Senin, 17 Agustus 2015

Book Review : The Power of Bejo

Judul            : The power of Bejo

Penulis         : Octavia Pramono

Editor           : Putu Fajar

Penerbit        : In Azna Books

Tahun Terbit : 2013

Cetakan         : Pertama

Tebal buku     : 124 halaman

Ukuran buku  : 13,6 x 20,5 cm


Kali ini aku mau mencoba mereview buku dengan judul The Power Of Bejo. Ini merupakan review buku pertamaku di blog.

Aku mendapatkan  buku ini juga karena Lucky Factor alias kebejoan. Buku ini tidak beredar di toko buku lho. Kenapa aku tertarik membahas buku ini? Ada beberapa kisah menarik yang ingin aku bagikan.

Benarkan kita bisa mengikat keberuntungan? Jika bisa bagaimana caranya? Beginilah penulis Octavia Pramono menuturkan cerita melalui pengalaman yang dialaminya sendiri dan juga pengalaman orang lain dalam sebuah buku 124 halaman. Simaklah kisah-kisahnya...

A True Story...

First. Ramadhan Yang Menyala.

Sebut saja namanya Bulan (nama samaran). Kisah ini bermula di bulan Ramadhan menjelang lebaran. Dini hari itu, Bulan terjaga dari tidur lelapnya. Lampu mendadak padam. Tidak biasanya. Kegelapan total membuatnya tidak nyaman. Bulan memang tidur lebih awal dari biasanya. Ini membuatnya tak bisa memejamkan mata di malam yang telah larut.

Bulan mencoba membangunkan Sang Suami agar mengecek kondisi sekring listrik di luar rumah. Namun Sang Suami enggan beranjak dari ranjang. Rasa lelah menyergap Sang Suami sehingga membuatnya memilih menarik selimut ketimbang menuruti permintaan Sang Istri.

Di luar terdengar keributan kecil. Samar-samar terdengar teriakan 'kebakaran.' Bulan mencoba memasang telinga. Memastikan apakah suara itu benar-benar teriakan kebakaran. Dan memang benar, ada kebakaran. Kontan saja Bulan membangunkan Sang Suami sekali lagi, kali ini Sang Suami terbangun. Bulan kemudian membangunkan kedua anaknya, sementara Sang Suami mengecek kondisi di luar rumah. Memang benar, ada kebakaran yang melanda kompleks tersebut. Untungnya, kebakaran tidak meluas dan menimbulkan korban jiwa. Maka beruntunglah Bulan beserta keluarganya saat itu. Mereka pun selamat.

Secondly. Salah Alamat Yang Membawa Kesembuhan.

Ini kisah tentang seorang ayah dan putranya, Roy (nama samaran). Sang Ayah telah menderita kencing manis selama kurang lebih 15 tahun. Bayangkan! Penderitaan Sang Ayah harus ditanggung selama itu dengan menjalani perawatan medis. Namun kesembuhan tak kunjung datang. Bahkan kadar gula darah Sang Ayah sudah menunjukkan kode HI (High) dan sudah tidak bisa terbaca saking tingginya. Biasanya levelnya di atas angka 600.

Tindakan medis menunjukkan perubahan yang tidak berarti, membuat Roy berinisiatif membawa berobat ayahnya ke pengobatan alternatif. Letak pengobatan alternatif tersebut di luar propinsi dan jaraknya cukup jauh dari rumah. Di sana mereka berdua tinggal di suatu penginapan.

Selama seminggu, Sang Ayah menjalani pengobatan alternatif tersebut. Diberikannya resep ramuan herbal yang konon berkhasiat menurunkan kadar gula darah. Dikonsuminya ramuan herbal tersebut secara rutin. Namun cara demikian tetap tidak menunjukan perubahan yang berarti. Kondisi Sang Ayah tidak banyak berubah.

Justru saat itu kondisi kesehatan Roy menunjukkan penurunan. Roy terkena demam. Karena takut demam tersebut adalah gejala malaria, maka Roy memutuskan berobat ke dokter. Roy meminta seorang tukang becak yang biasa mangkal di depan penginapan meju ke dokter praktek umum.

Sesampainya di tempat Sang Dokter, Roy segera mendaftar dan mengantri. Karena tak kuasa menahan sakit, Roy tidak membaca papan yang bertuliskan bahwa dokter yang berpraktik di situ adalah dokter spesialis, bukan dokter umum. Spesialis apa, Roy pun tidak tahu.

Sang dokter kemudian mendiagnosis bahwa penyakit yang diderita Roy adalah demam biasa bukan gejala malaria. Lega sekali perasaan Roy. Mungkin Roy terlalu lelah. Roy kemudian bercerita tentang dirinya yang bukan merupakan warga di daerah tersebut. Sang Dokter menanyakan alasan kenapa anak muda seperti Roy bisa sampai 'terdampar' di daerah tersebut. Dan ceritapun mengalir...

Tak disangka, ternyata Sang Dokter adalah spesialis diabetes. Sang dokter mendengarkan penuturan Roy dan rekam medis ayahnya. Sang dokter mendengarkan dengan penuh perhatian. Beberapa saat kemudian, Sang Dokter meminta Roy untuk membawa ayahnya ke tempat praktiknya. Sang dokter akan memeriksa lebih teliti, siapa tahu metode pengobatan yang diterapkan Sang Dokter akan membawa dampak pada kondisi kesehatan Sang Ayah.

Hari berikutnya, Sang Ayah mendapatkan penanganan langsung dari Sang Dokter, hingga pemeriksaan lengkap di laboratorium. Keesokan harinya setelah diperiksa kadar darah Sang Ayah menunjukkan 270. Belum normal memang. Namun ini adalah sebuah kemajuan sekaligus keajaiban, sebab selama 15 tahun terakhir kadar gula darah terendah Sang Ayah adalah menyentuh angka 350. Ajaib bukan?

Third. Luput dari Bus Maut.

Selepas Maghrib, seorang lelaki berjalan terburu-buru memasuki terminal bus. Ia tergesa, berharap masih bisa mendapatkan bus yang melaju ke kampung halamannya. Lelaki tersebut memang sengaja datang menjelang maghrib, sebab ia pernah tertidur di terminal akibat ketinggalan bus. Pada waktu itu kondisi malam hari dan bus yang beroperasi sudah tidak ada lagi. Akhirnya mau tidak mau lelaki tersebut terpaksa tidur di terminal. Tak mau pengalaman itu terulang, lelaki tersebut berangkat saat senja menjelang.

Ditelusurinya bus yang menuju ke kampung halamannya. Ada satu yang lewat. Namun bus tersebut sudah penuh sesak. Penumpang pun berjubelan. Herannya sang kondektur masih melambai dan berkata bahwa bus tersebut adalah bus terakhir yang akan berangkat.

Lelaki tersebut gundah. Akan ikut bus berjubel tersebut atau tidak, sementara sang kondektur, berteriak-teriak memanggil supaya lekas beranjak naik, " Ayo Pak! Cepat Pak!"

Hampir saja lelaki itu hendak beranjak menuju ke bus berjubel penumpang tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba seseorang di sampingnya berkata, "Naik bus yang setelah ini saja Pak. Itu sudah terlalu penuh. Itu bukan bus terakhir."

Lelaki tersebut mengurungkan niatnya. Lega rasanya masih ada bus berikutnya. Benar seperti apa yang dikatakan seseorang di sampingnya tadi, setengah jam kemudian lelaki tersebut sudah duduk nyaman di sebuah bus yang menuju ke tempat tinggalnya. Ini adalah keberuntungan pertama. Lelaki tersebut tak harus berdesak-desakan dengan penumpang lain dan berdiri selama kurang lebih 2,5 jam.

Di tengah perjalanan, terjadi kemacetan yang menghambat laju bus tersebut. Apa itu? Ternyata pemirsa, ada sebuah kecelakaan. Ada satu hal yang membuat lelaki tersebut syok tak percaya. Sungguh tak disangka, bus pertama yang penuh sesak dan mengklaim dirinya sebagai bus terakhir itulah yang mengalami nasib naas tersebut. Puluhan orang mengalami luka serius. Bahkan beberapa penumpang yang berdiri dekat di dekat pintu, terlempar keluar dan tewas seketika.

Seketika itu juga lelaki tersebut mengucap syukur tiada tara kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beruntung, dia tidak menaiki bus maut tersebut.

Nah itulah secuil dari beragam kisah yang tertuang dalam buku The Power of Bejo. Terkadang keberuntungan itu bisa dijelaskan lho secara logis kenapa bisa terjadi demikian. Musti ada serentetan peristiwa yang melatarbelakangi keberuntungan tersebut.

Explanation. Berikut kronologinya.

First Case. Ramadhan Yang Menyala.

Di awal, dijelaskan bahwa Bulan tidur lebih awal, sehingga ketika lampu padam ia menjadi sulit terlelap. Kondisi ini membuatnya gelisah, sehingga lamat-lamat mendengar suara teriakan kebakaran. Uniknya saat kejadian tersebut, Sang suami yang berprofesi sebagai wartawan dan seharusnya berada di Aceh dibebastugaskan hari itu juga. Bayangkan jika Sang Suami berada di Aceh, Bulan dalam kondisi terlelap, sementara si jago merah melalap rumahnya. Bayangkan jika skenario ini yang terjadi...

Next, Sang Suami berupaya mengecek keadaan melalui tirai jendela kenapa suasana di luar gaduh. Sang Suami sengaja tidak membuka pintu dan menengok melalui jendela sebab ia khawatir kegaduhan tersebut adalah niat perampok yang ingin menerobos rumahnya. Begitu pintu dibuka para perampok masuk rumah. Namun, ternyata bukan. Itu suara warga sekitar yang berupaya membangunkan para penghuni rumah. Bayangkan jika saat itu, Sang Suami sedang ditugaskan di Aceh. Palingan Bulan tidak akan keluar rumah untuk memeriksa sumber kegaduhan demi keamanan dirinya dan 2 anaknya. Tak lama kemudian nyala api membakar rumahnya.

Untung saja, kejadian tersebut terjadi di malam Ramadhan, di mana ada kebiasaan beberapa warga kompleks untuk keliling membangunkan orang sahur, sehingga api segera dipergoki. Tidak sampai membakar rumah yang lain. Hanya membakar bagian atap rumah Bulan. Api kemudian segera dipadamkan.

Untung pula angin tidak berhembus kencang saat itu, sehingga kobaran api tidak meluas.

Ada kejadian menarik yang kelihatannya sepele tetapi patut dicermati. Nah, karena tergesa-gesa hendak keluar, kunci pintu terjatuh di kegelapan total. Beruntung, kunci tersebut diberi rantai panjang, sehingga mudah mencarinya, meskipun dalam kondisi gelap. Keputusan pemasangan rantai panjang pada kunci tersebut adalah tepat. Ini fakta kecil yang kelihatanya enggak penting, tetapi sangat berpengaruh lho.

Jika ditanya apa yang membuat keluarga tersebut beruntung, mereka bingung tak bisa menjawab.Yang pasti keluarga tersebut punya sebuah kebiasaan. Membaca ayat kursi menjelang tidur sebagai upaya meminta perlindungan kepada Tuhan.

Second Case. Salah Alamat Yang Membawa Kesembuhan.

Dalam ikhtiar merawat ayahnya di luar kota, Roy jatuh sakit. Roy pikir itu malaria. Akhirnya Roy memutuskan pergi mencari dokter umum. Dengan diantar oleh seorang tukang becak, sampailah Roy ke klinik seorang dokter. Rupa-rupanya, terjadi miskomunikasi atau kekeliruan antara Roy dan tukang becak tua yang tidak bisa berbahasa indonesia sehingga niat awal mencari dokter umum, malah diantar ke spesialis diabetes.

Coba bayangkan, jika yang mengantar Roy adalah tukang ojek yang paham bahasa indonesia, atau tukang becak muda nan gesit. Pastilah Roy tidak akan nyasar ke klinik spesialis diabetes. Roy akan diantarkan ke dokter umum. Satu hal lagi, jika selama di sana Roy tidak jatuh sakit, tentunya dia tak perlu berobat dan dipertemukan dengan tukang becak yang tidak paham bahasa Indonesia yang menyasarkannya ke klinik spesialis diabetes tersebut. Kemungkinan ayah Roy pun tidak kunjung sembuh.

Cerita ini adalah cerita tentang perjuangan yang menuntut kesabaran.

Third Case. Luput Dari Bus Maut.

Lihat kronologi keberuntungan lelaki yang selamat dari bus maut tersebut. Pertama, ketika hendak melangkahkan kaki menuju bus yang berjubel, seseorang di sampingnya memberikan informasi bahwa masih ada bus berikutnya yang akan mengantarkannya sampai ke tujuan. Memang benar. Lelaki tersebut, mendapat kursi dantak berdiri berdesak-desakkan selama 2,5 jam. Keberuntungan kedua, bus yang awal hendak ditumpanginya mengalami kecelakaan. So, ia bisa selamat hingga pulang ke rumah.

Mungkin memang belum menjadi takdir lelaki tersebut untuk meninggal. Sebelumnya juga ia pernah selamat dari kecelakaan vespa. Selidik punya selidik, lelaki tersebut adalah ayah dari 3 anak yang masih kecil. Anak tertua masih kelas 6 SD. Menurut penuturan penulisan, istri dari lelaki tersebut memiliki perangai yang tidak baik dalam mengasuh anak-anaknya. Bagaimana jika lelaki tersebut dipanggil Tuhan, sementara 3 anaknya diasuh oleh ibu yang tidak memiliki kepedulian. Kemungkinan anak-anaknya bakalan terlantar.

Satu lagi, menurut penuturan penulis, lelaki tersebut adalah orang yang dermawan dan suka menolong. Kebaikan hatinya mungkin salah satu pintu yang membuatnya selamat dari bus maut. Banyak orang yang mengharapkan serta mendoakannya.Tuhan pun menyayangi lelaki tersebut. 

Nah itu secuil kisah dari beberapa kisah yang ada. 

***

Ada beberapa hal yang patut dicermati dari buku tersebut. Pertama, aku terkadang harus membaca beberapa kali, karena nama tokoh yang ditulis terkadang ditulis Si X, Si, Y, Si Z, Mbak D, di kota S, di kota D dan sebagainya. Kenapa tidak pakai nama samaran saja biar mudah dimengerti. Si X diganti Doni, Si Y di ganti Ucup, misal. 

Yang kedua, beberapa halaman kebalik. Tapi itu tidak masalah. Biasalah terkadang terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki ketika proses cetak atau produksi. 

Overall, buku ini layak untuk dibaca. Pada bab 8 dipaparkan bagaimana cara mengikat keberuntungan di antaranya dengan pemberian dan kebaikan. Juga Ada 4 tips dari Prof. Richard Wiseman agar kita senantiasa beruntung, yakni dengan mengelola perasaan dan mindset. Ini menarik dan perlu diuji coba berkali-kali untuk menemukan polanya. Sebab, tiap-tiap individu memiliki pengalaman yang berbeda-beda terkait luck factor atau keberuntungan. 

Jika ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan atau diskusikan, silakan mention aku di @ArintaSetia atau kirim pesan melalui facebook, Arinta Setia Sari. 

Hope we can be luck people!

1 komentar:

  1. hai, makasih telah mereview buku ini :) BTW dari mana dapetin buku ini, katanya bukan dari toko buku?

    BalasHapus