Senin, 23 Maret 2015

Rapor, Nilai, & Kemarahan Ibu

Pernah suatu ketika aku mampir di Gramedia Sudirman buat refreshing otak. Naik ke lantai 3. Berderet rak-rak buku. Bingung, mau cari dan baca buku apa. Banyak banget penulis pendatang baru. Juga buku-buku dalam list best-seller dengan konten dan cover yang oke punya. Ada novel, ada komik, buku motivasi, parenting, dan masih banyak lagi. Kalau liat buku kecuali buku kuliah (yang sangat saintifik akademik),  aku seperti monster yang kelaparan. Kalap. Air liurku menetas-nestes. Ya ampun hiperbol banget yah. Ya gitu deh. Apalagi kalau liat cover bukunya Gagas Media. Artistik banget deh pokoknya. Bawaannya kalau lagi banyak duit, tuh buku-buku terbitan Gagas Media mau aku borong. Wait, enggak cuma Gagas Media saja, novel-novel fantasi Mizan juga oke punya tuh. Besoklah aku  buat perpustakaan pribadi kalau sudah punya rumah sendiri. Mungkin raknya aku susun berdasarkan nama penerbit. Atau kategori buku. 

Kembali ke topik sebelumnya, aku ambil 4 buku secara acak dari daftar buku best-seller. Salah satu judul buku tersebut adalah "Berani Menertawakan Diri Sendiri" karya Sulaiman Budiman. Buku ini berkisah tentang kekonyolan-kekonyolan yang pernah dialami sang penulis. Acapkali kekonyolan seperti itu juga pernah kita alami. Tak perlu disesali. Apalagi dimaki. 

Bahasa buku tersebut ringan dan mudah dipahami. Membuat pembaca larut di dalamnya. Walaupun terkadang konyol dan menggelikan, tetapi kisah-kisah di dalamnya sarat makna. Ada juga sisipan pengantar dari Pak Jamil Azzaini. Begini sebagian kutipannya : 
  • Boleh jadi Anda menertawakan diri sendiri dengan mengatakan,"Ternyata, sekalipun sarjana, saya tidak banyak berbeda dengan tukang becak. Bekerja seharian untuk mencari sesuap nasi. Bukankah tukang becak melakukan hal yang sama?"
Ada 44 kisah dari 244 lembar halaman. Ada satu kisah yang berkesan buat aku (tapi aku lupa judulnya).

Diceritakan seorang ibu yang sangat keras terhadap anaknya. Dia ingin anaknya menempati ranking tertinggi di  kelasnya. Selepas pulang sekolah anaknya tak diijinkan bermain. Anaknya harus ikut kursus mata pelajaran seperti matematika, bahasa inggris dan sebagainya. Akhir pekan pun diisi dengan les tambahan, entah itu les musik atau apa. Singkat cerita, kehidupan si anak menjadi sangat tertekan. Sangat sedikit keleluasaan pada dirinya. Pernah suatu ketika si anak mendapat nilai 8 di kelas, alih-alih memberi motivasi, Sang Ibu malah memarahi si anak habis-habisan. Ibunya merasa tidak cukup puas, kemudian bertanya, kenapa hanya mendapat nilai 8? Padahal untuk meraih nilai 8 tersebut Sang Anak sudah berjuang mati-matian. Sang anak semakin ketakutan. Namun ia bingung harus berbuat apa. Sang ayah, melihat kejadian tersebut sebenarnya sangat miris. Ingin sekali Sang Ayah menasehati istrinya agar tidak bersikap demikian keras terhadap anaknya. Namun dia tahu karakter istrinya mudah meledak jika diberi nasihat. 

Kemudian Sang Ayah mencoba memutar otak. Sang Ayah ingin memberi pelajaran berharga untuk Sang Istri. Coba tebak yang dipikir Sang Ayah agar istrinya jera sadar akan perbuatannya dan tidak mengulanginya lagi? 

-BUKU RAPOR SANG ISTRI-

Ya, senjata itu bernama buku rapor. Sang Ayah membongkar lemari dan mencari buku rapor Sang Istri. Sang Ayah memanggil Sang Anak. Jika Sang Anak mendapat nilai yang kurang memuaskan di mata Sang Ibu, perlihatkan ini (buku rapor) ibunya. Demikian nasehat Sang Ayah untuk anaknya. 

Benar saja, beberapa waktu kemudian Sang Anak melaporkan hasil studinya, yang tentu saja dianggap kurang memuaskan bagi ibunya. Sang Ibu, seperti biasa emosinya meledak-ledak. Namun, Sang anak sudah mempersiapkan senjatanya. Diberikannya 'batu bertuah' eh maksudku buku rapor Sang Ibu. Kini Sang anak memberanikan diri untuk bicara. Walau bagaimanapun Sang Anak memiliki harga diri yang harus dipertahankan. Sang anak dengan berani bilang masih mending nilai-nilai yang diperolehnya, sedangkan Sang Ibu nilainya tidak pernah lebih dari KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Nah pada saat seperti itu Sang Ayah masuk, memberikan nasihat secara halus buat Sang Istri alias ibu dari anak tersebut. Sang Ibu malu. Dia juga sadar akan kesalahan yang diperbuatnya. Air mata meleleh di pipinya. Sejak saat itu, Sang Ibu berjanji tak akan berbuat demikian lagi kepada anaknya. 

Berkaca dari kisah nyata itu, aku menertawakan diri sendiri. Benar sekali, kadang orang tua telalu keras terhadap anaknya. Mereka menginginkan anaknya dapat ranking di kelas, tanpa pernah tahu betapa sulitnya seorang anak untuk meraih hal tersebut. Pun jika terpaksa, seorang anak akan menghalalkan segala cara agar hal tersebut tercapai. Termasuk mencontek dan sebagainya. Anak menjadi pesimis, takut, dan menjadi sosok yang ragu-ragu. 

Aku merenung. Flash back ke beberapa tahun silam saat aku masih duduk di bangku SD dan SMP. Aku bisa merasakan ketakutan yang amat sangat pada diri anak itu. Serasa reinkarnasi atau De Javu. Aku dulu juga pernah mengalaminya. Bahkan lebih menyakitkan. Ibuku pernah membanding-bandingkan aku dengan Tari, anaknya teman ayahku. Tari selalu meraih ranking 1 di kelas. Sedangkan aku? Aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dirinya. Sungguh, harga diriku terluka saat itu.
Orang tua dan sekolah telah sukses membentuk sistem kasta dan labelling. Anak-anak ranking selalu menempati posisi khusus di kelas. Dipedulikan dan disayang guru. Sedangkan anak-anak ranking bawah? Selain sering mendapat nilai jelek, mereka juga mendapat stigma si tukang bolos, si anak kurang rajin, si badung, dan sebagainya. Padahal bisa jadi, anak yang  mendapat label jelek tersebut memiliki bakat luar biasa di luar akademik, misal jago baca puisi, jawara di penulisan fiksi, bisa buat aplikasi sederhana dan sebagainya. Oh Pak Bukik Setiawan dan Pak Rene Suhardono aku pengin curhat nih jadinya :( 

Kalau aku punya anak kelak, enggak ingin deh aku masukin ke sekolah formal. Mungkin akan aku perkenalkan ke model home education berbasis pengembangan minat, bakat, dan potensi. Biar sejak kecil bakat dan passion si anak bisa dikembangkan. Tanpa perlu intimidasi, apalagi interupsi. Orangtua adalah guru terbaik. Aku kudu berterima kasih kepada Pak Harry Santosa, Ayah Edy, Bunda Septi Penny Wulandari, Pak Chatib Munif, dan Pak Bukik Setiawan atas inspirasi dan tulisan-tulisan mengenai learning is fun dan bakat

Sudah-sudah ndang skripsimu digarap lho Arinta, terus wisuda. Gek cepet lulus. Kuliah ojo suwe-suwe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar