Minggu, 05 April 2015

Cerita Yang Belum Utuh (Part #2 Sebuah Pembuktian)

Ini ceritanya lanjut sekuel kedua dari postingan yang berjudul Cerita Yang Belum Utuh (Part #1 Aku & MJ) Ini nih awalnya kenapa aku dulu ngebet banget pengin bersaing dengan seorang kawan dari kelas IPA bernama MJ. Hanya untuk sebuah pembuktian. Kalau aku pikir-pikir dan flash back ke belakang, ternyata pengalamanku seru juga. Serius pula aku melakukannya. 

Stay here. I will write a story for you...

Between IPA and IPS Class (2009)
Aku enggak tahu dari mana rumor itu berasal. Apa dari kakak kelas, guru-guru, atau mungkin memang stigma itu sudah melekat kuat di alam bawah sadar mereka. Anak IPA lebih baik daripada anak IPS. Wait, aku dulu juga pernah berpikir demikian lho. Lho apa aku enggak jauh beda ya dengan mereka. Aku pernah berpikir bahwa anak IPA itu kerenlah. Pokoknya kalau sudah penjurusan kelas, aku bakalan milih kelas IPA. Ogah masuk IPS. Masa jawara olimpiade biologi tingkat kabupaten Pekalongan masuk kelas IPS. Apa kata dunia? Lha wong salah satu Big Reason aku masuk kelas IPA adalah agar aku bisa bergabung di kelas olimpiade biologi kok. Enggak sabar banget mempelajari kingdom animalia, plantae, protista, fungi, dan monera lagi. Juga melahap buku-buku tebal anak kuliahan macam histologi, ekologi, zoologi, kedokteran dasar, de el el. Siap-siap pula menghafal istilah-istilah latin yang bejibun dalam taksonomi Linnaeaus atau lebih populer dikenal sebagai binomial nomenclature. Wes gampange nama ilmiah mahkhluk hidup. Wuih belagu banget yah aku waktu itu. Pede amat. Ya ampun!

Alasan lain aku pengin masuk jurusan IPA ya karena IPA itu keren. Alasan macam apa ini? Apa logisnya coba? Sungguh tak berdasar. Stereotipe yang masih dipertahankan hingga sekarang. Ada yang bilang anak eksakta lebih unggul daripada anak sosial. Anak eksakta rajin-rajin dan disiplin orangnya. Anak eksakta punya segudang prestasi. Anak eksakta disukai banyak guru. Jika kamu termasuk kaum eksakta berarti kamu termasuk 'orang-orang yang terpilih.' 
Tak heran begitu banyak siswa kelas satu waktu itu berusaha mendapat nilai terbaik agar bisa masuk kelas eksakta alias IPA. Test IQ pun dikerjakan sebaik mungkin. Sebab di jurusan IPA itu hanya ada 3 kelas. Sedangkan IPS kelasnya ada 4. Jumlah yang enggak sebanding. Bahkan ada temanku yang berusaha mati-matian agar bisa masuk di kelas IPA. Sementara yang lain, yang nilainya mepet atau pas-pasan hanya bisa pasrah dan berdoa. Mengharap keberuntungan bisa masuk ke kelas IPA. 
Aku cuma mesam-mesem melihat gelagat dan intensi dari tiap-tiap temanku. Jangan berprasangka aku pilih IPA. Aku pilih IPS kok. Malah aku berjuang dan berdoa mati-matian agar bisa masuk kelas IPS. Ada satu hal yang mengubah cara pandangku mengenai jurusan IPS. Apa itu? Hmmm.... Do alias Drop Out. Percaya enggak aku dulu pernah drop out? Ya sudah kalau enggak percaya aku akan tulis di postingan yang lain. Sebuah cerita tentang drop out yang mengubah hidup serta cara berpikirku. Back to the topic, IPS. Aku ingin mempelajari ilmu sosial dan ekonomi. Karena menurutku ilmu ini fleksibel dan selalu mengalami perkembangan. So, tak ada salahnya aku menjajal dan mempelajari ilmu sosial kan? 

Namun, keinginanku masuk di jurusan IPS ditentang kuat oleh wali kelasku sendiri, Bu Tri Lasmini. Beliau enggak ingin aku gabung di kelas IPS. Lagian beliau tahu prestasiku seperti apa waktu SMP. Sangat disayangkan jika aku melepas bakat ilmiahku begitu saja. Mungkin beliau khawatir aku menjadi stagnan, alias tak berkembang di kelas IPS. Aku pun mencoba meyakinkan wali kelasku dengan sejumlah alasan logis kalau aku akan baik-baik saja di kelas IPS. Lagipula mau gimana lagi, test IQ yang aku ikuti membuktikan bahwa aku lebih cocok masuk jurusan IPS kalau enggak bahasa. Skor test-ku juga rendah. Jika dikonversi dengan huruf maka nilai yang muncul adalah C. Apa C? ada plusnya sih. Etapi aku masuk golongan idiot enggak sih dengan skor seperti itu? Rata-rata temanku kan mendapat B. Lha aku? Ya sudahlah. Toh nilai hanyalah nilai. Aku bukan tipe manusia yang dinilai kecerdasannya berdasarkan angka-angka statistik sebuah test IQ atau test psikologi lainnya.

Sebelum itu aku akan beberkan sejumlah stigma atau stereotip negatif yang melekat kuat di jurusan IPS. Mindset seperti itu bukan hanya menganggu, tetapi juga membelenggu. Bagaimanapun opini macam itu akan membenak dan membentuk model kasta, yang membedakan golongan IPA dan IPS. inferior dan superior gitulah. Itu yang aku benci! 

Apa saja stigma negatif anak IPS? Yups coba aku ulas secara umum. Anak IPS adalah paradoks dari anak IPA. Anak IPS lebih dikenal sebagai anak pemalas. Tukang bolos. Jago berantem. Sering telat. Tidak disiplin. Enggak berprestasi. Jika anak IPS dan IPA berantem, tapi yang salah anak IPS, opini publik menyatakan 'ah biasalah anak IPS, suka berantem, enggak heran aku.' Namun jika berlaku sebaliknya, maka opini yang muncul, 'enggak mungkin, enggak percaya anak IPA ngelakuin hal itu.' Fair enggak sih kedengerannya? Anak IPS dikenal sebagai sosok anak badung. Tampang kriminal. Kaum kamfret!

Apapun jurusan yang dipilih, baik IPA atau IPS it is fine. Enggak usahlah koar-koar dan banyak cakap tentang pilihanmu itu, seolah-olah jurusanmu adalah jurusan terbaik di dunia. Slow down baby. Tenang lho kayak aku. Jurusan yang kamu pilih adalah opsi yang akan mengantarkanmu menjejak masa depan. Bukan hanya itu. Jurusanmu adalah cerminan bakat dan juga kekuatanmu. Berdayakan! Manfaatkan! Sudah itu saja. 

Ye ye ye la la la, *nyanyi di pojok kelas. Akhirnya aku bisa masuk jurusan IPS. Ketika penerimaan rapor wali kelasku dengan setengah rela menulis keterangan kenaikan kelas di program IPS. Beliau juga memberi wejangan agar aku tetap rajin belajar (*ketap-ketip, aku kan anak rajin bu, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung). 

Sejak saat itu aku pun bersumpah. Dengan sumpah PALAPA Patih Gajah Mada, aku akan menyatukan seluruh Nusantara! Ing ngarso sung tuladho.Ing madyo mangun Karso.Tut wuri Handayani. Lho kok? maaf ... maaf itu kan mantra saktinya Ki Hajar Dewantoro, tokoh pendidikan Indonesia. 

Aku ulangi lagi. Sejak saat itu aku bersumpah akan membuktikan bahwa menjadi anak IPS itu HEBAT! Aku akan menghapus stigma itu! Tidak ada yang membanding-bandingkan anak IPA dan IPS lagi, karena ini cuma soal  pilihan. IPA is okay. IPS is fine. Anak IPS juga bisa berprestasi. Anak IPS enggak kalah sama anak IPA kalau soal OTAK! Aku sudah kadung geram soalnya dengan anggapan-anggapan miring tentang anak IPS. Anak IPS adalah anak-anak buangan yang tidak diterima di kelas IPA. Kami kaum yang tersisihkan. But i was really proud to be part of KAUM KAMFRET! Why not?! The thing that i needed at that time was to prove my declaration. It was more than a promise. It was a war! War of myself!

Pembuktian Pun Dimulai...
 Kelas XI IPS I dengan wali kelas bernama Pak Djakimin. Beliau juga mengajar mata pelajaran geografi, favoritku. Aku suka kelas ini. Sangat multikultur penghuninya. Dari yang chinese ampe Batak. Dari yang kurus  ampe gemuk. Berambut lurus versus keriting. Ada golongan anak rajin dan si tukang nyontek. Ada golongan si pembuat onar, si tukang bolos, tukang jajan di kantin, anak gokil dan masih banyak lagi. Aku suka aneka warna itu. Impressive. Sangat menarik.

Setelah berusaha cukup keras selama 6 bulan, akhirnya aku diberi kesempatan untuk ikut kelas olimpiade. Kami di sini dilatih secara disiplin dan private oleh guru mata pelajaran yang terkait bidang olimpiade. Jurusan IPS hanya bisa mengikuti olimpiade ekonomi. Itu Thok! Bidang lain seperti olimpiade kebumian, astronomi, fisika, kima, dan matematika adalah santapan gurih anak-anak eksakta. Oke cerita ini akan aku skip karena akan terlalu panjang jika diuraikan. Namun akan aku posting dalam #edisi khusus Olimpiade Ekonomi (SMA) dan Olimpade Biologi (SMP) di lain kesempatan. 

Tak sia-sia apa yang kukerjakan selama itu. Aku berusaha lebih keras dari yang lain. Aku berdoa lebih banyak. Fokus dan keyakinanku menang begitu kuat. Seakan-akan di depan mata. Aku ingin sejajar dengan anak-anak dari sekolah unggulan di wilayahku yang sering menjadi jawara olimpiade. Aku ingin selevel dengan mereka. Aku cuma punya satu kesempatan. Maka tak kusia-siakan itu. Dulu waktu SMP aku pernah memecahkan rekor, karena menjadi siswa pertama di SMP 1 Tirto yang berhasil menjadi jawara olimpiade tingkat Kabupaten Pekalongan. Tak tanggung-tanggung, juara 1 pula! Lalu kenapa euforia itu tidak aku coba di SMA? Aku terus menanamkan afirmasi positif di alam bawah sadarku. Aku bisa menjadi jawara!
Finally pengumuman dari kompetisi tersebut menyatakan bahwa aku menjadi juara 1 dan terpilih menjadi delegasi sekolah di tingkat provinsi Jawa Tengah. Bukan hanya itu. Di kompetisi yang lain, yakni lomba mata pelajaran ekonomi aku juga meraih juara 1. Di olimpiade akuntansi yang diselenggarakan Universitas Pekalongan aku berhasil meraih juara 3. Aku melawan siswa SMK akuntansi yang notabene sudah mumpuni di bidang akuntansi. Juara 1 dan 2 anak SMK, sedang juara 3 adalah aku. Kata Pak Maryanto, 'jika kompetisi ini tandingnya antar-SMA arinta, bisa jadi kamu juara 1.' Demikian guruku berupaya menguatkanku. Selain di kompetisi, di bidang akademik prestasiku juga lumayan bagus. Aku juara bertahan. Ranking 1 pararel se-jurusan IPS. Nilaiku setiap semester selalu naik. 

Guru agamaku, Bu Nisa sempat memberiku applause dan pujian atas pencapaianku. Kata beliau aku mengharumkan nama IPS yang notabene sering dicap miring. Stigma guru-guru mulai berubah. Baru kali ini ada anak IPS luar biasa. Memang sih stigma yang sudah melekat enggak hilang begitu saja. Masih saja ada guru yang beranggapan kalau anak IPS itu enggak ada apa-apanya dibanding anak IPA. Namun paling tidak pembuktianku telah meruntuhkan tembok yang begitu kuat melekat di benak mereka. Aku merasa ada sedikit perubahan perlakuan terhadap kami. Bu Maya, guru matematika sekaligus wali kelas saat aku kelas 3 begitu bersemangat mengajar kami, anak-anak IPS. 

Semangat itu menular. Di kelas 3, aku duduk sebangku dengan Simon. Dia itu tipikal cowok geek yang sukanya main game dan usil. Menjelang ujian tempat duduk kami ditukar. Aku akhirnya duduk sebangku dengan Simon. Simon yang males belajar aja jadi ketularan ikut rajin. Aneh banget sumpah. Dia juga jadi suka matematika dan geografi. Sepertinya semangat kompetisi dan daya juangnya begitu kuat. Nilai-nilainya meroket. Simon ini sebenernya pintar, tapi lingkunganlah yang membuatnya menjadi sosok yang seperti itu. Dia punya genk. Eh dia anak genk sih sebenernya. Tapi aku senang banget diriku bisa memberikan semangat positif pada dirinya. Simon kuliah di PTS Semarang, ambil akuntansi juga sama kayak aku. 
Enggak hanya itu. Adikku yang baru masuk SMA, setelah aku 'racuni' otaknya, akhirnya memilih jurusan IPS. Terbukti di jurusannya dia berprestasi dan disegani. Stigma negatif itu mulai luntur, Anak IPS bisa HEBAT kok! Guru-guru pun bersemangat mengajar di kelas IPS. Ah semoga atmosfer itu hingga kini masih ada dan melekat. Amin :D

3.39 WIB. Sudah waktunya kamfret (kalong) ini tidur.

Cerita belum selesai ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar