Senin, 13 April 2015

Catatan Kecil (Hilangnya Sepeda Biru)

Kayaknya udah lama ya aku enggak ngeblog. Ya iyalah. Aku galau 3 hari kemaren. Sebenarnya udah buat tulisan di draft, tapi aku hapus lagi. Perasaanku lagi enggak sreg aja buat mposting sesuatu. Ini semua karena hilangnya sepeda biru milik teman kosku, Mbak Asih. Parahnya lagi, yang bertanggung jawab atas hilangnya sepeda itu ya aku. Lha siapa lagi? Wong aku yang pinjam tuh sepeda. 

Segala sesuatu ada hikmahnya kok. Aku yakin hilangnya sepeda itu membuatku sadar akan beberapa hal. Sepertinya Allah mengingatku akan kelalaian-kelalaianku. Mungkin aku banyak dosa. Kejadian tersebut membuat aku merenungkan banyak hal. 

Berikut kronologinya...

Jumat, 10 April 2015. Mirota Gejayan. 
Pengalaman ini aku alami pada hari jumat kemaren saat aku ambil uang di ATM Mirota Gejayan. Kira-kira sehabis maghrib. Biasanya aku ke Mirota Gejayan cuma jalan kaki. Kosku kan deket Mirota Gejayan. Ngapain naik sepeda? Namun senja itu aku lagi males jalan kaki. Aku pinjem deh sepeda biru milik Mba Asih. Aku ke ATM. Ngambil duit. Abis itu beli cokelat di Mirota. 

Pulangnya aku jalan kaki. Dasar OON banget yah aku. Masa tuh sepeda aku tinggal di parkiran Mirota begitu aja. Udah tuh sepeda enggak ada kuncinya lagi. Kalau ada maling tuh sepeda tinggal diembat. Ilang dah. Enggak ada jejak. Sepulang dari Mirota, dengan santainya aku makan cokelat sambil facebookan.

Aku benar-benar enggak ingat kalau aku ke Mirota pinjem sepeda Mbak Asih. Sumpah. Aku blank banget. Kerasukan apa sih pikiranku kok enggak inget aku nyepeda ke Mirota Gejayan. Bahkan sampai Sabtu Siang enggak ada yang nanyain tuh sepeda kok enggak ada di garasi kos. 
Sabtu, 11 April 2015. Kos ULYA
Sabtu malam minggu sekitar pukul 11.15 WIB, Si Anis dan Nurul nanyain keberadaan sepeda Mbak Asih. Lha aku yang waktu itu belum tidur jadi pengin tau ada apa kok udah hampir tengah malam tapi pada berisik. Ada apa ini ? Usut punya usut. Ternyata mereka sedang membahas sepeda yang enggak ada di garasi. Lha terus Si Nurul dan Anis memperdebatkan siapa yang pinjam terakhir. Dan tiba giliranku ditanya apakah aku kemaren jumat pinjam sepeda. Lha dengan muka polos aku menjawab kalau aku enggak pinjam sepeda Mbak Asih. Aku ngambil duit di ATM jalan kaki. Ya ampun aku kok segeblek itu ya? Aku benar-benar enggak ingat.

Tika yang sedari tadi di kamar sibuk dengan laptopnya akhirnya menghampiri kami. Dia bilang kalau dia sempat liat tuh sepeda biru nangkring di parkiran Mirota. Dia pikir Nurul yang pakai tuh sepeda dan dia sedang belanja di dalam. Nurul mengelak. Pada waktu kejadian dia sedang rapat persiapan seminar teknopreneur dan lomba Unitech di Student Center lantai 3. Satu-satunya yang menjadi tersangka adalah aku. Lha siapa lagi coba? Kemudian aku mencoba mengingat kronologi kejadian swaktu aku ngambil duit di ATM. Iya benar. Aku ingat. Waktu itu aku minjem sepeda biru karena aku malas jalan kaki. Aku akhirnya minta maaf pada Mbak Asih dan teman-teman Kos ULYA karena dirikulah penyebab 'kerusuhan' malam itu. Besok paginya aku janji akan nanyain perihal sepda biru itu ke satpam atau tukang parkir Mirota.

Minggu, 12 April 2015. 
Keesokan paginya aku udah siap-siap. Kebetulan pada hari itu ada acara Kopdar Blogger KEB. Pagi-pagi betul abis sholat subuh aku langsung prepare dengan baju dan jilbab warna orange. Sekitar pukul 08.00 aku langsung dateng ke Mirota. Aku tanyain ke satpamnya dan juga tukang parkir. Mereka  bilang enggak tahu keberadaan sepeda itu. Itu artinya sepeda biru tersebut hilang. Apa hilang?! Astaga Naga!!!

Bingung aku harus bagaimana? Apapun yang terjadi aku harus bertanggung jawab. Aku harus mengganti sepeda Mbak Asih yang kuhilangkan. Saat itu juga aku ambil uang di ATMku sejumlah Rp 300.000. Aku harap cukup untuk membeli sepeda second yang kualitasnya setara dengan sepeda biru tersebut. Pun jika uangnya masih kurang, aku akan menggesek ATM lagi. 

Maka dimulailah perburuan sepeda second...

Aku dari jam 9 pagi menjelajah ke sepanjang Jogjatronik, Jalan dekat Mandala Krida, dan enggak tahu deh pokoknya udah muter-muter tapi enggak nemu sepeda yang sreg. Kalau enggak sreg di harga, ya enggak sreg di kualitas. Rata-rata yang ada sepeda cowok. Kalau ada sepeda cewek second harganya Rp 450.000-550.000-an. Busyet. Mending aku beli sepeda mini yang baru di toko sepeda yang letaknya di Ringroad Utara. Palingan harganya dibanderol Rp 500.000. Tahun 2013 aku beliin Nurul sepeda baru di sana dan harganya kalau enggak salah Rp 525.000. Oke ini tahun 2015. Mungkin kisaran harga yang layak untuk sepeda mini adalah Rp550.000 ke atas. 

Tapi Mak,saldo ATM-ku jadi berkurang ... hiksss...

Walau bagaimanapun, kejadian seperti ini menuntutku untuk bertanggung jawab atas apapun yang aku lakukan. Aku jadi lebih mawas diri. Lebih berhati-hati kedepannya agar enggak sembrono lagi. Aku enggak ingin akibat perbuatanku, aku malah menzalimi atau merugikan orang lain. Itu malah lebih melukaiku. Bagaimana jika teman-temanku jadi enggak percaya sama aku lagi? Padahal memperoleh kepercayaan orang lain adalah hal yang sulit. Butuh proses untuk mendapatkan kembali kepercayaan itu. Enggap apa-apa kehilangan sedikit materi. Asalkan aku enggak kehilangan teman. 

Di tengah perburuanku mencari sepeda pengganti, aku terganggu oleh sesuatu. Apakah itu? Yupss Kebisingan dari konvoi motor gede. Suaranya alamak. Berapa desibel sih? Kupingku serasa meleleh. Benar-benar membisingkan. Gaduh. Berisik banget. 

Itu konvoi bukan hanya konvoi mode (motor gede) biasa. ternyata eh ternyata itu konvoi salah satu partai politik. Itu lho parpol yang pakai bendera warna hijau muda. Enggak usah sebut mereklah. Aku enggak tahu kenapa para peserta konvoi membunyikan klakson keras-keras. Udah kayak musim pemilu aja. Sumpah kondisi demikian mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Woi ini bukan jalan emak lo! inget itu! 

Aku heran, ada apa sih dengan orang-orang ini. Apa budaya ini cuma ada di sebuah negeri bernama Indonesia? Mereka berbuat seenak udel dan membuat kebrisikan. Gini ya kelakuan orang-orang yang digerakkan parpol? Sungguh kurang etis. 

Kebetulan aku melewati sebuah gereja. Biasanya hari minggu para jemaat berkumpul untuk kebaktian gereja. Mereka sedang khusyuk nih ceritanya, Eh tiba-tiba motor-motor itu membunyikan klaksonnya keras, saling bersahutan. Kekhusyukan para jemaat jadi terganggu. Oh aku berharap para peserta konvoi segera enyah dari tempat itu! Aku jadi malu. Gimana pandangan jemaat gereja terhadap peserta konvoi? Sebab peserta konvoi mewakili sebuah partai yang dekat dengan simbol islam.

Islam mengajarkan kedamaian. Islam agamaku. Islam yang mengajariku tentang kasih. Tapi ah karena ini...

Tindakan mereka sangat jauh dari nilai-nilai islam. Membuat orang lain tidak nyaman bukanlah perilaku yang diajarkan oleh Rasulullah. Di antara peserta konvoi ada anak-anak muda yang usianya kurang lebih sama kayak aku. Atau malah lebih muda lagi. Miris banget liat generasi muda kayak gitu. Udah macam alat partai aja. Kalau caranya gini, aku jadi semakin enggak demen dan naruh respek sama yang namanya parpol. Eh, dari dulu aku emang enggak demen ding! 

Kok jadi mbahas parpol dan agama ya? 

Well, back to the topic, setelah muter-muter ampe kulit gosong, aku belum nemu sepeda yang harganya cocok di kantong. Hanya ada satu yang cocok. Sebuah sepeda yang dijual di toko sepeda di Ringroad Utara. Harganya Rp 400.000. Kualitas setara harga. Namun berhubung duit yang aku bawa kurang, aku enggak jadi beli hari itu. Mungkin besok Senin aku ke sana lagi. Mungkin. 

Menjelang Maghrib di Kos ULYA
Mbak Asih menanyaiku apakah sepedanya udah ketemu. Aku jawab belum. Yang membuat aku nyesek adalah tuh sepeda ternyata bukan milik Mbak Asih. Itu sepeda milik temannya Mbak Asih. Sepeda itu juga belum jadi hak miliki 100% persen Mbak Asih. Jadi agak ribet kalau sepeda itu hilang. Si empu sepeda yang asli sudah enggak kuliah. Mbak Asih udah agak sulit menghubungi sang pemilik asli sepeda. 

Bah! Musibah! 

Kok jadi ribet ya? Wah aku jadi sangat menyesal atas tindakanku. Sungguh. Ingin rasanya mengulang waktu. Tapi enggak mungkin kan? 
Galau
Aku mencoba sabar. Tenang. Pasrah. Ikhlas. Ini sudah di luar kehendakku.

Aku lalu mencurahkan permasalahanku ke Mas Fahmi Arafat Daulay. Beliau sudah aku anggap sebagi guru sekaligus motivatorku. Aku jelaskan apa yang terjadi. Aku bener-bener kalut. Mas Fahmi menyarankanku untuk melakukan sujud therapy. 

Apa itu sujud therapy? Gini setiap orang pasti memiliki masalah. Sujud therapy dapat dikatakan sebagai jalan spiritual menyampaikan curhatan/permasalahan kepada Allah ketika melakukan gerakan sujud dalam sholat. Saat kamu sujud, ceritakan permasalahnmu kepada Allah. Sebab hanya kepada Allahlah manusia bergantung. Hanya kepada Allahlah segala sesuatu akan kembali. Mengenai apapun hasilnya. Ikhlaskan. Pasrahkan. Biarkan Allah yang akan memberikan yang terbaik untukmu. Intinya apapun masalahnya hanya kepada Allahlah kamu bercerita. Dia sebaik-baiknya tempat bergantung. 

kemudian dalam sujud sholat Isya aku menceritakan permasalahanku kepada Allah. Aku harus ikhlas apapun hasil yang kudapat. Aku hanya bercerita saja. mengalir apa adanya...

Minggu, 12 April 2014. Pukul 21.33 WIB
Dua jam berlalu. Namun aku masih belum puas. Aku berikhtiar sekali lagi. Jika ikhtiarku yang terakhir ini gagal, mau tak mau aku harus menunggu jawaban dari temannya Mbak Asih. Jikalau memungkinkan aku harus mentransfer sejumlah uang pengganti dan sebagainya. 

Ikhtiarku kali ini adalah ke depan Mirota lagi. Entah angin apa yang membisikkanku untuk keluar. Ada penjual gudeg tengah malam di depan Mirota. Ada beberapa pembeli di sana. Aku bingung mau tanya siapa dan gimana menyampaikannya ke mereka. Yakin mereka liat tuh sepeda? 

Aku optimis. Aku akhirnya bertanya ke salah satu pekerja di sana. Ada 3 lelaki. Aku jelaskan titik permasalahan dan kronologinya. Beberapa saat mereka terdiam. Kemudian salah satu dari mereka berkata ke temannya, "barangkali sepeda biru yang kamu bawa." 

Yang ditunjuk bilang kalau dia ingin mengamankan sepeda biru yang nangkring begitu saja seolah-olah tak berpemilik. Dia simpan sepeda biru itu di garasinya yang ternyata lokasinya enggak jauh-jauh amat dari tempatku ngekos. 

Pfuhhhhh. Syukurlah. Akhirnya sepeda biru itu ketemu. Ini adalah tamparan sekaligus pelajaran berharga bagiku. Banyak banget hikmat yang kupetik. Salah satunya adalah sikap bertanggung jawab, kehati-hatian, dan perjuangan hingga titik darah penghabisan. Ikhlas. Pasrah. Berserah diri hanya kepada Allah. 

Terkadang di titik akhir kita menemukan jawaban. Jadi diikhtiarkan dulu. Jangan menyerah begitu saja dan patah semangat. Coba kalau siang itu aku jadi membeli sepeda di Ringroad Utara seharga Rp 400.000, Apa enggak sia-sia? Toh pemilik aslinya bukan Mbak Asih. Mbak Asih hanya minjam punya temannya. Otomatis aku harus transfer lagi sejumlah uang untuk menebus harga sepeda yang sudah kuhilangkan. Jadi kisaran aku mengeluarkan dana antara Rp 600.000 hingga Rp 700.000. Coba kalau malam itu aku enggak keluar bertanya ke pemilik atau pekerja di Warung Gudeg, apa sepeda biru itu bakalan ketemu? Jawabannya begitu dekat. Aku tinggal usaha sedikit lagi.

Cerita ini sungguh AMAZING. Subhanallah deh!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar