Minggu, 29 Maret 2015

Kekuatan Story Telling (Part #1 Game & Animasi)

Seberapa penting sih kekuatan Story Telling itu? Tanya Gue dalam hati. Kenapa akhir-akhir ini ada beberapa teman di lingkaran Facebookku yang mengulas tentang kekuatan Story Telling. First, Adhicipta R. Wirawan, beliau adalah dosen akuntansi Universitas Ubaya sekaligus founder/CEO PT Mekanima Inspira Nagara (perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan game dan animasi). Yang kedua dari Sari Musdar, seorang penulis novel dan juga blogger.

Menurut Wikipedia, story telling adalah cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada para penyimak, baik dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, maupun suara. Berdasarkan kutipan dari FLP Malang, storytelling dapat dikatakan sebagai teknik atau kemampuan untuk menceritakan sebuah kisah, pengaturan adegan, event, dan juga dialog. Kalau di film, para film maker bersenjatakan kamera; di komik, para komikus bersenjatakan gambar dan angle cerita; di cerpen atau novel, para penulis bersenjatakan pena, diksi, dan permainan kata serta deskripsi. Cara menyampaikan story telling bisa berbeda tergantung pada platform-nya, media, target audience, dan sebagainya.

Dalam postingannya di facebook, Pak Adhicipta menulis betapa pentingnya kekuatan story telling pada industri animasi dan game di Indonesia. Kita tahu sendirilah bagaimana kekuatan industri animasi di Indonesia itu seperti apa. Enggak mudah lho produksi film animasi untuk satu episodenya saja. Membutuhkan sekelumit proses yang memakan waktu cukup lama. Aku bisa cerita ini karena aku punya teman-teman yang terlibat di industri animasi. Menurutku Industri animasi dan game Indonesia sudah lumayan bagus pertumbuhannya dan dari segi kualitasnya enggak kalah sama yang ada di luar negeri. Salah satu contoh yang patut diacungi jempol adalah capaian dari animasi garapan MD Entertainment berjudul Adit dan Sapo Jarwo. Animasi ini banyak diulas di beberapa portal online, ratingnya di televisi juga tinggi, melibatkan lebih dari 100 animator untuk menghidupkan karakter-karakternya, serta menggunakan open source software* (Blender) sehingga mampu meminimalisasi biaya produksi yang tinggi. 
Sumber. www.panjiaji.net
Sumber. id.wikipedia.org
Kalau dari game, aku salut sama game DreadOut yang digarap developer asal Bandung, Digital Happiness. Melalui pendanaan crowdfunding* Indiegogo, game ini bisa rilis di pasar pada tahun 2014 kemarin dan menjadi game bergenre survival horror pertama buatan Indonesia. Aku sendiri belum secara langsung ngerasain gimana sensasi game bergenre survival horror tersebut. Habis ceritanya aja udah bikin aku merinding. Si tokoh bernama Linda yang memiliki kekuatan supranatural dan masih SMA harus kuat menghadapi mahkluk-makhluk astral asli Indonesia seperti Pocong, Sundel Bolong, Wewe Gombel, Leak, Kuntilanak, dan konco-konconya. Gimana enggak merinding ? Aku nonton trailernya di Youtube aja di siang bolong. Ogah aku nonton di malam hari. Enggak bakal bisa tidur entar. Namun demikian, game ini telah membuat para penggemarnya menjadi penasaran dan ingin menjajal bagaimana sensasi survival horror game asli karya anak negeri. Alhasil, banyak sekali review di media yang mengulas berbagai sisi dari game ini.
Kamu dibekali kamera untuk memotret penampakan hantu
Selain itu untuk memotret, kegunaan utama dari kamera tersebut adalah sebagai petunjuk
INILAH INTI DARI KEKUATAN STORY TELLING. Selain kamu bisa mengemas hal tersebut menjadi sebuah kisah apik yang layak untuk didengarkan/dibagikan, orang-orang yang tertarik atau tersentuh dengan kisahmu itu dengan suka cita akan menceritakan kembali kisah tersebut kepada orang lain. Dalam Bahasa Jawa ada istilah Gethuk Tular. Dalam bahasa pemasaran ada istilah WoM, Words of Mouth marketing. 

Kisah yang menariklah yang membuat animasi asal Malaysia, Upin dan Ipin begitu populer di Indonesia. Ceritanya  sarat makna, disampaikan secara halus tanpa kesan menggurui. Polah tingkah karakternya yang lucu menggemaskan kadang membuat kita tertawa terpingka-pingkal atau sekedar manyun karena merasa tersindir. Kualitas gambarnya bagus. Menceritakan bagaimana budaya melayu dan agama membaur, saling membentuk interaksi antarkarakter. Upin Ipin berhasil merebut hati pemirsanya dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Tengok pulalah bagaimana merchandise dari animasi ini bertebaran dalam bentuk kaos, tas, sepatu, sandal, jam tangan untuk anak-anak. Cerdas sekali animasi ini membidik target pasarnya. Mengena dan bersifat long term. Industri animasi tersebut bukan sekadar memproduksi dan menggarap film animasi saja , tetapi dia telah menciptakan suatu ekosistem bisnis yang berbeda yang saling berinteraksi dan mendukung industri utamanya. Misal produksi boneka Upin dan Ipin. Sektor ini sudah berbeda jauh dengan industri animasi, tetapi malah mendukung dan memperkuat branding Upin Ipin. Bayangkan bila  produsen tas, sepatu, mug, boneka, jam tangan tersebut harus membayar lisensi Upin Ipin atas produksi barangnya, siapa yang diuntungkan?
Enggak salah Pak Adhicipta berpikir demikian. Beliau yang sudah malang melintang di industri ini sudah tahu bagaimana roadmap atau peta industri ini ke depannya. Kekuatan story telling begitu penting dan luar biasa. Entah untuk memperkuat branding suatu produk, membuat film meraih berbagai penghargaan, membuat novel masuk dalam kategori best-seller, atau membuat sebuah rumah makan menjadi banyak pengunjungnya. Enggak instant sih, memang butuh proses yang berliku dan juga kerja keras untuk mencapai semua itu. Dan sepertinya aku kudu banyak membaca dan belajar bagaimana menceritakan suatu kisah yang baik agar menjadi menarik. Melalui tulisan di blog ini salah satunya. Tuh kan aku sudah menceritakan kisah orang lain. Aku enggak dibayar lho untuk membuat tulisan ini. Aku melakukannya karena aku suka aja.
                                                              ***
Tunggu tulisan berikutnya, Kekuatan Story Telling Part #2. kali ini aku akan mengupas dan menyenggol sesuatu yang berhubungan dengan agama dan juga pendidikan di Indonesia. Gara-gara postingan/status Mbak Sari Musdar di facebook aku jadi kepengin menulis yang Part #2. Udah jam 2.31 pagi. Sepertinya aku harus off dulu.

Keterangan :

1. Crowdfunding :  pendanaan yang melibatkan puluhan bahkan ratusan orang untuk membiayai sebuah project yang memiliki nilai komersil.
2.  Open Source Software : Software gratisan alias tidak berbayar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar