Kamis, 31 Desember 2015

Ketika Tetesan Darah Begitu Berharga

________________________________________________________________________________
70 Tahun PMI Membersamai Negeri
________________________________________________________________________________
Sejak menjadi blogger, saya lebih sering membuka e-mail. Siapa tahu ada pemberitahuan penting. Misalnya, konfirmasi undangan dari brand terkemuka untuk launcing produk terbarunya di Jogja atau Komunitas Blogger Jogja (KBJ) mengadakan suatu event dan mengundang kami para blogger. Beberapa waktu lalu saya membuka e-mail, saya mendapat undangan dari ICRC (International Committe of the Red Cross) yang berada di Jakarta untuk menghadiri Malam Penganugerahan Kompetisi Blog ICRC 2015, berikut TOR (Term of Reference) acara tersebut pada tanggal 18 Desember 2015.

Singkat cerita, sesampainya di Jakarta, tepatnya di Hotel Ambhara, saya disambut dengan hangat oleh Mas Ahmad Nashrullah (@donnassero), selaku panitia acara tersebut. Saya juga mendapat kesempatan untuk mampir ke markas ICRC yang lokasinya tidak begitu jauh dari Hotel Ambhara. 

Saya beruntung, sebab saya bisa mendapatkan hal-hal luar biasa, termasuk pengalaman dan sahabat baru. Selain itu, saya juga memperoleh goodie bag keren yang di dalamnya berisi flashdisk (bertuliskan lambang ICRC), serta buku-buku tentang kemanusiaan dan hukum humaniter internasional. Buku-buku tersebut diterbitkan atas kerjasama ICRC dan PMI. 
Dokumentasi Pribadi : @ArintaSetia. Buku-buku terbitan ICRC dan PMI
Melalui buku-buku tersebut, saya memperoleh knowledge tentang sejarah berdirinya ICRC dan PMI di Indonesia. Juga bagaimana seharusnya penggunaan lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, sesuai dengan aturan yang disepakati dalam konvensi Jenewa. Juga terdapat lambang tambahan selain palang merah dan bulan sabit merah, yakni kristal merah. Setiap negara hanya boleh menggunakan satu lambang saja dan satu kesatuan. Misal nih, kalau di Malaysia namanya Mercy Malaysia (MM), sedangkan di Indonesia ada Palang Merah Indonesia (PMI).
Dokumentasi Pribadi : @ArintaSetia. Sejarah singkat PMI
Tercatat, PMI telah membersamai Indonesia selama 70 tahun. Dari mulai awal berdirinya republik ini hingga kini. Banyak prestasi dan cerita yang telah ditorehkan. Tanggal 17 September lalu, PMI Merayakan kedigdayaannya yang ke-70. Dirgahayu PMI untuk Indonesia. 

Dalam perayaan 70 tahun tersebut, PMI mengadakan pameran dan peluncuran perangko seri 70 tahun PMI. Saya pikir cara tersebut layak diapresiasi. Di era android ini, teknologi telah mengambil alih dan mereduksi cara-cara komunikasi konvensional seperti bersurat menggunakan perangko. Saya khawatir, jangan-jangan kaum muda kekinian tidak tahu perangko itu fungsinya untuk apa? Apalagi istilah filateli! Tahunya kok cuma selfie.

Dalam perhelatan yang berlangsung di Museum Nasional (Jakarta) tersebut, PMI bekerjasama dengan PT Pos Indonesia meluncurkan 2 desain perangko, Dua desain tersebut berupa gambar markas PMI tempo dulu dan gambar ketua umum PMI pertama, Muhammad Hatta. Perhelatan yang berlangsung selama 7 hari, mulai tanggal 10 hingga 17 September ini juga dihadiri oleh wakil presiden Jusuf Kalla.

Kegiatan PMI pun tak melulu berkaitan dengan donor darah. Karena PMI adalah organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan, maka program kerjanya beragam. Mulai dari kampanye peduli AIDS, operasi tanggap darurat saat bencana kabut asap, distribusi air bersih, pelayanan kesehatan saat arus mudik, dapur umum dan evakuasi korban banjir dan masih banyak lagi. Daftarnya akan semakin panjang jika saya sebut satu per satu. Terkadang PMI juga menyelenggarakan event yang dikemas dalam bentuk talkshow, seminar, konser, dan sebagainya untuk sosialisasi program-programnya di bidang pelayanan kemanusiaan. Bahkan PMI menciptakan aplikasi pengetahuan Siaga Bencana dengan sistem android. Jika kamu tertarik, kamu bisa mengunduhnya di Play Store.
_______________________________________________________________________________
KSR PMI UNY : Dari Yogyakarta Untuk Indonesia
_______________________________________________________________________________
"Mbak Arinta, KSR lagi ngadain donor darah lho. Ikutan yuk." Demikian Minanti Arum yang kerap disapa dengan panggilan Arum mengajak saya untuk ikut aksi donor darah. Aksi donor darah ini berlokasi di Student Center (SC) UNY.

Ini bukan pertama kalinya. Sudah beberapa kali Arum mengajak saya untuk ikut aksi donor darah. Arum adalah rekan sekamar saya di kos. Mahasiswi angkatan 2013 yang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan mengambil konsentrasi di jurusan pendidikan teknik sipil tersebut adalah seorang aktivis di organisasi KSR PMI UNY. Oh, mungkin kamu akan bertanya-tanya. Apa itu KSR? KSR singkatan dari Korps Suka Rela. Sebuah organisasi yang merupakan bagian dari kesatuan unit PMI dan mewadahi minat mahasiwa perguruan tinggi di bidang volunterisme dan aksi sosial kemanusiaan.

Selain diklat dan pelatihan, kegiatan KSR PMI UNY cukup banyak, di antaranya adalah aksi penggalangan dana saat Merapi dan Kelud meletus serta bencana asap di Sumatra dan Kalimantan. Baru-baru ini, organisasi tersebut mengadakan event Siganapraja, aksi Give Blood Give Life, dan talkshow "Relawan Dalam Pendidikan. Siganapraja (Siaga Bencana Palang Merah Remaja) adalah kompetisi yang diperuntukkan untuk PMR (Palang Merah Remaja) wira dan madya di mana pesertanya adalah tim-tim dari SMP dan SMA atau sederajat . Dalam kompetisi tersebut adalah 4 kategori lomba yakni, lomba pertolongan pertama, lomba cerdas cermat, siaga bencana, gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Talkshow "Relawan dalam Pendidikan" 2015  di Gedung Hall Rektorat UNY 
Talkshow "Relawan dalam Pendidikan" menghadirkan pembicara utama H. Muhammad Muas, S.H. Beliau merupakan ketua bidang relawan PMI Pusat. Acara tersebut sangat menarik dan cukup banyak merebut perhatian peserta yang hadir. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta saat berlangsungnya sesi tanya jawab. Sebagai tambahan, ada aksi dan kampanye Give Blood Give Live yang bekerjasama dengan PMI Sleman.
***
Darah. Zat cair kental berwarna merah yang komponen utamanya terdiri dari cairan plasma, sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit) dan butir-butir darah (trombosit) merupakan elemen vital yang sangat penting bagi kehidupan vertebrata (makhluk bertulang belakang). Tak terkecuali manusia. Kekurangan salah satu komponen utamanya bisa berakibat fatal. Apalagi kehilangan berliter-liter sel darah. Seseorang yang menderita leukimia, berarti dia bermasalah dengan sel darah putihnya (leukosit). Begitupun dengan penderita anemia, berarti dia bermasalah dengan sel darah merahnya.

Bicara soal darah, saya jadi teringat kisah seorang sahabat bernama Winarni. Apa yang dia alami sungguh menyentuh hati saya. Membuat saya memahami, betapa betapa berarti darah bagi kehidupan seseorang.
_______________________________________________________________________________
Blood For Win
_______________________________________________________________________________
Namanya Winarni, Kerap disapa Win. Kami pernah bersama selama setahun di kelas X.1 SMAN 1 Wiradesa (2008-2009). Dulu, saya begitu pendiam dan tertutup (introvert). kebalikan dengan Win yang  hangat, supel, dan mudah bersahabat. Terkadang saya ingin seperti Win. Saya cukup mengagumi dirinya. Menginjak kelas XI, Win ditunjuk sebagai ketua Klub KIR (karya Ilmiah Remaja). Di bidang akademik, Win berhasil menorehkan prestasi dalam suatu kompetisi esai ilmiah tingkat karesidenan Pekalongan sebagai juara 1. Keren bukan?

Sudah cukup lama saya tidak bersua dengan Win. Setelah lulus sekolah tahun 2011, saya melanjutkan studi di Universitas Negeri Yogyakarta dan mengambil konsentrasi bidang akuntansi, sedangkan Win memilih bekerja selama 2 tahun di sebuah perusahaan farmasi di Kota Bandung. Baru menginjak tahun 2013, Win memutuskan untuk kuliah di Universitas Jenderal Ahmad Yani dan mengambil konsentrasi di bidang elektro.
***

Suatu ketika Win bercerita pada saya, betapa Win pernah hampir melekat dengan ajal. Mencium tajam aroma kematian.

Peristiwa itu terjadi di tahun 2006, di mana saat itu Win dirawat di RSUD Kraton Pekalongan karena menderita tipus dan demam berdarah. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Kondisinya cukup mengkhawatirkan. Bahkan kadar trombosit turun drastis hingga mencapai 50.000 sel/mm3. Perlu diketahui bahwa kadar normal trombosit untuk orang dewasa adalah 150.000-400.000 sel/mm3, sedangkan untuk anak-anak antara 150.000-450.000/mm3.  Jelas sekali, ini sangat berbahaya bagi Win.

Belum lagi golongan darah Win adalah AB. Di antara 4 golongan darah yang ada (A, B, O, dan AB), golongan darah AB adalah golongan dengan persentase paling sedikit di dunia. Seperti dilansir antaranews.com, pemilik golongan darah ini populasinya tidak lebih dari 7%. Berdasarkan hasil riset, dari 100 orang hanya 2 orang saja yang memiliki golongan darah AB (sumber pmi.or.id). Maka dari itu, di beberapa daerah seperti Yogyakarta ada komunitas khusus yang diperuntukkan bagi mereka yang bergolongan darah AB. Setidaknya, keberadaan komunitas ini membantu memudahkan ketika ada seseorang membutuhkan donor dan transfusi darah.
Kembali ke Win.

Dokter menyarankan Win untuk melakukan transfusi darah. Namun sayang, stock darah AB di rumah sakit dan bank darah PMI Pekalongan saat itu sedang kosong. Dari pihak keluarga tidak ada yang cocok untuk dijadikan pendonor. Bahkan orang tua Win sekalipun!

Win sempat bertanya kepada sang dokter apakah bisa golongan darah AB menerima transfusi dari semua golongan darah. Mengingat seperti yang ada di dalam teks-teks buku pelajaran SD dan SMP yang pernah Win baca, bahwasanya golongan darah AB merupakan resipien universal. Itu artinya golongan darah AB bisa menerima transfusi dari semua golongan darah yang ada. Bukankah secara teori demikian? Namun, dokter tidak bersedia melakukan transfusi. Dokter tidak mau mengambil risiko jika tubuh Win melakukan aksi penolakan akibat ketidakcocokan golongan darah. Dalam dunia medis, transfusi dengan golongan darah yang berbeda tidak diperbolehkan. Jangankan beda golongan darah, satu golongan darah tetapi beda rhesus saja tidak diperkenankan.Win geram, mengapa tulisan demikian masih terdapat dalam teks-teks buku pelajaran. Benar-benar menyesatkan!

Win sudah pasrah. Win sadar konsekuensi. Win tahu bahwa dirinya tak akan bertahan lama di dunia ini. Apa yang Win lakukan kala itu? Selain berdoa, Win mengirimkan sms satu per satu kepada teman-temannya. Win meminta maaf jika ada kata ataupun laku yang kurang berkenan.

Win hampir menyerah di detik-detik terakhir hidupnya. Hingga kabar baik itu akhirnya datang juga. Ada seorang pendonor yang bersedia memberikan darahnya untuk transfusi. Namun, hal itu tidaklah gratis. Sang pendonor meminta harga 3 kali lipat dari harga darah standar. Sesungguhnya hal ini sangat memberatkan keluarga Win yang hidupnya saja sudah sangat sederhana. Tapi, mau gimana lagi? Akhirnya, agar tetes demi tetes darah tersebut mengalir ke tubuh Win, keluarga Win rela menebusnya. Berapapun harga yang dibayar.
________________________________________________________________________________
Berikan Donasi Terbaikmu
________________________________________________________________________________
Maaf jika cerita ini telah membuat sedih. Tapi ini nyata. Ini terjadi pada sahabat saya Win. Saya berharap kamu tidak mengalami seperti apa yang Win alami. Pun pada keluarga dan juga sahabatmu. Maka dari itu saya mengajak kamu dalam aksi Ayo Peduli Bantu Sesama dalam rangka Bulan Dana PMI.

