Minggu, 08 November 2015

The Mahuzes (MIFEE & Cerita Getir Perampasan Tanah Ulayat)

________________________________________________________________________________
Seperti yang saya janjikan di postingan sebelumnya yakni Papua di Mata Jogja, saya akan membuat ulasan film dokumenter The Mahuzes. Jika kamu baca Papua di Mata Jogja, mulanya saya mengira akan ada akan diskusi dan pemutaran film Raja Ampat dalam acara bertajuk #CorakTanahPapua, tapi ternyata tidak. Film yang diputar justru berjudul The Mahuzes. Pada awalnya saya agak sedikit kecewa. Saya datang meluangkan waktu dari  jam 19.30 WIB ke Fisipol UGM untuk menyaksikan film Raja Ampat. Bukan The Mahuzes.

Tapi saya salah kira, justru dari The Mahuzes ini saya belajar banyak hal. Saya belajar bagaimana menjadi seorang Indonesia yang mencintai bumi pertiwi. Saya belajar menghargai keragaman. Saya belajar memahami sebuah budaya, karena di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. 

Dari film dokumenter ini pula saya menyaksikan sebuah kisah pilu, sebuah ironi yang melanda Bumi Cendrawasih. Cerita getir bagaimana Suku Malind bermarga Mahuze memperjuangkan tanah ulayat dari investasi kelapa sawit dan MIFEE Project yang menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan dan ketahanan energi nasional. Saya tak menyesal hadir di sana, sebab pada malam itu saya mendapat sebuah insight yang begitu berharga. 
________________________________________________________________________________
The Mahuze 
(Cerita Getir Perampasan Tanah Ulayat)

Suku Malind tinggal di pelosok Merauke. Merauke adalah kabupaten yang letaknya di wilayah paling timur Indonesia. Luas tanah Merauke sekitar 4,7 juta hektare dan 95.3% adalah hutan. Di Merauke terdapat beragam jenis suku, salah satunya Suku Malind. Suku Malind pun memiliki beragam marga. Mahuze adalah salah satunya. 

Seperti halnya suku-suku Papua lainnya yang tinggal di pedalaman dan pegunungan, masyarakat Suku Malind adalah kaum pemburu dan peramu. Mereka tidak terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam dan beternak. Bagi mereka hutan adalah rahim ibu yang memberikan kehidupan. Dari hutan mereka bisa langsung memperoleh makanan dengan berburu binatang dan memangkur (memanen) sagu. Sebab alam menyediakan segalanya secara gratis. 

Namun, semua itu berubah sejak dicanangkannya MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate. Proyek MIFEE mendatangkan investor-investor asing tentunya. Dalam film dokumenter tersebut, Presiden Jokowi mengeluarkan sebuah pernyataan yang cukup mencengangkan. Merauke akan menjadi lumbung pangan dan energi nasional. Maka dari itu perlu penyediaan lahan sekitar 1,2 juta hektare yang digarap dalam kurun waktu 3 tahun untuk merealisasikan hal tersebut. Ini mimpi atau ilusi?
Hutan di Merauke yang dibuldozer dengan alat berat.
Sumber : Fanspage Ekspedisi Indonesia Biru
Perlu kita ketahui bahwasanya makanan khas Papua adalah sagu. Titik. Demikian pula suku Malind dan suku-suku lainnya di Papua. Sagu adalah makanan pokok. Seperti halnya kita makan nasi. Proyek MIFEE ini seakan-akan membunuh masyarakat Papua secara tidak langsung. Dengan ditebang hutan-hutan yang kemudian diubah menjadi lahan produktif untuk pertanian padi dan kelapa sawit menjadikan Suku Malind di Merauke kehilangan tumpuan utamanya, lahan sagu. Selain itu, mereka juga kebingungan jika generasi selanjutnya hendak membangun rumah. Sebab kayu-kayu dari tanah mereka yang seharusnya digunakan untuk membangun rumah telah diratakan dengan tanah oleh perusahaan. 

Bagi hasil antara Suku Malind (pemilik tanah) dengan perusahaan kelapa sawit (pengelola) dinilai tidak adil. Perusahaan menggunakan skema 80 : 20. Delapan puluh persen keuntungan diserahkan kepada perusahaan. Sisanya untuk pemilik tanah. Terkadang perusahaan tidak menunaikan kewajibannya dengan baik. Perusahaan melanggar kesepakan yang telah dibuat dan hukum adat setempat . Perusahaan memperluas lahan kelapa sawit melebihi patok-patok yang menjadi batas tanah ulayat yang dianggap sakral oleh Suku Malind. Suku Malind menjadi terasing dan terusir di negerinya. Bukan hanya itu, tingkat melek huruf, pendidikan, sumber daya manusia yang masih terbatas di kalangan Suku Malind membuat sebagian dari mereka mau bekerja sebagai buruh sawit di perusahaan tersebut.
Rusaknya hutan ulayat karena proyek MIFEE
Sumber : Fanspage Ekspedisi Indonesia Biru
Belajar dari hal tersebut, masyarakat dari Marga Mahuze melakukan upaya penolakan masuknya perusahaan kelapa sawit di wilayah mereka. Sebab, Marga Mahuze menyaksikan sendiri dusun tetangga telah kehilangan tanah mereka. Tak hanya kehilangan tanah, dusun tetangga juga kesulitan mencari sumber pangan. Tak ada lagi sagu untuk dipangkur (dipanen).

"Dulu Kali Bian airnya bisa diminum. Airnya bersih sebelum adanya perusahaan. Tapi dengan adanya perusahaan, kami tidak bisa lagi mimun. Untuk minum kami harus pergi beli air atau masak air dari sumur." Ujar salah satu Marga Mahuze ketika ditanya kondisi air di Sungai Bian. Kondisi Sungai Bian telah tercemar oleh limbah perusahaan.

Keadaan itu diamini oleh Darius Nenob Mahuze,"Kami sekarang tidak bisa melihat ikan di bawah permukaan air." Sungguh ironis.

Konflik di sini bermula ketika salah satu sesepuh Marga Mahuze menerima 'amplop' dari perusahaan. Sejak saat itu perusahaan datang dengan mengerahkan buldozernya. Hutan ulayat  hendak diratakan dengan tanah. Pada tanggal 21 Juni 2015, para marga mengadakan Rapat Mahuze Besar untuk bermusyawarah mengenai hal tersebut. Menjelang tengah malam situasi semakin memanas. Namun akhirnya disepakati bahwasanya tanah ulayat Marga Mahuze tidak boleh dijual kepada perusahaan kelapa sawit. Apapun yang terjadi.

Cerita lebih detailnya bisa kamu saksikan sendiri di video berdurasi 1 jam 25 menit berikut ini (full movie). Film ini dibuat oleh tim Ekpedisi Indonesia biru yang beranggotakan seorang jurnalis foto (Ucok Suparta) dan videografer (Dandhy D. Laksono). Pengambilan gambar dari atas udara begitu menakjubkan. Gambar dan video tersebut direkam via drone (robot terbang yang dilengkapi kamera beresolusi tinggi). Kamu bisa menyaksikan keindahan alam Merauke dan perjuangan panjang Marga Mahuze melalui film ini.
_______________________________________________________________________________
Sekilas Tentang MIFEE 

Proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energi Estate) berbasis agroindustri tersebut digagas di era Presiden SBY pada tahun 2010, kemudian tongkat estafetnya dilanjutkan oleh Presiden Jokowi. Pada awalnya proyek ini bernama MIRE (Merauke Integrated Rice Estate) dan diinisiasi oleh Bupati Merauke John Gulba Gebze pada tahun 2007. Merauke dipilih sebagai grand design MIFEE tak lain karena banyak lahan basah dan potensial yang luas dan subur di sana. Apalagi setelah pemekaran wilayah pada tahun 2002. Luas lahan basah dan potensial tersebut mencapai 4,5 juta hektare. Proyek ini disusun guna mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi dan juga menciptakan ketahanan pangan dan energi nasional.
Seorang warga dari Dusun Zanegi, Distrik Animba, Merauke menatap nanar hutan
tempat dia mencari sumber pangan dan sandang yang telah rata dengan tanah.
Sumber : Reddplus. go.id
Namun tak berapa lama berselang, proyek ini menuai kritik dan reaksi tajam dari berbagai kalangan. Mereka yang melontarkan sorotan tajam tersebut tak lain adalah orang-orang LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan NGO (Non Governmental Organization), pejabat pemerintah setempat, media, suku-suku asli Merauke dan sebagainya. Proyek MIFEE ini justru lebih banyak menciptakan kerugian materi dan nonmateri bagi Pribumi Papua.

Banyak hak-hak pribumi Papua yang tercerabut. Para pribumi Papua akan mengalami kendala dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang. Seperti sudah saya jelaskan di bagian sebelumnya, bahwa pribumi Papua adalah kaum pemburu dan peramu. Mereka tidak terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam, bertani dan berdagang. Mereka murni mengandalkan hasil hutan. Konflik perebutan tanah adat atau tanah ulayat dimulai dari sini. Para investor dan pengusaha berdatangan mendirikan perusahaan dan industri setelah mengantongi izin hak guna hutan dari dinas terkait.

Dampak negatif lainnya adalah pencemaran air. Selain membabat habis hutan dan menghilangkan sumber pangan dan sandang pribumi Papua, air sungai menjadi terkontaminasi oleh limbah. Tidak hanya limbah kelapa sawit, tetapi juga limbah kayu serpih. Pribumi Papua kesulitan mencari air bersih dan ikan-ikan di sungai. Sepertinya perusahaan lepas tangan dan tutup mata terhadap hal tersebut.

Hiks. Sedih.

Sobat blogger, tulisan ini saya buat agar menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua.

Yogyakarta, 9 November 2015
_________________________________________________________________________
Sumber referensi :
1. Ekspedisi Indonesia Biru 
2. Catatan pribadi saat Talkshow #CorakTanahPapua
3. MIFEE, Tongkat Estafet Lumbung Pangan SBY ke Jokowi 
4. Belum Ada Masyarakat yang Bisa Hidup Dari MIFEE 
5. MIFEE dan Mimpi Swasembada Pangan
6. MIFEE di Merauke Adalah Genosida

26 komentar:

  1. Baca tulisanmu menambah kekagumanku sama adat n budaya indonesia
    Tp miris eh...hutan2 yg jadi zamrud katulistiwa perlahan2 dibabat gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak Gustyanita, justru dari itu saya mengabarkan berita ini. Kasus ini kenapa kurang mendapatkan perhatian pemerintah. Saya berharap ada solusi dari masalah yg dihadapi para pribumi Papua yang tinggal di Merauke :)

      Hapus
  2. Saya jadi penasaran sama film dokumenternya, Mba. Nanti kalau sudah on pc aku lihat, ah. Sekrang save dulu. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Elisa ditonton aja, bagus kok. Menambah wawasan dan pemahamam akan apa yang terjadi di Merauke sana. Enggak rugi sama sekali Mbak Elisa nonton film The Mahuze :)

      Hapus
  3. aku udah nonton mbak, bagus banget emang videonya. Bener-bener ngebuka mata kita tentang sisi gelap dari papua yang nggak kita tau. Ntah gimana nasib pribumi papua nanti :(((

    BalasHapus
  4. Aaaah kangen suasana Fisipol UGM. Nyesel dulu nggak serius kuliah, main mulu. Btw masalah di Papua ada kemiripan dg Riau. Di Riau aku malah sudah diajak lihat langsung ke hutan2nya. Sedih. Meskipun skrg sdh balik ke Jawa, kalau ada apapun isu ttg Riau, misalnya kabut asap kemarin, refleks saja ikut teriak2 meski cuma di socmed. Merasa ada kewajiban moral saja. Kalau tidak kita bantu suarakan, siapa yg tau bagaimana rusaknya alam Papua & Riau?

    BalasHapus
  5. Aku baca ini jadi baper bangeet!! Sumpita.. masalahnya kisahnya kami warga papua mirip dengan di daerahku, kalimantan.. hutan hutan di tebang dan diganti perkebunan kelapa sawit. Mereka nyewa tanah juga seenaknya sendiri kadang malah gak dibayar.. Terus masyarakat sekitar menerima dampaknya yang keji banget menurut aku.. gimana gak keji? Air bersih langka, kita beli per drum 80ribu dan air sungai yang dulu banyak ikan sekarang miris.. ya Allah.. cuma bisa ngadu sama Tuhan..

    BalasHapus
  6. Aih sedih -_-

    Ini seperti kita yang blogger dipaksa meninggalkan aktivitas ngeblog, disuruh jadi penyanyi. Lalu lahan kita ditanami gandum yang bukan makanan pokok kita :(

    BalasHapus
  7. saya sering gumun sama kita sendiri. apa salahnya makan singkong? sagu? apa semua kudu makan nasi? apa kl ga nasi brarti ga maju?

    heran, seribu heran. bukankah Alloh sudah kasih itu alam dg potensi masing-masing?

    BalasHapus
  8. sediiihhh saya bacanya. Kenapa sih pembangunan seringkali merubah kebiasaan hidup manusia? Setuju banget. Masyarakat Papua itu makanan pokoknya sagu. Kenapa harus diubah menjadi nasi? Gagal paham :(

    BalasHapus
  9. lama-lama bakal habis hutan di Indonesia -_-

    BalasHapus
  10. semakin minim saja hutan kita, entah apa jadinya nanti masa depan anak cucu kita
    kasian warga asli disana, semakin sengsara dengan hilangnya sumber daya alam yang biasa mereka nikmati

    BalasHapus
  11. Suka sama tulisan si mbak yang lengkap, saya kemarin juga baca sekilas tentang ini. Dan dengan baca tulisan mbak jadi lebih lengkap lagi.
    Hem, kalau kayak gini, bencana bisa jadi hal yang biasa di Indonesia. hutan semakin menipis.Kasihan generasi penerus kita nantinya, bisa-bisa tidak bisa melihat berbagai macam flora dan fauna di Indonesia

    BalasHapus
  12. Duh sedih banget ya liat hutan gundul gitu.. Miris saama pemerintah yang sampai begini. Seperti kata sebuah quotes " Ketika air sudah tidak ada lagi, tidak ada yang tersisa, barulah kita sadar kalau uang tidak bisa kita makan " Semoga segera ada solusi untuk saudara-sadudara kita disana ..

    BalasHapus
  13. ya ampun habis gitu pohonnya :{

    BalasHapus
  14. Miris banget emang ngeliat hutan2 Indonesia yg udah dibabat habis, makin panas aja deh Indonesia skrg :(

    BalasHapus
  15. wah, artikelnya mbaka Arinta berat, tapi menyentuh, hehehe....saya sudah lama tak ngomongin soal proyek MIFEE, dan tak tau spt apa perkembangannya, rupanya banayk diprotes toh, dan diulas disini, jadi tambah mudeng...... :))

    BalasHapus
  16. Jujur malah saya gak tahu proyek yg namanya MIFEE ini...
    Tapi memang sih ya, pohonnya ditebang dibabat habis gitu malah membunuh sumber pangan mereka...Ya, mudah2an saja segera ada solusi terbaiknya ya. Amin...

    BalasHapus
  17. Kalo liat kondisi hutan kita yang seperti itu, rasanya pengen deh tandatangan petisi untuk memenjarakan para pelakunya....Seenaknya saja mereka merampas hak makhluk2 yang tinggal di hutan dan hak orang2 yang hidup dari hutan. Aarrggghhh....

    BalasHapus
  18. Wah ini gimana coba kalau sudah begini...
    semakin parah aja kondisi hutan di Indonesia..
    sedih mbak lihatnya :-(

    BalasHapus
  19. nyesek sekaligus kesel ih bacanya... ntar mlm nonton ah...

    BalasHapus
  20. bagus banget videonya tapi miris lihatnya kalau kaya gitu keadaanya. Sedihh

    BalasHapus
  21. Salut dengan yg bikin dokumenter. Pas nglihat filmnya aku jadi merinding dan sedih sekali. Cukup kecewa dengan keputusan pemerintah yg lalai berbicara terlebih dahulu dengan masyarakat terutama tetua-tetua adat di sana. Alangkah baik kemajuan teknologi disesuaikan dengan kondisi alamnya. Bukan serta merta mengkultuskan keputusan A di lahan Z. Tidak semua cocok dengan hal tersebut. Perubahan memang penting, tapi jangan sakiti alam. Kita berhutang banyak pada alam. Thanks sudah membuat review film ini ya, Arin. Semoga kita bisa bertemu dan berkolaborasi.

    BalasHapus
  22. halo arin, saya wita dari komunikasi ugm. saya sedang mencari subyek penelitian untuk skripsi saya yang pernah menonton film the mahuzes, jika berkenan apakah saya boleh mewawancarai anda ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh kak, silahkan Add FB saya Arinta Setia Sari buat komunikasi lebih lanjut :)
      Terima kasih.

      Hapus