Rabu, 25 Maret 2015

Kerendahan Hati Intelektual

Sore tadi, aku baca postingan yang di-reshare Pak Harry Santosa dari artikel Ciputra Entrepreneurship di Grup Milennial Learning Center. Judul postingan tersebut Google Hindari Rekrut Lulusan Terbaik dengan IQ Tinggi (Wah ada apa dengan Raksasa internet sekaliber Google?). Sebelumnya aku pernah baca ini, tetapi di portal online yang berbeda. Menemukan artikel ini kembali, aku kemudian merenungkan banyak hal, terutama terkait pendidikan di negeri bernama Indonesia ini. Berikut aku kutip langsung postingan dari Pak Harry tersebut.

      Google Hindari Rekrut Lulusan Terbaik dengan IQ Tinggi
  • Sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia Google memiliki kebijakan yang unik terkait dengan perekrutan karyawan. Di Google, kriteria akademis tidak menjadi yang utama. Lulusan sekolah top dihindari oleh Google, dengan alasan mereka biasanya tidak memiliki apa yang disebut sebagai "kerendahan hati intelektual". Lulusan terbaik biasanya dididik untuk mengandalkan bakat IQ (gifted bukan talented) mereka yang pada gilirannya menyulitkan untuk beradaptasi dalam pekerjaan
  • Google lebih ingin mendapatkan orang yang mampu menerima ide-ide dari orang lain saat ide itu memang bagus, lebih dari yang mereka miliki. Itulah kerendahan hati yang Google maksud.Walau tidak semuanya, banyak lulusan brilian yang mengalami kegagalan dan tidak belajar bagaimana belajar dari kegagalan itu. Mereka yang berbakat jenius biasanya, menunjukkan kesalahan atribusi yang mendasar karena cenderung berpikir saat ia sukses, itu karena dirinya jenius. Sementara saat gagal, ia akan menyalahkan orang lain di sekitarnya atau hal-hal lain. Di Google, kamu boleh bersikeras dan mempertahankan ide hingga titik darah penghabisan tetapi jika orang lain bisa memberi bukti faktual bahwa ada ide lain yang lebih baik, kamu harus mengakui dan mendukungnya. 
  • Anehnya, orang-orang tanpa gelar sarjana justru bisa melakukannya dengan lebih baik. Orang-orang yang bisa tetap sukses meski tidak mengenyam pendidikan formal adalah orang yang luar biasa dan kami harus mendapatkan orang-orang semacam itu
  • Banyak kampus/sekolah yang gagal mewujudkan janji mereka. Apa yang lebih penting dari tingkat kecerdasan, gelar akademik atau ijazah dengan nilai A ialah kemampuan belajar. "Kampus cuma lingkungan belajar yang artifisial. Yang lebih penting ialah kemampuan kognitif umum seseorang, kemampuan memproses sembari bekerja, mengumpulkan banyak informasi dan mengolahnya secara terstruktur 
Kerendahan Hati Intelektual (Dunia Maya)
Dari pernyataan Google tersebut timbul sekelumit pertanyaan. Juga pemikiran-pemikiran. Adalah tidak cukup mengandalkan bangku kuliah sebagai satu-satunya tempat kamu memperoleh ilmu. Hey dunia sudah berubah! Perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi berkembang begitu pesat. Bahkan kamu bisa mempelajari ilmu apapun dari internet. Kamu bisa berguru dari siapapun terkait dengan bidang ilmu yang ingin kamu pelajari. Coba deh sekali-kali gabung di grup/forum/komunitas online via facebook/kaskus/grup WA atau yang lainnya. Dari grup-grup tersebut kamu bisa belajar suatu bidang yang kamu minati, misal grup kepenulisan, grup blogger, grup kuliner, grup game developer dan lain sebagainya. Dari grup tersebut kamu bisa berkenalan dengan master atau orang yang ilmunya jauh lebih mumpuni dibandingkan dirimu. Atau jika dirimu seorang newbie yang ingin tahu dan memperoleh informasi lebih, kamu bisa aktif di forum dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan serta menyampaikan gagasan-gagasan. Selain bisa belajar, kamu bisa memperoleh jaringan pertemanan yang lebih luas. Kita bisa terbuka menerima ide atau karya orang lain. 

Misal nih melalui grup kuliner, kamu bisa belajar cara membuat kue atau makanan yang lezat dan oke punya. Bahkan pernah ada member yang rajin nanya dan berburu resep di grup, lalu praktik membuat kue untuk acara arisan, eh malah jadi banyak orderan. Itu curhatan nyata lho dari salah satu member grup kuliner yang aku ikuti. Bergabunglah dengan grup yang kamu minati di mana kamu diterima, bisa belajar, dan berkarya di dalamnya.

Adiatmo Rahadi (ketua grup Robot Indonesia), melalui grup Arduino Indonesia saat ini sedang mengkampanyakan gerakan SAVE NEWBIE. Kampanye dilakukan di akun facebook dan twitter-nya dengan hastag #SaveNewbie serta membuat meme SAVE NEWBIE. Apa maksud kampanya SAVE  NEWBIE tersebut? Terkadang ada member baru di sebuah grup dibully karena menanyakan hal-hal sepele atau mendasar. Padahal mereka benar-benar tidak tahu dan ingin belajar di grup tersebut. Jangan heran, lha wong yang membully itu mereka yang 'merasa' udah mastah. Alias udah ahli. So, daripada dibully mendingan para member baru tersebut keep silence alias enggak nanya-nanya. Dari situlah ide kampanye #SaveNewbie bermula. Gerakan ini sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Mau belajar kok dibully? Kampanye #SaveNewbie tersebut menurutku merupakan wujud kerendahan hati intelektual yang yang patut diapresiasi. 

Penting bukan kerendahan hati intelektual? Kalau punya ilmu jangan disimpan sendiri, kemudian membully seorang newbie. Dibutuhkan kerendahan hati intelektual untuk saling menghargai dan menerima perbedaan.

Kerendahan Hati Intelektual (Dunia Nyata)
Selain itu dari dunia maya, kamu bisa berkontribusi aktif di organisasi atau komunitas yang ada di lingkungan sekitarmu. Tempatmu kerja atau magang adalah sarana memperoleh pembelajaran dan pengalaman terbaik. Dari situ kamu bisa memilah dan memilih jaringan pertemanan serta lingkungan seperti apa yang kamu inginkan. Tentu saja lingkungan yang memberdayakan di mana kreativitas dan ide-ide dihargai. Ada sebuah quote menarik dari buku 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setiawan yang baru saja aku baca, oke deh sekalian aja aku share aja ke kamu : 
Well what about this? I am still young. I need to explore the world and get new experiences. That would be priceless! 
Tak peduli berapa usia kamu, tetaplah memiliki semangat muda. Semangat seorang pembelajar. Belajarlah dari mana saja dan banyak sumber. Aku juga belajar dari banyak hal. Termasuk kekeliruanku memilih jurusan kuliah, yang ternyata jurusan tersebut bukanlah passion yang selama ini aku cari. Dari kekeliruan atas apa yang aku pilih, aku terus bertanya-tanya dan terus mencari apa yang sebenarnya aku inginkan dalam hidup. Apa tujuan aku hidup? Bagaimana aku bisa berkarya dan berkontribusi bagi lingkunganku? Apa passion dan skill yang ingin aku kembangkan? De el el. 

Sementara jika kamu hanya mengandalkan bangku kuliah dan IPKmu, tanpa pernah mau belajar bagaimana bersosialisasi atau berorganisasi, aku takut ... takut kamu menjadi egois dan tidak mau mendengarkan ide/gagasan orang lain. Aku takut dengan tingginya skor IPK yang kamu peroleh, kamu jadi jumawa. Kamu menjadi perfeksionis dan menganggap ide atau gagasan orang lain tak ada apa-apanya dibandingkan dirimu. Maka jangan heran kamu dijauhi dari lingkungan sekitarmu, meskipun secara posisi kamu lebih tinggi dari rekan-rekanmu. Kamu ditakuti bukan dihormati. Pernah dengar cerita seperti ini? Ada seorang manajer yang suka memarahi staffnya jika dia berbuat kesalahan. Akan tetapi, jika sang staff melakukan pekerjaannya dengan sangat baik dia bilang ke bos/direktur bahwa dirinyalah yang melakukan semua itu. Jangan sampai deh kamu menjadi seperti itu.

Ada lagi nih satu kisah nyata dari temanku. Suatu ketika Ferdi (nama samaran), lolos suatu kompetisi di bidang teknologi. Ide tersebut datang dari seorang kawan yang bernama Yoga (nama samaran), kemudian dikembangkan oleh Amin (nama samaran). Namun, tanpa sepengetahuan Amin, Ferdi mengikutkan ide Yoga tersebut di kompetisi yang lain dan lolos ke Universitas Pulau Seberang (Sumatra). Boro-boro Ferdi minta ijin ke Yoga dan Amin, diajak dalam tim pun tidak. Betapa jengkel hati Yoga mengetahui hal tersebut. Ferdy sudah melakukan pencurian ide. Tidak ada apresiasi kepada si empunya ide atas karya intelektual yang dibuat.

Demikian tepatlah keputusan Google menghindari merekrut orang-orang lulusan terbaik dengan IQ tinggi. Google khawatir dengan tingginya IQ tersebut menjadikan mereka jumawa dan perfeksionis. Mereka tidak mau menerima ide-ide orang lain. Pun jika ide-ide tersebut lebih baik darinya. Lebih baik seorang lulusan SMA tetapi mau diajak bekerja sama dan mau bekerja dengan ketulusan hati dan kesungguhan. Keahlian itu bisa diasah kok seiring berjalannya waktu, tanpa melihat gelar akademik yang kamu sandang. Mungkin itu kira-kira yang aku tangkap dari pernyataan Google tersebut. Hmm kerendahan hati seorang intelektual sangatlah penting. Memang enggak semua orang ber-IQ tinggi itu demikian. Enggak heran ada peribahasa ' Seperti ilmu Padi, kian tinggi kian merunduk.' Orang yang dianggap pakar/master akan lebih disegani jika ia rendah hati dan mau berbagi ilmu yang dimilikinya kepada orang lain dengan ketulusan. Sebab banyak orang yang pintar atau ahli di bidangnya, tetapi tidak mau membagi apa yang dimilikinya kepada orang lain
(kalau ini quote-nya Iki Mazadi). 

Keluarlah dari cangkangmu. Liatlah dunia. Begitu banyak warna. Nikmatilah hidup. Bersyukurlah. 

Arinta Setia Sari, UNY, Yogyakarta, 2015.

14 komentar:

  1. orang yg pinter di bidang A bukankah dia belum tentu hebat di bidang B ya? demikian pula sebaliknya. jd kalau ada orang yg merasa hebat krn dia pandai di satu bidang, lalu memandang orang lain dengan rendah, cuma bisa bilang: kasiaaan deh loe.... belum tahu ya kalau dunia ini beraneka rasa dan warna :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap orang unik mbak rita dewi. Bakat, pendidikan, minat, skill, lingkungan, keluarga de el el mempengaruhi bagaimana seseorang bersikap. So klo ada orang pinter tapi merasa keminter biasanya mereka dijauhi. Orang yang pinter, low profile, dan enggak pelit ilmu cenderung lebih disukai dan dihargai sesamanya :D
      #Makasih ya uda mampir ke blogku :D

      Hapus
  2. Unik banget caranya merekrut karyawan ya mak, kira2 kalo aku ngelamar diterima ngga ya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Rahmi Aziza : xixixxixixi, daripada ngelamar kerja mending dilamar ya mak?
      # Tsahhhhhh #Tepuk Jidat
      coba aja kirim surat lamaran. Siapa tau diterima hihihi :D

      Hapus
  3. Wah, aku setuju banget mbak sama konsep #SaveNewbie ini mbak, soalnya kita semua bermula dari tidak tahu menjadi tahu. Tapi memang di beberapa grup, yang udah tau banyak suka mengejek yang baru tahu. Miris ya mbak.
    Thanks for sharing mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fardelyn Hacky : Iya mak aku juga setuju konsep #SaveNewbie ini. Bayangkan klo newbie masuk grup menulis. Dia sama sekali blank soal kepenulisan. terus dia nanya2 hal2 dasar, bukannya dijawab/dibimbing, eh dia malah dibully. kan kasihan. Mentalnya dah drop duluan. jangan salahin klo dia jadi hopeless dan kehilangan semangat buat belajar :D
      makasih ya udah mampir di blogku :D

      Hapus
  4. Balasan
    1. Sama-sama. Makasih juga udah mampir ke blogku dan baca secuil tulisan2ku :D
      Semoga bermanfaat. :D

      Hapus
  5. Setuju banget. Hormat dan segan akan mengikuti bila kita rendah hati.

    Btw, dari UNY ya? Wah, senengnya ketemu satu almamater di dumay :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mak Vhoy Syazwana :) Makasih juga dah mampir ke blogku

      Iya mak kuliah di UNY akuntansi, hehe salam kenal. Wah ada blogger yang satu almamater. Nambah lagi deh temanku :D

      Hapus
  6. IQ tinggi memang penting, tapi ada yg lebih penting dari itu semua ya mba....
    Makasih ya sharingnya, sebagai pengingat saya dlm mendidik anak2 saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Balance mbak Santi :)
      aspek kognitif seperti IQ juga diperlukan, tapi jangan mendewakan IQ
      ada elemen lain juga seperti SQ dan EQ yang memang jga penting
      jadi baik elemen IQ, SQ, dan EQ idealnya balance :D

      Hapus
  7. dari literatur psikologi yang pernah aku baca [sayang lupa namaya], kecerdasan intelejensi itu hanya memberikan kontribusi sebesar 20% pada keberhasilan seseorang. 80% nya adalah kecerdasan emosional [EQ]. Google nampaknya menerapkan hal tsb dalam proses rekruitmen pegawainya.

    BTW, salam kenal mak Arinta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mba Ratna :)

      Salam kenal juga D

      Hapus