Sabtu, 23 Mei 2015

Ada Sebuah Cerita Hari Ini (Part #1)

Sabtu, 23 Mei 2015. Ruang Sidang 2 FMIPA UNY

There was a nice quote that i got today from a writing talkshow created by Himafi UNY. The quote was from one of two speakers named Azhar Nurun Ala which had made 3 self-publishing book. There is the quote from him : 
"There are 2 things that affect to a succesful person. First, the books that he/she reads. Secondly the people around him/her." 
Yups aku setuju aja sih dengan quote yang  aku kutip dari Mas Azhar tersebut. Ada 2 hal yang berpengaruh besar terhadap kesuksesan seseorang. Buku dan orang-orang yang kita temui. Wait a minutes, kamu boleh menambah elemen lain deh. misal pengalaman dan juga keahlian. Atau apapun itu. Kan  tiap-tiap orang memiliki definisi yang berbeda terhadap kesuksesan dan bagaimana cara meraih kesuksesan itu sendiri. Namun 2 hal tersebut --yakni buku dan orang-orang di sekitar Mas Azhar-- yang mempengaruhi cara pandang serta bagaimana dia mendefinisikan arti sukses.
Hasil olah kreasi Azhar Nurun Ala
Poin pertama, buku. Mas Azhar sudah menulis 3 buku berjudul Ja(t)uh, Seribu Wajah Ayah, dan Tuhan Maha Romantis. Plus buku ke empat berjudul 'Konspirasi Semesta' yang sedang dalam proses penyelesaian. Luar biasa sekali bisa seproduktif itu dalam menulis. Ada keteguhan, konsistensi dan juga kreativitas di dalamnya. Bagaimana seseorang bisa produktif menulis dan kreatif merangkai kata kalau tidak karena semangatnya yang menggebu dalam hal membaca buku. Tentunya buku-buku yang memberdayakan lho ya. Buku-buku yang menginspirasi dan yang disukai. Bisa novel, biografi atau autobiografi seorang tokoh kenamaan, buku how-to atau motivasi, buku dengan tema parenting, kumpulan kisah inspiratif atau kisah sukses, buku apapunlah. Kalau aku sendiri suka buku dengan bahasa ringan tetapi berbobot. 

Aku juga suka baca buku. Terutama novel-novel dan kumpulan kisah inspiratif. Aku kadang mampir ke Perpustakaan kota Jogja dan juga Gramedia sekadar untuk refreshing pikiran dan melihat trend buku terbaru atau mencari tahu buku apa saja yang masuk daftar best-seller. Gimana ya ngejelasinnya? Aku suka deretan buku-buku yang berjejer rapi di rak-rak. Aku suka mencium wangi buku anyar yang baru saja lepas dari segel. Aku suka membaca blurb yang ditampilkan di halaman belakang buku. You know apa itu blurb? Blurb semacam ulasan singkat tentang isi buku yang biasanya ditulis di halaman belakang bertujuan untuk memberi gambaran ringkas tentang isi buku sekaligus membuat orang penasaran untuk membacanya. Selain menilik blurb, aku juga kadang melihat endorsement dari buku-buku tersebut. Siapa saja tokoh-tokoh atau orang-orang tertentu yang sudi meluangkan waktunya untuk membaca buku tersebut dan memberikan semacam pengakuan atau testimoni bahwasanya buku tersebut layak untuk dimiliki. 

Buku adalah hasil olahkreasi dan pemikiran yang dalam dari seorang penulis. Kita tentunya bisa memilah jenis bacaan apa yang disukai, bermanfaat, serta berdampak dalam hal olahpikir. Di dalam sebuah buku terdapat cerita tentang pengalaman, keahlian, dan pemikiran penulis. Dengan membaca sebuah buku berarti kita sedang  membeli pemikiran seorang penulis mengenai suatu hal. Aku jelaskan begini, jika kita membeli makanan berarti kita menukar uang dengan rasa kenyang. Hal demikian berlaku pada buku. Kita membeli pemikiran. Pemikiran sang penulis. 

Bagaimana jika kamu tidak suka baca buku? Tak masalah. Toh sumber bacaan kan enggak hanya dalam wujud buku fisik. Sekarang ada e-book. Ada juga website, e-paper, atau personal blog. Juga koran-koran dan majalah-majalah. Begitu banyak sumber menarik untuk kita baca. Begitu banyak hal keren yang membuka cakrawala pengetahuan dan kudu kita gali.

Untuk membahas poin pertama cukup panjang ya? Berikutnya poin kedua, Lingkaran atau jaringan pertemanan. Orang-orang di sekitarmu yang mempengaruhi dirimu dan mengubah cara pandangmu terhadap arti kehidupan. Aku pikir memilih dengan siapa kita akan berbagi atau bergaul itu penting. Sebab teman itu pengaruhnya cukup signifikan  terhadap kita. Dalam dunia media sosial pun sekarang aku tak sembarang menambah atau mengkonfirmasi teman. Paling enggak lingkaranku adalah mereka yang berkecimpung di dunia kepenulisan, kewirausahaan, branding, rekayasa teknologi, dan juga pendidikan. No alayer apalagi cabai-cabaian. Di dunia maya aja aku selektif memilih lingkaran persahabatan, apalagi di dunia nyata. Kita ini kudu pinter dalam hal memilih lingkungan pergaulan. Bergaullah dengan para visioner yang memiliki mimpi besar, bukan para penggosip yang sukanya mencari-cari titik lemah orang lain. Itu contoh.

Kembali ke topik mengenai Talkshow pagi tadi. Mas Azhar yang doyan banget 'melahap' buku tak sekedar mengendapkan pemikiran-pemikirannya di otak begitu saja. Tetapi dia menuliskan hasil pemikiran tersebut melalui untaian kata di blog. Ya Blog. Mas Azhar adalah blogger. Mas Azhar mulai menulis di blog di tahun 2011. Aku aja  stalking dan blogwalking personal blog-nya Mas Azhar baru-baru ini kok. Sebelumnya aku enggak tahu sama sekali tentang dirinya. Maklum Mas Azhar adalah penulis yang menerbitkan bukunya secara indie melalui self publishing, bukan melalui penerbit mayor
azharologia.com (tampilan muka personal blog Azhar Nurun Ala) 
Tulisan-tulisan di blog tersebut kemudian dia bukukan. Untuk biaya cetak satu judul buku, Mas Azhar berani merogoh kocek sekitar 8 juta rupiah. Modalnya lumayan ya? Buku tersebut dipasarkan secara online secara pre-order. Dari sini Mas Azhar belajar menerapkan ilmu marketing dan juga branding. Padahal Mas Azhar bukan anak ekonomi.

Well, aku akan sedikit bercerita tentang Mas Azhar. Mas Azhar tercatat sebagai mahasiswa jurusan ilmu gizi Universitas Indonesia angkatan 2009. Dia masuk jurusan ilmu gizi karena 'kecelakaan.' Ilmu gizi bukanlah jurusan yang dikehendakinya. Namun karena faktor 'kecelakaan' tersebut dia menemukan belahan hatinya Mas Azhar sudah menikah dan kini sedang menyelesaikan skripsi. Prestasinya di kampus lumayan bagus. Selain pernah menjadi jawara di beberapa kompetisi, Mas Azhar adalah seorang aktivis organisasi. Di BEM dia mengabdi. Mas Azhar tertarik pada 3 hal, menulis, marketing, dan juga branding. Artvocado Creative Studio merupakan usaha kreatif yang dirintisnya dan berfokus pada pengembangan branding UKM.

Ada beberapa persamaan antara aku dan Mas Azhar. Pertama aku suka membaca buku dan menulis. Cita-citaku adalah menjadi seorang writerpreneur dan juga konsultan UKM (aku berharap someday bakal terwujud). Aku mulai menulis dari blog. Aku juga tertarik pada bidang marketing dan juga branding UKM. Jika ada kesempatan dan rejeki lebih aku ingin sekali belajar tentang 3 ilmu tersebut (menulis, marketing, dan branding) dari para maestro di bidangnya masing-masing. Saat ini aku belajar dikit-dikit ilmu branding di grup Creative Branding yang diampu oleh Pak Subiakto sekaligus berlanggan newsletter dari subiakto.net. Aku anak organisasi dan pernah mengabdi di BEM KM UNY 2013. Pernah ikut berbagai kompetisi. Jurusan yang kupilih saat kuliah bukanlah jurusan yang menjadi passion-ku. Makanya aku agak keteteran saat kuliah. Pun dengan skripsiku. Semoga aku dimudahkan skripsi dan ujian tahun ini. Amin.

Selama sesi talkshow tersebut ada beberapa hal yang aku perhatikan dan catat. Pertama Mas Azhar menulis untuk bercerita. Bercerita tentang apa? Apa saja. Termasuk perjalanan hidupnya dan juga mimpi-mimpi. Kedua, tentang pentingnya memiliki bekal ketika ingin memulai sesuatu. Mas Azhar menganalogikan dan membandingkan penyelam versus orang yang tenggelam.

Seorang penyelam tentu akan menyiapkan peralatan yang lengkap sebelum sebelum nyebur ke laut. Mulai dari tabung oksigen, kacamata, sepatu katak, dan juga keahlian dalam berenang. Setelah memasuki dasar laut, seorang penyelam bisa menikmati pesona terumbu karang, koral-koral, dan juga keanekaragaman hayati di dalamnya. Namun hal demikian tak berlaku bagi orang yang tenggelam. Karena tak memiliki keahlian berenang dan juga perlengkapan yang memadai, dia hanya bisa menggapai-gapai permukaan air sembari menjerit meminta pertolongan sebelum akhirnya tenggelam dihempas ombak. Analogi seperti ini bisa berlaku dalam hidup. Untuk memulai sesuatu kita setidaknya kudu memiliki persiapan yang matang. Belajar pula dari 4 tahunku selama kuliah, aku enggak akan gegabah dalam mengambil keputusan.

Cerita ini bersambung di part #2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar