Kamis, 07 Mei 2015

Sebuah Catatan Kecil (Literasi Versus Akuntansi)

Look! Di bulan Mei ini blogku kosong melompong. Bukannya sok sibuk sih. Tapi ada beberapa kegiatan yang memang menyita waktuku. Skripsi? Oh bukan itu. Entahlah kenapa aku agak sedikit shock kalau membahas skripsi. Apa karena peristiwa di jurusan waktu aku konsultasi dengan kaprodiku? Aku dimarahi habis-habisan. Well, jangan bahas skripsi ya di sini :D

Jujur setelah aku pikir cukup lama, passionku bukan di akuntansi. Aku lebih suka sastra. Aku jatuh cinta pada dunia literasi. Fiksi dan nonfiksi. Entah puisi, cerita pendek, novelet, novel, buku biografi, kisah perjalanan hidup dan juga motivasi. Ya aku sangat tergila-gila membaca. Favoritku adalah buku bacaan populer dengan bahasa yang ringan dan juga renyah.

Lalu kenapa dulu aku enggak memilih sastra? kenapa aku memilih akuntansi? Yupss. pertanyaan itu sangat menggangguku. Aku baru menyadari bahwa aku tergila-gila pada dunia literasi fiksi dan nonfiksi akhir-akhir ini. Oke aku punya beberapa argumen kenapa aku jatuh cinta pada sastra/literasi : 

1. Aku betah berlama-lama nongkrong di Gramedia dan Togamas hanya sekedar baca novel atau kisah inspiratif. Entah dalam tema parenting, kisah-kisah pebisnis sukses, tips dan trik menulis/buku how-to dan sebagainya. Aku suka baca novel berbagai genre. Fantasi. Fiksi ilmiah. Romance. Horor/thriller. Komedi. Dari kelas ringan semacam teenlit/chicklit ( aku dulu suka baca serial-nya Meg Cabot) hingga novel kelas berat yang membutuhkan pemikiran seperti Da Vinci Code-nya Dan Brown. Aku suka novel inspiratif dan fenomenal macam Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, 5 Cm dan masih banyak lagi. 

Aku pernah seharian melahap hampir 3 buku di Gramedia. Aku pernah juga nongkrong hanya untuk membaca Mimpi Sejuta Dollar dan Langkah Sejuta Suluh-nya Merry Riana. Di Togamas, aku melahap novel The Maze Runner sampai kelar. Trilogi best-seller Hunger Games juga aku favoritkan. Pokoknya aku betah banget nongkrong seharian di toko buku. Bukan apa-apa sih, aku cuma enggak punya duit buat beli buku-buku mahal itu saat ini. Aku hanya bisa menikmatinya on the spot di toko buku. Namun aku punya janji. Kalau aku sudah mandiri secara finansial, tuh buku-buku yang pernah aku baca akan akau borong dan aku jadikan koleksi di perpustakaan pribadiku. Aku enggak akan peduli mau menghabiskan anggaran ratusan juta sekalipun. Buku adalah pengetahuan. Mozaik pengalaman dan pemikiran dari sang penulis. 
Sumber. jelajahmedanku.blogspot.com
2. Sebagian teman-temanku di facebook adalah penulis dan juga blogger. Walau aku enggak kenal mereka secara langsung, aku berusaha berteman dan membuat jaringan dengan para penulis. Kebanyakan penulis novel. Ada juga penulis buku bacaan anak. Juga editor dari penerbit mayor. Beberapa pendiri atau pemilik penerbitan. Baik penerbit mayor maupun self-publishing. Aku suka berinteraksi dengan mereka. Stalking pemikiran-pemikiran mereka yang tertuang dalam notes, status, tweet, ataupun postingan di blog/personal web. Saat ini aku memang belum punya karya seperti Mas Dwi Suwiknyo, Mas Ali Muakhir, Bunda Ari Nilandari, Mbak Ruwi Meita, Mbak Dyah Prameswari, Mbak Irfa Hudayati, Raditya Dhika, Asma Nadia dll. Namun Insha Allah aku akan membuat masterpiece-ku. Aku berharap masterpieceku bisa sekelas dan sefenomenal Laskar Pelangi atau 5 Cm. Amin. Tulisan ini sebenarnya sebagai reminder sekaligus motivatorku, yah siapa tahu beberapa tahun ke depan ketika mimpi-mimpiku itu terkabul, aku segera mengingat catatan kecil ini. 

3. Dari kecil aku memang suka membaca. Ayahku dulu suka membawakanku majalah Bobo dan Yunior (Edisi khusus Suara Merdeka untuk anak terbit setiap hari Minggu). Saat kelas enam SD aku tergila-gila pada serial Goosebump-nya R.L Stein. Pernah temanku Novi bawa serial Goosebump (tapi aku lupa judulnya) dan aku harus mengantri untuk membacanya. Waktu SMP ada novel teenlit dengan judul "Dua Kepiting Melawan Dunia" karya Saskia Tjokro dan Sang Penulis tersebut berhasil memenangkan kompetisi menulis novel teenlit 2005. Duh, senengnya kalau karya kita berhasil memenangkan kontes. Saat itu aku berdoa dalam hati agar suatu saat karyaku (entah novel atau cerpen) bisa memenangkan suatu kompetisi. Sekitar tahun 2007 hingga 2009 sebagian besar waktuku habis di perpustakaan. Tak dipungkiri, buku-buku yang aku baca memanduku meraih kejuaraan, baik dalam karya tulis atau Olimpiade Sains. 

4. Aku bergaung di grup kepenulisan. Sudah kujelaskan sebelumnya di poin ke 2 bahwa memiliki jaringan penulis itu penting banget buat aku. So, aku coba-coba masuk beberapa grup kepenulisan. Beberapa grup tersebut memang bagus. Seperti grup #NgajiFiksi, Komunitas Penulis Bacaan Anak, Emak Blogger, Titik Temu. Beberapa grup yang lain enggak jelas alias isinya SAMPAH! Aku tinggalkan grup jenis ini. Kadang grup enggak jelas ini berisi iklan-iklan yang tidak ada kaitannya dengan dunia literasi/tulis menulis. 

5. Aku ikut kompetisi menulis. Beberapa waktu yang lalu aku menghabiskan waktu berkutat di internet hanya untuk riset kecil cerpenku yang berjudul Email Untuk Resti. Aku butuh riset, sebab setting tempat untuk cerpenku tersebut berada di kota Malmo, perbatasan Swedia-Denmark. Pernah dengar Malmo sebelumnya? Ah itu keren banget kotanya. Aku aja baru tahu ketika menulis cerpen Email Untuk Resti. Oh ya cerpen ini aku buat dalam rangka mengikuti lomba menulis Journal Fin Week tingkat DIY. Ini cerpen keduaku. Cerpen pertamaku aku tulis untuk mengikuti kompetisi menulis yang diselengarakan oleh lembaga pers mahasiswa UGM. Kompetisi menulis yang aku ikuti terakhir apa ya? Hmmm... bukan di ranah sastra sih, tapi masuk ke bidang riset ilmiah. Namanya Lomba Inovasi Teknologi Mahasiswa (LITM) 2014 yang diselenggarakan oleh Dikpora DIY. Proposal dan ideku berhasil masuk 5 besar. 
6. Aku betah menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca cerpen online, mendownload versi Pdf, ataupun membaca buku-buku dengan tebal minimal 100 halaman. Aku betah banget duduk berlama-lama di depan layar monitor hanya untk stalking karya-karya penulis Indonesia memalui blog review. Aku juga betah banget blogwalking dari satu blog ke blog yang lain.

Sumpah! ilmu yang saat ini aku incar adalah teknik menulis ala copywriting dan juga bagaimana optimasi SEO. Aku pengin mahir di bidang itu. Ya Allah, bantulah aku bekerja sebagai copywriter/SEO/social Media spesialist dan dekatkan aku dengan maestronya, sehingga aku bisa tahu teknik-teknik copywriting/SEO/social media marketing yang jitu serta bagaimana mengaplikasikannya ilmu tersebut dengan tepat.  #Eh kok curhat jadinya hehehe :D
7. Ikut workshop, seminar, ataupun talkshow yang terkait kepenulisan untuk menambah ilmu. Untuk bulan ini aku menganggarkan dana khusus uuntuk ikut seminar dan juga talkshow kepenulisan.
Workshop Kepenulisan ini diadakan BEM KM UNY 2012
Ini kepanitiaanku yang kedua setelah workshop Public Speaking UKM SAFEL

Paling enggak aku punya minimal 7 alasan besar kenapa aku jatuh cinta pada dunia sastra/literasi/kepenulisan atau apaun itu namanya. kembali ke pertanyaan semula, kenapa aku memilih akuntansi saat kuliah? bukan sastra. Hmmm ada beberapa faktor kenapa aku memilih jurusan akuntansi. Salah satu di antaranya : 

1. Kemenangan di beberapa kompetisi di bidang ekonomi dan akuntansi. Salah satunya olimpiade ekonomi, olimpiade akuntansi dan juga lomba mata pelajaran ekonomi. Kupikir aku cukup smart di bidang akuntansi. So, saat pendaftaran kuliah akuntansi menjadi pilihan pertamaku. Sedangkan pilihan keduaku jatuh pada BK alias Bimbingan dan konseling. Faktanya, saat kuliah di tahun ke-2 dan ke-3 aku menyadari bahwa akuntansi bukanlah passionku. 

Tugas-tugas kuliah yang saling tumpang tindih membuatku jenuh dan sedikit gila. Dulu aku menyimpan beberapa obat pereda nyeri kepala hanya untuk meringankan sakit kepalaku akibat tugas-tugas yang menumpuk itu. Sempat kepikiran aku harus singkirkan obat-obat itu. Aku cuma takut terjadi adiksi terhadap obat-obat itu. Bahkan aku khawatir terjadi kerusakan pada saraf otakku akibat terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri kepala. Untung aku enggak teler di kelas.

Kuliah bukan menjadi sesuatu yang menantang dan menyenangkan bagiku. Kuliah itu tidak lebih dari : datang, presensi, mendengarkan presentasi, mencatat, pulang. Padahal aku sangat tertarik hal-hal berbau kreativitas dan eksplorasi intelektual. Di kelas aku tidak mendapatkan itu. Maka dari itu, pelarianku dari kejenuhan adalah pada organisasi dan juga buku-buku di Gramedia atau Togamas. 

2. Ibuku ingin aku masuk STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Aku tahu usiaku tidak memenuhi kualifikasi STAN saat itu.Lagian, aku agak kesulitan di bagian uji matematika dan juga psikotes. Walau untuk uji Bahasa Indonesia dan bahasa inggris dapat dikatakan lumayan. Aku pikir aku bakalan gagal masuk STAN. Sebagai gantinya dan untuk menyenangkan hati ibuku aku memilih jurusan akuntansi. 

3. Jurusan akuntansi menempati salah satu grade tertinggi saat penerimaan masuk universitas. Termasuk di UNY sendiri. Pada angkatanku 2011, yang mendaftar lebih dari 4000 peserta dari seluruh Indonesia dengan kuota 85 kursi. 4000 : 85. Bayangkan! Aku pikir dengan grade tinggi tersebut, fresh graduate lulusan fakultas ekonomi terutama jurusan akuntansi akan mudah dalam mencari kerja, baik di institusi swasta ataupun pemerintahan. So saat kelas 3 SMA aku milih masuk jurusan akuntansi. Namun sudah kujelaskan sebelumnya seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwasanya akuntansi bukanlah passionku. Aku juga tidak tertarik menjadi akuntan publik. Ibuku ingin aku kerja sebagai PNS atau kerja di bank. Namun hati kecilku menolaknya. Aku ingin bekerja sesuai passionku. Saat ini aku tertarik pada 2 hal : dunia kepenulisan/literasi dan juga dunia kuliner alias art & science of cooking. Aku ingin mendalami 2 hal itu. 

4. Aku dulu pernah bermimpi untuk menjadi entrepreneur. Jurusan akuntansi berkaitan dengan finance suatu perusahaan. Aku pikir jika ilmu ini aku dalami, kelak akan berguna ketika aku memiliki perusahaan sendiri (just dream). Faktanya, jurusan yang lebih cocok untuk bisnis adalah manajemen, bukan akuntansi. Di akuntansi aku mempelajari mata kuliah yang tidak aku minati seperti akuntansi perbankan, akuntansi syariah (njlimet istilah-istilahnya), akuntansi sektor publik, audit keuangan, akuntansi pajak dan sebagainya.Cita-citaku yang lain selain ingin jadi penulis adalah ingin jadi wirausaha di bidang kuliner. Yah semoga suatu saat nanti bakalan terkabul. Amin.

Meskipun aku kuliah di jurusan yang bukan passionku, bukan berarti aku tidak tertarik pada akuntansi ya. Catat itu! Mungkin salah satu faktor yang menyebabkan aku tidak bersemangat di kelas akuntansi adalah tugas-tugas yang menumpuk dan saling tumpang tindih. Aku sering sakit kepala dan sakit fisik karena lelah. Karena lelah dan sakit, aku kadang terlambat masuk kelas. Aku juga tidak suka iklim kompetisi memperebutkan nilai atau IPK. Sedikit-sedikit ditanya teman berapa nilai IPK-ku. Itu menyakitkan dan membuatku jenuh. Nilai IPK-ku tidak njeblok sih. Masih di atas 3 kok. Tapi rasa-rasanya kok gimana ya kalau mahasiwa yang seharusnya ditantang dengan kreativitas dan eksplorasi intelektual dalam hal ide dan gagasan, tetapi di kelas cuma banding-bandingkan berapa nilai/skor IPK antara teman satu dengan teman yang lain. Duh miris. Aku pikir karena sudah dewasa, mahasiwa ditantang pada sesuatu yang lebih besar seperti menciptakan ide solutif atau gagasan kreatif. Hanya di organisasi aku menemukan itu. Aku merasa menemukan semangatku di organisasi. Seberapapun berat tantangan di organisasi, hal tersebut tidak membuatku jenuh. Justru tantangan-tantangan yang ada memperkaya pengalamanku.

Faktor lain yang membuatku jenuh di kelas akuntansi adalah dosen yang jika ujian text book, alias hafalan. Aku dapatkan pengalaman itu di kelas komunikasi bisnis dan beberapa kelas lain. Aku bukan tipikal manusia dengan memori super yang bisa hafal buku tebal ratusan halaman dengan berat lebih dari setengah kilo. Lagipula aku benci soal-soal hafalan. Aku lebih suka soal analisis dan penalaran yang melatih logika berpikir. Jurusan sastra kayaknya lebih cocok di aku. 

Oh ya aku juga enggak suka meresume materi kuliah di lembar-lembar folio bergaris. Kan sudah ada bukunya, kenapa harus diresume? Menghabiskan waktu, energi, kertas, dan isi bolpoint saja. Aku juga enggak suka buat paper untuk tugas kuliah. Namun jika diminta mereview sebuah karya fiksi aku dengan senang hati akan melakukannya. Enggak peduli jika karya tersebut memiliki lebih dari 200 halaman. Atau jika ditantang untuk menggarap cerpen atau novel aku akan menerimanya! 

Dosenku bu Adeng, suatu ketika berujar : Accounting is beautiful. Akuntansi mengajarkan tentang balance alias keseimbangan. Persamaan akuntansi menyatakan sisi debet harus sama dengan sisi kredit. Kalau tidak sama berarti ada kesalahan. Akuntansi bisa menjadi hal yang menyenangkan jika disampaikan dengan cara menarik. Ada beberapa mata kuliah yang aku suka, di antaranya : akuntansi UMKM, audit manajemen dan juga studi kelayakan bisnis. Ilmuku di bidang tersebut masihlah dangkal. Aku ingin belajar dari para praktisi lapangan yang sudah bergelut dengan dunia bisnis dan mau berbagi ilmu yang dimilikinya dengan orang lain. Satu keinginanku yang lain adalah bisa mengajarkan ilmu akuntansi wirausaha/UMKM kepada mereka yang masih  awam di bidang akuntansi. Siapapun bisa belajar dan cinta pada akuntansi. Suatu saat nanti Arinta, kamu bisa jadi konsultan akuntansi UMKM untuk mereka. Percayalah pada Allah, Ta. Bahkan jika memungkinkan, aku tidak akan membebankan tarif. Aku ikhlas berbagi ilmu. Aku anggap sebagai ladang amal dan tabunganku di akherat kelak. Siapapun yang membaca tulisanku hari ini, aminkan saja ya :D 

Aku bermimpi di masa depan. aku menjadi penulis sekaligus pebisnis. Buku-buku karyaku nangkring di Gramedia atau Togamas. Aku dengan senang hati akan memberikan layanan konsultasi gratis bagi pelaku UMKM agar bisnisnya bisa naik kelas. Kalau aku diundang seminar, workshop, talkshow, atau bedah buku aku enggak akan menyusahkan penyelenggara dengan menerapkan tarif yang tinggi. Aku melakukan semua itu dengan ketulusan. 

Maaf ya kalau ada yang bertanya tentang akuntansi saat ini aku belum bisa menjawab. Aku masih harus banyak belajar. Ilmuku masih cethak. Melalui tulisan ini aku juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya untuk semua dosenku di kelas akuntansi. Aku juga meminta maaf jika ada sikapku yang mungkin selama ini kurang berkenan. tulisan ini khusus aku persembahkan kepada dosenku Bu Dhyah Setyorini dan Pak Sukirno. Dosen audit keuangan dan juga statistikku. Hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian. 
Novel-novel Tere Liye. Aku berharap bisa produktif menulis seperti beliau
Oh ya satu lagi, Tere Liye (penulis novel-novel best-seller Indonesia) ternyata dulu kuliah di jurusan akuntansi lho. Kini beliau bergelut dengan sastra. Aku jatuh cinta pada karya-karya beliau (terutama untuk novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Ayahku Bukan Seorang pembohong). Sama seperti halnya aku jatuh cinta pada  literasi. 

*Note : Aku butuh waktu sekitar 20 tahun untuk membuktikan dan merealisasikan impian-impianku ini. Semua dimulai dari tahun 2016 dan diakhiri tahun 2036. paling enggak pada usia 40 atau 45 tahun aku bisa merasakan hasil kerja kerasku selama ini (siapa tahu lebih cepat dari itu). Saat ini aku ingin menikmati prosesnya dulu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar