Sabtu, 23 Mei 2015

Ada Sebuah Cerita Hari Ini (Part #2)

“Writing is an exploration. You start from nothing and learn as you go.” E.L Doctorow quotes (American Author and Editor)
Sabtu, 23 Mei 2015. Ruang Sidang 2 FMIPA UNY
Journal Fun Week with Adhitya Mulya & Azhar Nurun Ala
Jornal Fun Week. Demikian nama Talkshow kepenulisan itu. Diadakan oleh Himafi UNY. Menghadirkan dua pembicara keren, yakni Adhitya Mulya dan Azhar Nurun Ala. Mereka sama-sama menekuni dunia kepenulisan. Bedanya kalau Adhitya Mulya di awal karirnya lebih menyukai menulis skenario film daripada menulis novel, mengawali menulis novel perdana berjudul Jomblo, dan menerbitkan buku-bukunya di penerbit mayor. Novelnya yang berjudul 'Sabtu Bersama Bapak' masuk daftar best-seller. Sedangkan Azhar Nurun Ala adalah seorang blogger yang mulai menulis di tahun 2011. Mas Azhar, demikian aku menyebutnya, telah menerbitkan 3 buku secara self publishing. Cerita tentang Mas Azhar silakan kunjungi  Ada Sebuah Cerita Hari Ini (Part #1)

Awalnya aku enggak tertarik ikut tuh talkshow, tetapi karena aku mengikuti lomba menulis dengan tema "Cerita Cinta Anak Bangsa," maka mau tidak mau aku kudu ikut acara tersebut. Padahal minggu sebelumnya aku sudah ikut acara seminar kepenulisan "Maknai Dunia Dengan Kata" bersama Kurniawan Gunadi. Siapa Kurniawan Gunadi? Oke tulisanku selanjutnya tentang seminarnya Kurniawan Gunadi. But, untuk postingan kali ini aku hanya akan berbagi cerita tentang sharing session with Adhitya Mulya di JWF 2015.

Adhitya Mulya. Pembicara yang satu ini aku kenal saat baca-baca review di salah satu blog yang secara khusus  meresensi novel-novel. Sabtu Bersama Bapak. Judul novel yang sedang nge-hits saat ini alias masuk daftar buku best-seller. Menurut pengamatanku pribadi, novel-novel yang mengulas tentang ayah masih jarang di pasaran. Kalau kamu coba amati di Gramedia atau Togamas, buku fiksi dan nonfiksi dengan tema parenting cenderung menceritakan tentang sosok ibu. Enggak ada yang salah dengan pemilihan tema tersebut kok. Cuma, market untuk tema ayah masih berpeluang cukup besar. 

Sebelum novel Sabtu Bersama Bapak hadir, Tere Liye telah meluncurkan novel berjudul Ayahku (Bukan) Seorang Pembohong. Tak mau kalah, Andrea Hirata menelurkan karya terbarunya di tahun ini dengan judul Ayah. Penulis Azhar Nurun Ala pun melalui self publishing-nya, menerbitkan novel berjudul Seribu Wajah Ayah. Menarik ya readers? 
Novel-novel dengan tema ayah (www.arintasetiasari.blogspot.com)
Sedikit cerita tentang Mas Adhit, dia orang Bandung yang numpang lahir di Medan. Dulu kuliah di ITB ambil teknik sipil. Mas Adhit telah menghasilkan banyak karya di bidang kepenulisan. Karya-karya tersebut di antaranya : Jomblo (2003), Gege Mengejar Cinta (2005), Kejar Jakarta (2005), Traveller's Tale, Belok Kanan : Barcelona (2009), Antologi, Kepada Cinta : True Love Keeps No Secret (2009), Empat Musim Cinta (2010), The Journeys (2011), Catatan Mahasiswa Gila (2011), Mencoba Sukses (2012), Sabtu Bersama Bapak (2014). Liat tuh perjalanan karyanya dari 2003 hingga 2014. 
Karya-karya Kreatif Adhitya Mulya (www.arintasetiasari.blogspot.com)
Karya-karya Kreatif Adhitya Mulya (www.arintasetiasari.blogspot.com)
Hehehe melihat seorang penulis yang produktif berkarya jadi iri ya readers. Bisa berbagi cerita di berbagai acara seperti bedah buku, talkshow, seminar, dan workshop kepenulisan. Mendapat pengalaman menarik setiap berbagi cerita ke pelosok negeri. Terbayang dulu aku pernah jadi panitia-panitia untuk acara semacam ini. Mengundang pembicara-pembicara keren sesuai bidangnnya. Dua kali ngadain workshop kepenulisan untuk program kerja BEM KM UNY (2012 & 2013). Aku juga berdoa dalam hati di setiap kesempatan yang ada, semoga suatu saat aku bisa berbagi cerita seperti orang-orang kreatif itu. 

Well, sepertinya sudah cukup ceritaku tentang Mas Adhit. Sekarang aku mau berbagi catatan dari apa saja yang sudah aku endapkan di neuron-neuron otakku. Selama talkshow yang dimoderatori oleh Febri Nurhayati, aku cuma diam mendengarkan. Aku coret-coret block note-ku jika ada sesuatu yang memang layak dicatat. Aku fokus pada cerita. Sesekali membuat tulisan cakar ayam di block note. Seolah-olah tak ingin kehilangan bagian yang penting. 

Ada beberapa poin yang kutulis dalam catatanku selama Mas Azhar berbagi cerita. 

Poin pertama, mengenai mencari tema yang unik untuk buku kita. Kita kudu berani beda dong ketika mengkonsep ide. Ini strategi untuk meraih market di industri perbukuan. Apalagi jika market digempur dengan tema tertentu yang sudah jenuh. Enggak mengikuti trend yang saat itu sedang hits juga enggak apa-apa kok. Asal karya kita unik dan bisa diterima di pasar. Misal nih, saat cerita romansa dan horor sedang menjadi trend, bolehlah membuat sebuah cerita atau novel dengan tema travelling/perjalanan. Strategi yang diterapkan Mas Adhit ini terbukti berhasil. Buku dengan tema travellernya sukses merebut market. Padahal pada masa itu, tema-tema perjalanan/travelling masih tergolong langka. Keberhasilannya diikuti penulis-penulis lain yang akhirnya mencoba menggarap tema travelling/perjalanan.

Poin kedua, Tips & Tricks dalam menulis. Ada 2 hal yang ditekankan dalam menulis. First, Bagaimana caramu menyajikan sebuah cerita. Secondly, Bagaimana mengemas tema yang berat menjadi ringan. Meskipun disampaikan dengan ringan, sebuah cerita tidak kehilangan kualitasnya. 

Poin ketiga, carilah rockstar-mu. Seorang maestro atau profesional yang sudah berpengalaman di bidangnya. Seorang yang dapat diandalkan, mau mendengarkan, serta dengan kerendahan hatinya mau berbagi pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya. Kalau dalam dunia bisnis ada istilah coaching clinic atau mentorship program. Ya seperti itulah kira-kira menurutku. Sebenarnya kita butuh orang dengan ilmu dan pengalamannya levelnya jauh di atas kita. Karena dari orang-orang seperti itu, kita bisa belajar banyak hal. Dulu, Moammar Emka (penulis Jakarta Undercover dan beberapa novel) adalah salah satu orang yang bersedia  meluangkan waktunya untuk mendengarkan cerita Mas Adhit. 

Demikian poin-poin yang aku catat selama talkshow tersebut. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar