Sabtu, 21 Maret 2015

Para Perakit Mimpi

Sebuah pemikiran, dari Arinta Setia Sari

Akan Ada Suatu Masa ...

di mana aku bisa melihat anak-anak muda penuh semangat. Anak-anak muda yang optimistis akan masa depannya. Anak-anak muda yang merakit mimpi-mimpi. Anak-anak muda yang yakin akan kemampuannya. Anak-anak muda yang menyibukkan diri dengan segudang aktivitas yang bermanfaat. Anak-anak muda yang menularkan virus positif bagi lingkungan. Anak-anak muda yang berprestasi. Anak-anak muda yang mengharumkan nama negeri. Anak-anak muda yang menginspirasi...

Sungguh aku ingin melihat itu. Vibrasi semangat mereka menyala dan menular padaku. Namun aku harus bersabar menunggu waktu. :D

Tak ada lagi anak-anak kecil yang ketakutan karena nilai jelek. Tak ada lagi remaja tanggung yang kuatir tidak naik kelas. Tidak ada kecurangan dalam mengikuti Ujian Nasional. Tidak ada hukuman yang melukai harga diri. Tidak ada penghakiman yang menorehkan sesal di hati. Tidak ada labelling, kamu bodoh, kamu bebal. Karena setiap anak adalah unik. Setiap anak memiliki potensi dan bakat yang harus dihargai.

PORTOFOLIO
Dengan menggunakan model penilaian ala portofolio, setiap anak dievaluasi progress belajarnya. Tidak ada buku rapor. Portofolio digunakan untuk menilai sejauhmana kemampuan dan kemajuan anak terhadap potensi, keahlian dan juga bakat uniknya . Anak-anak ini dibimbing oleh mentor-mentor yang mumpuni dibidangnya. Anak-anak ini dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masa depan. Sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. 

Kolaborasi adalah kata kunci. Anak-anak muda tersebut diajarkan sedini mungkin untuk bekerja sama dalam tim. Saling melengkapi. Hilangkan sisi egosentris. Karena networking adalah seni.

Brainstorming. Diskusi. Mengemukakan ide dan gagasan sudah menjadi makanan harian. Akan lahir pembicara-pembicara muda di forum-forum kecil. Suara mereka lantang. Lantang mengemukakan mimpi-mimpi. Suara mereka berani. Berani mengungkap ide dari hati ke hati. 

Kelas Foodprenurship
Kelas ini untuk anak-anak muda yang mencintai dunia kuliner. Selain pelatihan di bidang baking and cooking dan manajemen bisnis, anak-anak muda ini disuntik semangat nasionalisme yang tinggi. Agar apa? Agar mereka bangga akan produk makanan indonesia yang beraneka ragam. Dari ujung Aceh hingga Papua. Hey, Indonesia itu negeri yang kaya bukan? Tak heran para penjelajah dunia abad ke 18 dan 19 ingin menguasai jalur perdagangan bumbu dan rempah. Seharusnya negeri kaya ini bisa menjadi negara adidaya. Kamu percaya itu? Thailand saja membanjiri pasar Eropa dan Amerika lho dengan produk kuliner, sayuran, dan juga buah-buahan. Indonesia? 

Kamu tahu apa yang kupikirkan? Aku ingin melihat produk-produk kuliner Indonesia mendunia dan menjadi sebuah trademark tersendiri. Sate Madura. Nasi Padang. Soto kudus. Coto Makassar. Gudeg Jogja Lihatlah Thailand, dia terkenal sebagai surga kuliner terutama street food-nya yang harganya terjangkau bagi kalangan backpacker dunia. Jepang dengan Shusi. Korea dengan bulgogi. Indonesia?

Koki cilik profesional bisa jadi bukan sesuatu yang mustahil. Foodpreneur muda di usia 16 tahun yang memiliki rumah makan dengan 2 cabang mungkin saja terjadi. Bakery shop dan Cafe shop digarap oleh sekumpulan anak-anak muda adalah hal biasa. Muncul pula profesi-profesi baru di bidang foodiegrafi/fotografi makanan dan juga culinary traveller. Apapun bisa dipelajari. Asal ada niat dan kesungguhan.
Sumber.www.feinacademy.com
Sumber.www.superiorequipmentsupplies.com

Kelas Technoprenurship
Anak-anak muda yang tertarik hal-hal berbau rekayasa teknologi bolehlah bergabung di kelas ini. Di kelas ini anak-anak muda tersebut diajarkan dasar-dasar elektronika dan pemrograman. Bayangkan jika di usia 8 tahun anak-anak bisa memrogram robot sederhana. Pada usia 10 tahun mereka mampu merakit robot. Usia 12 tahun mampu mengembangkan DIY drone & robot project (proyek membuat pesawat terbang tanpa awak dan robot yang dibuat sendiri secara kreatif). Di usia 15 tahun menjadi mentor dan mengisi pelatihan di forum-forum kecil untuk adik-adik kelasnya. Usia 14 tahun bisa membuat low cost robot (robot dengan biaya seminimal mungkin). Ambil program kesetaraan SMA dan lulus pada usia 17 tahun. Mendapat beasiswa penuh di MIT USA atau Munchen Jerman. Membuat riset teknologi robotika aplikatif untuk industri dan sebagainya. Lulus cum laude di usia 20 tahun. Balik ke Indonesia. Mengembangkan ilmu yang dimiliki di tanah air. Tidak ada yang tidak mungkin bukan?
Sumber.www.reservesandiego.com
Kelas Digitalpreneurship
Suka nonton animasi. Pengin buat game atau aplikasi IT. Mungkin kelas digitalpreneurship cocok untuk mereka yang masuk kategori geek (gadget freak). Aku membayangkan anak muda punya studio sendiri dan menggarap project game/animasi. Mereka antusias ketika mempresentasikan ide-ide mereka di hadapan para investor. Atau mencari pendanaan via crowd funding (Penggalangan dana yang melibatkan puluhan atau ratusan orang untuk membantu membiayai sebuah proyek yang bersifat komersial).

Misalkan anak usia 14 tahun sudah menjadi game reviewer. Atau bocah usia 11 tahun sudah mahir membuat project game edukatif dengan software blender, Flash, atau Unity. Remaja tanggung usia 15 diundang ke Silicon Valley karena memenangkan sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh Microsoft.
Sumber.www.learningworksforkid.com
Sumber. www.gamessphere.com

Kelas Writerprenurship
Penulis. Editor. Jurnalis. Komikus.Content/copy writer. Ayo ayo apalagi? Di kelas inilah mereka akan belajar. Akan ada banyak buku fiksi dan nonfiksi sebagi sumber kritik dan referensi. Akan ada workshop dan juga seminar kepenulisan. Ada sesi bedah buku serta apresiasi sastra dan karya. Membuat majalah. Mengelola blog dan juga web.

Salah satu penerbit, yakni Mizan aja mengajak penulis muda melalui program "Kecil-Kecil Punya Karya" agar mau produktif menjadi penulis di usia belia. Penulis buku anak di Indonesia jumlahnya masih sedikit. Kebanyakan buku-buku/novel untuk konsumsi dewasa dan remaja. Nah bagaimana jika anak-anak dan remaja di usia belia mengikuti kelas khusus dan dibimbing intensif melalui pelatihan hingga mereka menghasilkan karya. Selain itu, menjadikan kepenulisan sebagai dunia serta passionnya kelak. Jika sejak kecil (katakanlah 9 tahun) sudah intensif belajar dan praktik menulis, berapa karya ya kira-kira yang dihasilkan di usia yang ke-28?
Sumber.www.babble.com
Kelas Talkpreneurship
Anak-anak muda menjadi pembicara di seminar-seminar dan juga workshop bukanlah mimpi! Namun, bicara itu tidak mudah. Bicara itu tidak asal. Mengemukakan gagasan di depan banyak orang pun harus dilatih. Agar tidak gagap dan gugup.Branding juga penting. Maka dari itu kelas talkpreneuship diadakan. Bayangkan MC, trainer, dan pembicara muda yang lahir dari kelas ini!
Sumber. www.livinglikeyou.com
Sumber. www.mamiverse.com

Kelas Greenpreneurship
Pernah suatu diskusi di grup edukasi Milennial Learning Center, Pak Harry Santosa mengomentari tentang kondisi sekolah yang tidak membudayakan kultur go green dan konservasi/kepedulian terhadap lingkungan. Pelajar yang notabene kaum terdidik malah membuang sampah sembarangan. Enggan sekali melangkahkan kaki ke tempat pembuangan sampah. Ada apa ini? Jangan bilang pendidikan/sekolah hanya menghasilkan siswa bermental score-oriented (mengejar nilai), tetapi tidak memberdayakan diri serta karakter.

Dari situlah pemikiranku untuk kelas greenpreneurship bermula. Anak-anak muda diajak untuk memilah dan mengolah sampah agar memiliki nilai tambah dan juga nilai komersil. Tidak hanya terkait pengelolaan sampah. Budaya go green diciptakan dengan membudidayakan tanaman yang bermanfaat dan juga memiliki nilai jual. Sedini mungkin anak-anak diperlihatkan bagaimana tanaman tumbuh melalui media khusus. Mereka harus merawat tanaman-tanaman itu hingga tumbuh besar dan berbunga/berbuah. Pendidikan konvensial kita belum banyak yang menyentuh level ini. Pelajaran biologi atau IPA hanya sebatas teori di kelas. Aku membayangkan anak 9 tahun sudah memahami hidroponik. Anak berusia 10 tahun sudah belajar kultur jaringan. Remaja 15 tahun memanen hasil kebun tomat cherry, menghitung berapa harga jual yang layak di pasaran dan berapa lama modal akan kembali (mencapai titik Break Event Point).
Sumber. www.pinterest.com
Sumber. www.sheknows.com
Sumber.www.gardenguides.com

Ini mimpiku. Ini Harapanku.

Apa yang menginspirasimu Arinta?
Banyak. Buku-buku yang pernah kubaca. Film-film yang pernah kutonton (misal 3 Idiot dan Laskar Pelangi). Lingkungan. Pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain. Pengalaman di organisasi. Interaksi di sosial media terutama grup facebook. Inspiring people (Rhenald Kasali, Ibu Septi Penny Wulandari, Bapak Harry Santosa, Rene Suhardono, Ricky Elson). Keprihatinan terhadap anak-anak muda yang berbakat tetapi tidak terakomodasi dan terfasilitasi di sekolah tempat dia belajar. Ketidakpedulian orangtua dan lingkungan terhadap anak-anak dan juga bakat-bakat uniknya (terutama anak-anak korban broken home, anak-anak pecandu narkoba, anak-anak gelandangan, dan sebagainya).

Tidak harus sekolah formal untuk menjadi pribadi yang sukses dan berkarakter. Tidak harus menunggu tua untuk bisa berkarya. Belajar itu prinsipnya  learning is fun! Belajar bukanlah beban. Belajar tidak akan membuatmu tertekan. Belajar harus itu menyenangkan. Darimana pun sumber pembelajaran itu didapat (radio, internet, pengalaman orang lain, buku,dsb), di mana pun pembelajaran itu diperoleh (kantor polisi, jalanan, komunitas, sekolah, stasiun, rumah makan, perpustakaan, tempat rekreasi dan sebagainya), ya intinya pembelajaran itu harus menyenangkan dan long term atau jangka panjang.

Aku tidak ingin melihat anak-anak muda depresi karena tugas menumpuk, takut nilai jatuh, tidak naik kelas, tidak lulus sekolah. Hanya fokus pada hal-hal semacam itu, tanpa pernah mempertanyakan selama 15, 18, atau 21 usia hidupku apa yang sudah kulakukan? Kontribusi macam apa yang telah aku berikan untuk lingkungan sekitarku. Di mana aku bisa berkontribusi dan berkarya? Komunitas atau organisasi macam apa yang cocok dengan jiwaku dan memberdayakan diriku? Apakah bakatku dan passionku ini bisa menjadi jalan hidupku di masa depan jika kutekuni dengan serius?

Maka tak heran ada anak pintar dan ranking 1 / IPK cum laude tapi tak peka terhadap lingkungan. Maka tak heran banyak anak kuliah yang merasa salah jurusan. Maka tak heran mereka yang salah jurusan mau bekerja apapun asal dapat duit. Maka tak heran ada yang kuliah ambil jurusan biologi, tapi kerjanya di bagian administrasi. Maka tak heran ada pengangguran. Maka tak heran ada yang rela menyuap demi masuk ke militer atau diterima jadi PNS. Maka tak heran korupsi, kolusi, dan nepotisme membudaya di negeri ini.

Aku ingin anak-anak muda yang berani menunjukkan taringnya pada dunia. Mereka yakin pada bakat dan passion yang dimilikinya. Mereka belajar, bekerja, dan berkarya. Mereka mau berbagi dan menginspirasi.

Bagaimana kamu memulainya Arinta?
Entahlah. Bingung aku menjawabnya. Saat ini aku sedang menempu skripsi. Bismillah, semoga dimudahkan. Setelah wisuda aku akan bekerja. Malamnya aku fokus menulis. Aku akan banyak membaca. Membaca apapun. Majalah, internet, buku. adalah sumber daya atau aset tiada batas. Aku akan belajar membuat review. Aku juga akan mengirimkan tulisan dan opiniku ke media/surat kabar. Aku akan aktif di grup/komunitas yang mengembangkan bakat dan passionku. Memperluas networking. Aku akan mulai menulis karya fiksi dan nonfiksi dan kukirimkan ke penerbit mayor. Memperdalam kemampuan bahasa inggris. Aku akan menabung. Lebih banyak berhemat. Belajar menata keuangan pribadi.

Selain menulis aku jatuh cinta pada dunia kuliner. Aku suka makan. Aku ingin belajar memasak (otodidak dan kursus jika memungkinkan). Aku ingin mendalami bisnis food and beverages. Punya rumah makan sendiri yang laris manis. Rumah makan tersebut adalah sumber keuanganku. Sumber masa depanku.

Karena aku tidak memiliki kemampuan di bidang rekayasa teknologi, aku akan mencari pendamping hidup seorang engineer. Haha :D Entah dia anak teknik sipil ITS atau anak robotika PENS, atau anak elektronika ITB tak apalah. Teknik adalah prioritas. Namun nonteknik (misal penulis/foodpreneur) pun tak apa. Allahlah lebih tahu yang terbaik untukku. Penginnya saling mendukung dan menguatkan seperti Alva dan Mery Riana gituuu...( Hey Arinta, jangan pikirin romance dulu. Skip. Skip part ini. Berdayakan dirimu dulu. Yah 3-5 tahun lagi setelah tahun 2016. Baru setelah itu mikirin jodoh. Ya ampun hidupmu aja masih amburadul kok. Tata hidupmu dulu!).

Mungkin butuh dana miliaran untuk mewujudkan ide gila ini. Namun aku optimistis bisa. Ada Allah disampingku. Allah selalu mendengar doa orang-orang yang mempunya mimpi mulia dan mau bekerja keras untuk mewujudkannya. BISMILLAH.

Enam tahun pertama (dimulai dari tahun 2016) adalah masa bekerja dan menekuni passion. Enam tahun berikutnya adalah masa Take off. Enam tahun tahun yang ketiga adalah masa mewujudkan mimpi. Selama itukah? Tidak. Ini relatif kok. Bisa lebih cepat. Bisa lebih lambat. Bisa hanya 8 tahun atau 10 tahun saja. Tergantung restu Allah dan kerja keras yang kuupayakan.BISMILLAH.

The last. Siapa sasaran dari program-mu itu Arinta?
Sudah kusebutkan sebelumnya. Aku ingin memberdayakan anak-anak yatim piatu. Anak-anak korban broken home. Anak-anak jalanan. Anak-anak pecandu narkotika. Anak-anak putus sekolah. Anak-anak korban trafficking. Anak-anak di Lapas Anak. Ya intinya anak-anak yang dianggap 'bermasalah'

Aku hanya ingin melihat anak-anak itu bersemangat. Menemukan jiwanya. Menekuni bakat dan passionnya...

Anak-anak muda yang berani bermimpi. Anak-anak muda yang berani menerima tantangan. Anak-anak muda yang membuat perubahan :D
(Mungkin tulisan ini akan jadi reminder, jika aku patah harapan atau jika impianku benar-benar terealisasi suatu saat nanti)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar