mencintai bumi pertiwi. Saya belajar menghargai keragaman. Saya belajar memahami sebuah budaya, karena di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. 

Dari film dokumenter ini pula saya menyaksikan sebuah kisah pilu, sebuah ironi yang melanda Bumi Cendrawasih. Cerita getir bagaimana Suku Malind bermarga Mahuze memperjuangkan tanah ulayat dari investasi kelapa sawit dan MIFEE Project yang menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan dan ketahanan energi nasional. Saya tak menyesal hadir di sana, sebab pada malam itu saya mendapat sebuah insight yang begitu berharga. 
________________________________________________________________________________
The Mahuze 
(Cerita Getir Perampasan Tanah Ulayat)

Suku Malind tinggal di pelosok Merauke. Merauke adalah kabupaten yang letaknya di wilayah paling timur Indonesia. Luas tanah Merauke sekitar 4,7 juta hektare dan 95.3% adalah hutan. Di Merauke terdapat beragam jenis suku, salah satunya Suku Malind. Suku Malind pun memiliki beragam marga. Mahuze adalah salah satunya. 

Seperti halnya suku-suku Papua lainnya yang tinggal di pedalaman dan pegunungan, masyarakat Suku Malind adalah kaum pemburu dan peramu. Mereka tidak terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam dan beternak. Bagi mereka hutan adalah rahim ibu yang memberikan kehidupan. Dari hutan mereka bisa langsung memperoleh makanan dengan berburu binatang dan memangkur (memanen) sagu. Sebab alam menyediakan segalanya secara gratis. 

Namun, semua itu berubah sejak dicanangkannya MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate. Proyek MIFEE mendatangkan investor-investor asing tentunya. Dalam film dokumenter tersebut, Presiden Jokowi mengeluarkan sebuah pernyataan yang cukup mencengangkan. Merauke akan menjadi lumbung pangan dan energi nasional. Maka dari itu perlu penyediaan lahan sekitar 1,2 juta hektare yang digarap dalam kurun waktu 3 tahun untuk merealisasikan hal tersebut. Ini mimpi atau ilusi?
Hutan di Merauke yang dibuldozer dengan alat berat.
Sumber : Fanspage Ekspedisi Indonesia Biru
Perlu kita ketahui bahwasanya makanan khas Papua adalah sagu. Titik. Demikian pula suku Malind dan suku-suku lainnya di Papua. Sagu adalah makanan pokok. Seperti halnya kita makan nasi. Proyek MIFEE ini seakan-akan membunuh masyarakat Papua secara tidak langsung. Dengan ditebang hutan-hutan yang kemudian diubah menjadi lahan produktif untuk pertanian padi dan kelapa sawit menjadikan Suku Malind di Merauke kehilangan tumpuan utamanya, lahan sagu. Selain itu, mereka juga kebingungan jika generasi selanjutnya hendak membangun rumah. Sebab kayu-kayu dari tanah mereka yang seharusnya digunakan untuk membangun rumah telah diratakan dengan tanah oleh perusahaan. 

Bagi hasil antara Suku Malind (pemilik tanah) dengan perusahaan kelapa sawit (pengelola) dinilai tidak adil. Perusahaan menggunakan skema 80 : 20. Delapan puluh persen keuntungan diserahkan kepada perusahaan. Sisanya untuk pemilik tanah. Terkadang perusahaan tidak menunaikan kewajibannya dengan baik. Perusahaan melanggar kesepakan yang telah dibuat dan hukum adat setempat . Perusahaan memperluas lahan kelapa sawit melebihi patok-patok yang menjadi batas tanah ulayat yang dianggap sakral oleh Suku Malind. Suku Malind menjadi terasing dan terusir di negerinya. Bukan hanya itu, tingkat melek huruf, pendidikan, sumber daya manusia yang masih terbatas di kalangan Suku Malind membuat sebagian dari mereka mau bekerja sebagai buruh sawit di perusahaan tersebut.
Rusaknya hutan ulayat karena proyek MIFEE
Sumber : Fanspage Ekspedisi Indonesia Biru
Belajar dari hal tersebut, masyarakat dari Marga Mahuze melakukan upaya penolakan masuknya perusahaan kelapa sawit di wilayah mereka. Sebab, Marga Mahuze menyaksikan sendiri dusun tetangga telah kehilangan tanah mereka. Tak hanya kehilangan tanah, dusun tetangga juga kesulitan mencari sumber pangan. Tak ada lagi sagu untuk dipangkur (dipanen).

"Dulu Kali Bian airnya bisa diminum. Airnya bersih sebelum adanya perusahaan. Tapi dengan adanya perusahaan, kami tidak bisa lagi mimun. Untuk minum kami harus pergi beli air atau masak air dari sumur." Ujar salah satu Marga Mahuze ketika ditanya kondisi air di Sungai Bian. Kondisi Sungai Bian telah tercemar oleh limbah perusahaan.

Keadaan itu diamini oleh Darius Nenob Mahuze,"Kami sekarang tidak bisa melihat ikan di bawah permukaan air." Sungguh ironis.

Konflik di sini bermula ketika salah satu sesepuh Marga Mahuze menerima 'amplop' dari perusahaan. Sejak saat itu perusahaan datang dengan mengerahkan buldozernya. Hutan ulayat  hendak diratakan dengan tanah. Pada tanggal 21 Juni 2015, para marga mengadakan Rapat Mahuze Besar untuk bermusyawarah mengenai hal tersebut. Menjelang tengah malam situasi semakin memanas. Namun akhirnya disepakati bahwasanya tanah ulayat Marga Mahuze tidak boleh dijual kepada perusahaan kelapa sawit. Apapun yang terjadi.

Cerita lebih detailnya bisa kamu saksikan sendiri di video berdurasi 1 jam 25 menit berikut ini (full movie). Film ini dibuat oleh tim Ekpedisi Indonesia biru yang beranggotakan seorang jurnalis foto (Ucok Suparta) dan videografer (Dandhy D. Laksono). Pengambilan gambar dari atas udara begitu menakjubkan. Gambar dan video tersebut direkam via drone (robot terbang yang dilengkapi kamera beresolusi tinggi). Kamu bisa menyaksikan keindahan alam Merauke dan perjuangan panjang Marga Mahuze melalui film ini.
_______________________________________________________________________________
Sekilas Tentang MIFEE 

Proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energi Estate) berbasis agroindustri tersebut digagas di era Presiden SBY pada tahun 2010, kemudian tongkat estafetnya dilanjutkan oleh Presiden Jokowi. Pada awalnya proyek ini bernama MIRE (Merauke Integrated Rice Estate) dan diinisiasi oleh Bupati Merauke John Gulba Gebze pada tahun 2007. Merauke dipilih sebagai grand design MIFEE tak lain karena banyak lahan basah dan potensial yang luas dan subur di sana. Apalagi setelah pemekaran wilayah pada tahun 2002. Luas lahan basah dan potensial tersebut mencapai 4,5 juta hektare. Proyek ini disusun guna mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi dan juga menciptakan ketahanan pangan dan energi nasional.
Seorang warga dari Dusun Zanegi, Distrik Animba, Merauke menatap nanar hutan
tempat dia mencari sumber pangan dan sandang yang telah rata dengan tanah.
Sumber : Reddplus. go.id
Namun tak berapa lama berselang, proyek ini menuai kritik dan reaksi tajam dari berbagai kalangan. Mereka yang melontarkan sorotan tajam tersebut tak lain adalah orang-orang LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan NGO (Non Governmental Organization), pejabat pemerintah setempat, media, suku-suku asli Merauke dan sebagainya. Proyek MIFEE ini justru lebih banyak menciptakan kerugian materi dan nonmateri bagi Pribumi Papua.

Banyak hak-hak pribumi Papua yang tercerabut. Para pribumi Papua akan mengalami kendala dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang. Seperti sudah saya jelaskan di bagian sebelumnya, bahwa pribumi Papua adalah kaum pemburu dan peramu. Mereka tidak terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam, bertani dan berdagang. Mereka murni mengandalkan hasil hutan. Konflik perebutan tanah adat atau tanah ulayat dimulai dari sini. Para investor dan pengusaha berdatangan mendirikan perusahaan dan industri setelah mengantongi izin hak guna hutan dari dinas terkait.

Dampak negatif lainnya adalah pencemaran air. Selain membabat habis hutan dan menghilangkan sumber pangan dan sandang pribumi Papua, air sungai menjadi terkontaminasi oleh limbah. Tidak hanya limbah kelapa sawit, tetapi juga limbah kayu serpih. Pribumi Papua kesulitan mencari air bersih dan ikan-ikan di sungai. Sepertinya perusahaan lepas tangan dan tutup mata terhadap hal tersebut.

Hiks. Sedih.

Sobat blogger, tulisan ini saya buat agar menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua.

Yogyakarta, 9 November 2015
_________________________________________________________________________
Sumber referensi :
1. Ekspedisi Indonesia Biru 
2. Catatan pribadi saat Talkshow #CorakTanahPapua
3. MIFEE, Tongkat Estafet Lumbung Pangan SBY ke Jokowi 
4. Belum Ada Masyarakat yang Bisa Hidup Dari MIFEE 
5. MIFEE dan Mimpi Swasembada Pangan
6. MIFEE di Merauke Adalah Genosida

Selasa, 03 November 2015

Papua di Mata Jogja

________________________________________________________________________________
#CorakTanahPapua
Jumat, 30 Oktober 2015

Papua. Apa yang kamu ketahui tentang Papua? Selain Papua bagian dari NKRI dan berada di wilayah Indonesia Timur dengan penduduk lebih dari 3 juta jiwa? Saya sendiri belum pernah sekalipun berkunjung ke Papua. Saya hanya mendengar sekilas-sekilas tentang Papua. Ketika mendengar Papua, saya jadi teringat Freeport (yang tentu saja membuat saya geram). Saya juga teringat akan kuliner khas Papua bernama Pepeda yang bahan dasarnya adalah sagu. Juga koteka dan noken. Papua memiliki banyak sekali suku dan juga tradisi. Ada pula rumah-rumah Honai (diperuntukkan untuk kaum lelaki) dan Ebai (diperuntukkan untuk kaum perempuan) yang beratapkan alang-alang. Sekilas bentuk rumah-rumah tersebut mirip jamur.

Dulu ketika saya SMA, ada salah satu televisi swasta yang menelisik keindahan Papua melalui segmen Jejak Petualang. Saya jadi sedikit tahu bagaimana kehidupan sederhana masyarakat di pedalaman Papua. Papua itu indah. Papua itu surga. Apalagi jika berbicara eksotisme Raja Ampat. Hmmm... Raja Ampat ini menjadi primadona dan andalan pariwisata Indonesia. Wisata bawah lautnya itu lho. Bikin mupeng kan? 
Lomba fotografi #CorakTanahPapua
Pagi menjelang siang, saya mendapat informasi dari @area_jogja (twitter) ada suatu acara bertemakan Papua di UGM. Ketika saya klik posternya mata saya langsung autofokus pada pemutaran film Raja Ampat. Acara tersebut bertajuk #CorakTanahPapua dan berlangsung selama dua hari, yakni dari tanggal 30 hingga 31 Oktober 2015 di Fisipol UGM. Ah cuma Fisipol, naik sepeda 10 menit aja cukup, batinku kala itu. Harus ikut nih! Untuk tahu poster lengkapnya silakan klik di sini

Dalam dua hari tersebut, terdapat 2 talkshow dan 2 sesi diskusi. Selain itu, juga ada pameran dan wisata kuliner di selasar Fisipol UGM. Sepertinya penyelenggara (Keluarga Mahasiwa Papua UGM) ingin menampilkan Papua dari perspektif budaya dan juga pendidikan, makanya tak salah jika judul talkshow di hari pertama adalah Papua di Mata Jogja. Sedangkan talkshow di hari kedua mengambil judul Strategi dan Pengembangan Pendidikan di Papua. Sesi diskusi di hari pertama (berdasarkan yang tertulis di poster) adalah pemutaran film Raja Ampat. Sedangkan sesi kedua, berupa diskusi Peluang Beasiswa Bagi Mahasiswa Papua

Kajian seperti ini ini sangat menarik menurut saya, dan tahun depan harus diadakan lagi. Acara-acara yang saya ikuti biasanya lebih berkaitan dengan dunia kepenulisan atau teknopreneurship. Baru kali ini saya menghadiri acara atau diskusi semacam ini. Saya yakin, pasti ada hal menarik yang bisa saya gali. Mata jurnalistik saya menyala.

Oh ya satu lagi, acara ini free kok alias untuk ikut tidak dipungut biaya. Namun, panitia hanya menyediakan 100 seat untuk peserta. Makanya saya kudu cepat-cepat daftar dan menanyakan apakah masih ada seat untuk saya hari itu. Ternyata masih ada. Meski free entry, peserta yang ikut kudu mendonasikan minimal satu buku untuk Papua. Tak masalah. Saya punya cukup banyak koleksi buku kok. Hari itu saya mendonasikan 3 buah buku sekaligus. Semoga buku-buku itu bisa bermanfaat di sana.
________________________________________________________________________________
Sorong dan Puncak

Ketika saya sudah berada di selasar fisipol UGM, saya diarahkan panitia yang stay di sana untuk menuju salah satu gedung di lantai 2. Saya datang sendiri ya elah kelihatan deh jomblonya. Namun di sana saya berkenalan dengan 2 mahasiswi dari salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) di Yogyakarta. Saya masih ingat, nama mereka Ika (asal Magelang) dan Anis (asal Klaten). 

Mayoritas peserta yang hadir 87% orang Papua. Sisanya nonPapua, termasuk saya, Ika, dan Anis. Almost booked seats were full. Saya perhatikan hampir semua kursi yang ada terisi penuh. 

Sesi talkshow kali ini menghadirkan 4 narasumber utama dengan didampingi 1 orang moderator dari Pokja Papua UGM. Dua narasumber merupakan pejabat daerah asal Papua, Stepanus Malak (Bupati Sorong) dan Willem Wandik (Bupati Puncak). Sedangkan 2 narasumber yang lain merupakan ketua Kesbang Limas (Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat) dan ketua STPMD (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogyakarta. 

Hanya beberapa poin menarik yang saya catat di sini. 

Materi pertama disampaikan oleh Pak Stepanus Malak, berhubung waktunya terbatas, setiap pembicara menyampaikan materinya kurang lebih 10 menit. Pak Stepanus kemudian menampilkan peta Kabupaten Sorong dalam slide powerpoint. Kemudian, beliau menjelaskan kondisi pendidikan yang ada di sana. Dulu, sekolah-sekolah negeri di Sorong tidak sebanyak seperti sekarang. Yang ada sekolah berbasis agama yang dibangun oleh gereja setempat. SD inpres letaknya di pedalaman, sedangkan untuk melanjutkan ke jenjang SMP, para pelajar harus pergi ke kota (yang jaraknya cukup jauh hingga berkilo-kilometer). Para pelajar terdidik tingkat SMA/SMK jarang sekali, apalagi sarjana. Biaya pendidikan mahal. Namun, Pak Stepanus adalah salah satu orang yang beruntung, sebab beliau bisa mengenyam pendidikan S2 di UGM. 

Toleransi dan keberagaman dijunjung tinggi di Sorong. Orang jawa, Sumatra atau etnis manapun diberi kebebasan untuk beribadah menurut keyakinannya masing-masing. Alhamdulilah, kita doakan semoga Sorong selalu diberi kedamaian dalam keberagaman. Tidak hanya Sorong, tetap juga Papua dan Indonesia tentunya.
Selain menjujung tinggi toleransi, Pak Stepanus cukup tegas menindak warganya jika ketahuan meminum miras alias mabuk-mabukan, meskipun itu saudaranya sendiri. Tindakan ini diakui sendiri oleh sang moderator acara, Pak Bambang Purwoko selaku ketua Pokja Papua UGM. 
Kabupaten Puncak dari udara. Sumber : www.skyscrapercity.com
Materi kedua disampaikan oleh Pak Willem selaku Bupati Puncak. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Puncak merupakan kabupaten tertinggi se-Indonesia (dengan ketinggian mencapai 2.309 Mdpl) dan wilayah ini adalah bagian dari pemekaran Kabupaten Puncak Jaya. Kabupaten Puncak terdiri dari 8 distrik (semacam kecamatan) dan diresmikan pada tanggal 21 Juni 2008 oleh Mendagri Mardiyanto. Kabupaten Puncak letaknya cukup terisolasi karena topografinya dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan. 

Ketika saya menulis postingan ini, saya mencari dan menelusuri berita-berita terkait Kabupaten Puncak. Apa yang saya temukan, membuat saya tak bisa berkata-kata. Sungguh miris. Di sepanjang Juli 2015 ini, ada beberapa titik di distrik tertentu di Kabupaten Puncak yang rentan sekali terhadap cuaca ekstrem (dari hujan es hingga badai salju). Distrik Agandagume adalah wilayah dengan kondisi terparah. Distrik Agandagume berlokasi di lereng Gunung Jayawijaya di bawah Puncak Cartenz (Puncak Jaya) yang konon katanya memiliki salju abadi. Maka tak heran daerah-daerah di sepanjang jalur ini sering dilanda cuaca dingin ekstrem hingga badai salju. Karena kondisi tersebut, lahan-lahan pertanian banyak yang rusak (membeku), kelaparan merajalela, dan ternak-ternak banyak yang mati. Belum dapat dipastikan berapa korban jiwa yang meninggal akibat siklus tahunan ini. Parahnya, akses transportasi yang terbatas dan infrastruktur yang tidak memadai menghambat proses evakuasi dan pemberian bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan. 
Distrik Agandagume, Kabupaten Puncak. Sumber : www.skyscrapercity.com
Menurut portal online lewatmana.com, Pak Willem sempat berbicara dengan Presiden Jokowi mengenai kendala dan tantangan yang dihadapi di Kabupaten Puncak. Kendala tersebut lebih terkait dengan penyediaan infrastruktur dan sarana transportasi yang belum memadai. Hal tersebut berimbas pada harga kebutuhan pokok  dan penunjang lainnya yang menjadi sangat mahal. Sekadar contoh, harga satu sak semen bisa mencapai 2 juta rupiah. Harga satu botol air mineral bisa mencapai Rp 50.000. Fantastis bukan? Dengan kisaran harga segitu bisa dibayangkan kan sobat blogger jika bantuan sulit dikirimkan mengingat biaya sewa pesawat dan bahan bakarnya tidaklah murah. 

Yah seperti itulah kondisi Kabupaten Puncak ketika mengalami cuaca ekstrem. Ini siklus tahunan. Kita doakan ya Sobat Blogger semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan bisa menemukan solusi.
_______________________________________________________________________________
Papua di Mata Jogja

Kita kembali lagi ke talkshow Papua di Mata Jogja Yuks. Nah di kesempatan ini, Pak Willem sempat memberikan motivasi dan wejangan agar para mahasiswa Papua yang menimba ilmu di Jogja, mau kembali ke daerah dan membangun Papua setelah purnastudi.

Ketika sesi diskusi alias tanya jawab berlangsung, banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan. Dari situ saya mendengarkan curhatan salah satu anak muda Papua yang kuliah di STPMD, betapa sulitnya dia mencari kos-kosan ketika menjadi mahasiswa baru. Betapapun sudah banyak kos-kosan yang dia sambangi, tetapi tetap saja para pemilik kos tidak menerima mahasiswa asal Papua tadi. Ada apa ini? Apakah Jogja sudah tidak toleran terhadap kaum pendatang dari Indonesia Timur?

Selain itu, betapa ribetnya birokrasi untuk mendirikan asrama anak-anak Papua. Ah entahlah. hiks.

Anak-anak muda Papua diidentikkan sebagai trouble maker. Padahal bisa jadi hanya satu atau dua oknum yang melakukan pelanggaran, tapi stigma buruk begitu melekat pada mahasiswa asal Papua. Ah, generalisasi. Tidak demikian kok. Nyatanya, justru dari talkshow ini saya mendapatkan keramahan ala Papua dari Panitia dan juga peserta yang hadir.

Diskusi tersebut begitu seru dan terbuka. Saya jadi terhenyak ketika salah satu anak muda bernama Metodhius Kossay (menempuh S2 hukum di Atmajaya) berkata dengan lantang kepada audience bahwasanya kita (anak muda Papua) harus membuktikan kalau semua itu tidak benar. Anak Papua hebat. Mari tunjukkan itu dengan prestasi, karya, dan juga karakter yang baik. Kontan saja, gemuruh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan.

Saya jadi teringat prestasi yang pernah diraih anak-anak muda papua dalam ajang Olimpiade Sains tingkat nasional dan internasional beberapa waktu silam. Prof. Yohanes Surya pun mengakui akan hal itu. Mereka berhasil merebut medali emas, perak, dan perunggu. Anak-anak muda Papua ini berhasil mengharumkan Indonesia.

Di forum diskusi ini saya melihat anak-anak muda Papua dengan mimpi-mimpi dan harapan akan masa depan. Saya melihat spirit antusiasme dalam jiwa mereka. Usia saya dan mereka bisa jadi tak jauh beda atau selisih 2 hingga 3 tahun saja. Namun saya berharap, kelak 10 atau 15 tahun kemudian ada perubahan yang lebih baik di tanah Papua. Bukan perubahan yang menghancurkan, tetapi perubahan yang memberdayakan. Guys, kalian yang berada di sinilah yang kelak akan memimpin negeri ini dan Papua! I love Papua.
________________________________________________________________________________
The Mahuze

Saya mau mengulas sesi pemutaran film dokumenter, tetapi di postingan berikutnya ya? Ada hal menarik yang ingin saya bagi. The Mahuze, judul film tersebut (bukan Raja Ampat seperti yang tertera di Poster). Film dokumenter ini berkisah tentang suku Malind yang berjuang mempertahankan tanah ulayat dari perusahaan kelapa sawit yang berinvestasi di Merauke. Film ini berdasarkan kisah nyata dan telah menyentuh hati saya.

Minggu, 01 November 2015

Kala Senggang Ini yang Saya Lakukan

Apa yang kamu lakukan jika kamu lagi enggak sibuk alias punya banyak waktu luang atau weekend tiba? Hah! jangan bilang kegiatanmu cuma makan, nonton TV, atawa mantengin facebook. Yah enggak apa-apa sih kalau facebookmu itu bisa dimanfaatkan buat monetize alias menghasilkan uang (misal kamu jualan produk via social media) atau berbagi sesuatu yang bermanfaat. Lha kalau facebook atau social media cuma kamu gunakan buat update status galau sekaligus stalking mantan #Eh or mantengin gebetan yang enggak jelas juntrungnya bakalan ke pelaminan atau enggak kan buang-buang waktu dan energi tuh #halah.

Mendingan ya spirit dan energi muda yang kamu miliki, kamu manfaatkan untuk melakukan aktivitas yang berdampak positif. Apa saja itu? Misal, belajar tutorial CorelDraw & Photoshop via youtube (kalau kamu benar-benar serius bisa di-expertise tuh skill desainmu), membuat DIY creative craft (lumayan kan kalau bisa dijual), belajar copywriting dan internet marketing pada seseorang yang dianggap berpengalaman di bidang tersebut, join komunitas hobi di daerahmu, belajar memasak, membaca novel atau buku inspiratif, dan masih banyak lagi daftar hal positif yang bisa kamu lakukan kala senggang. Apalagi buat yang masih jomblo  sedang melakukan pencarian jati diri seperti saya. Boleh tuh dicoba!

Nah Kalau Arinta sendiri apa yang dilakukan kala senggang? Kalau jaman saya masih jadi organisator di UKM (unit Kegiatan Mahasiswa) tahun 2013-2014, saya suka sekali menggarap event alias jadi panitia. Melalui organisasi saya belajar menjadi event organizer. Enggak tanggung-tanggung levelnya bisa sampai skala nasional lho.

Selain jadi panitia suatu acara, banyak sekali benefit yang didapat saat saya tergabung di organisasi, forum atau klub minat bakat, misal nambah teman. Selain itu, saya bisa menikmati jalan-jalan sekaligus observasi. Pernah nih suatu ketika, organisasi saya (UKM Rekayasa Teknologi) melakukan observasi ke Desa Srandakan (Bantul) di mana sebagian besar masyarakatnya menghasilkan tahu. Melalui tur desa, saya dan rekan-rekan diajak berkeliling ke beberapa pembuat tahu skala mikro. Saya mengamati proses pembuatan tahu, teknologi yang mereka gunakan, sembari bertanya kendala-kendala apa yang dihadapi mereka. Dari sana saya belajar banyak hal. Sungguh, kegiatan seperti ini masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Diskusi antara pemuda (mahasiswa) dan masyarakat  untuk mencari solusi terhadap suatu hal. 

Jalan-jalan, observasi, dan diskusi inilah kegiatan yang saya lakukan saat senggang.

Itu dulu. Sekarang? Akhir-akhir ini saya lebih suka mantengin internet buat cari inspirasi menulis di blog, sembari dikit-dikit belajar tutorial apa gitu. Membaca buku (kadang-kadang). Nonton film dan animasi (kalau bagus buat bahan review di blog). Ikut kajian keagamaan, seminar, workshop, talkshow, dari yang gratisan sampai berbayar.

Okay,berikut saya list saja deh hal-hal apa yang biasa saya lakukan kala senggang :

  • Jalan-jalan sekaligus observasi (saya suka mengamati suatu hal dan bertemu orang-orang baru)
  • Diskusi mengenai suatu hal
  • Membaca buku atau novel
  • Mampir ke perpustakaan atau toko buku
  • Menonton film atau animasi
  • Mensukseskan suatu event (kepanitiaan organisasi)
  • Ikut workshop, seminar, talkshow, training, dan sebagainya
  • Menulis di blog
  • Ikut writing competition (entah dalam bentuk esai, cerpen, blog)
Inilah kegiatan-kegiatan yang saya lakukan saat senggang. Membangun kapasitas diri melalui seminar, talkshow dan workshop adalah salah satu cara yang saya tempuh.

Daripada ngejomblo bulukan di kos, mending saya ikut seminar, talkshow atau workshop kan? Lebih bermanfaat kan? Nah kebetulan pada kesempatan ini (Jumat, 30 Oktober 2015) saya mengikuti sesi diskusi dalam bentuk Talkshow #CorakTanahPapua yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Papua UGM dan bertempat di salah satu gedung Fisipol UGM lantai 2. Saya mengikuti 2 kegiatan hari itu, mulai dari Talkshow PAPUA DI MATA JOGJA hingga pemutaran Film (The Mahuze's). Ada hal menarik yang ingin saya ceritakan. Simak di postingan berikutnya ya?