Donasi yang kamu berikan tidak hanya dalam wujud donor darah, bisa juga uang. Berikan donasi terbaikmu. Saya berharap donasimu bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Kamu bisa melakukannya melalui bank-bank berikut ini :

  • Bank BCA Kantor Cabang Utama Thamrin Nomor Rekening : 206-38-1794-5 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.
  • Bank MANDIRI Kantor Cabang Kramat Raya Nomor Rekening : 123-00-17091945 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta.
  • Bank DKI kantor Cabang Utama Juanda Nomor Rekening : 101-03-17094-7 atas nama PMI DKI JAKARTA Panitia Bulan Dana PMI Provinsi DKI Jakarta. 

Selasa, 15 Desember 2015

EDP Project Jogja : Atasi Demam Berdarah Melalui Wolbachia

_______________________________________________________________________________
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa kini sudah memasuki Bulan Desember. Sudah hampir 4 tahun lamanya saya berada di Yogyakarta, Menikmati romantisme masa-masa menjadi anak kuliahan. Bergelut dengan tugas-tugas. Banyak hal juga telah saya lalui. Jogja diguyur hujan deras Desember ini. Lapis demi lapis kumulonimbus tak ubahnya seperti gumpalan-gumpalan kapas yang terbang di langit. Terkadang menimbulkan mendung yang gelap dan pekat. Terkadang pula menjatuhkan jarum-jarum tajam dari langit. Juga petir yang menggelegar. Ah, hujan Bulan Desember. 

Hujan Bulan Desember ini mengingatkan saya pada seorang kawan yang pernah dirujuk ke RS Sardjito karena menderita demam berdarah. Kala air menderas dari langit. Menimbulkan bunyi gemerisik. Juga kecipak-kecipuk langkah-langkah kaki karena jalanan tergenang air. Menjadikan sebagian orang memilih berdiam diri di rumah. Mendekam dalam selimut. Sedangkan kawan saya ini merasakan nyeri di hampir sebagian tubuhnya. Demam hebat yang tak berkesudahan. Mimisan. Muntah-muntah disertai timbulnya bintik merah di sepanjang kulit. Saya bergidik ngeri jika teringat akan hal itu. 

Yogyakarta merupakan wilayah endemik terjangkitnya penyakit demam berdarah. Seperti dilansir sorotjogja.com, memasuki kuartal pertama di tahun 2015 ada 3 daerah yang rentan terhadap serangan DBD (Demam Berdarah Dengue).  Ketiga daerah itu adalah Kecamatan Gondokusuman, Kecamatan Tegalrejo, dan Kecamatan Ngampilan. Fitri Yulia Kusworoni selalu Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogya menyatakan bahwa terdapat kenaikan jumlah pasien DBD yang dirawat di puskemas yang pada tahun 2014 ada 19 kasus, pada tahun 2015 naik menjadi 90 kasus. Ini baru wilayah Kota Yogya. Bagaimana dengan wilayah lain seperti Sleman dan Bantul yang juga rentan terhadap kasus ini?

Demam berdarah (demam dengue) adalah salah satu momok yang ditakuti masyarakat. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Dengue melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus. Demam dengue mengancam hampir 2.5 miliar penduduk bumi. Kasus tertinggi menimpa wilayah ASEAN, termasuk Indonesia. Berdasarkan data WHO (World Health Organization) setiap tahun sekitar 390 juta orang terinfeksi dengue. Sebanyak 22.000 orang terutama anak-anak dan remaja meninggal dunia. Bagaimana dengan di Indonesia? Angkanya meningkat, di mana pada tahun 2012 jumlah kasus 90.245 menjadi 105.545 kasus pada tahun 2013.

Hal umum yang dilakukan warga untuk mengantisipasi merebaknya DBD yakni dengan menjaga lingkungan agar terkondisikan bersih. Pemerintah melalui dinas kesehatan tak henti-hentinya menghimbau agar warga melakukan gerakan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) melalui aksi 3 M (Menguras, Mengubur, dan Mengubur barang bekas yang sudah tidak terpakai). Ada pula istilah ikanisasi (menempatkan ikan-ikan di bak mandi atau kolam agar ikan-ikan tersebut memakan jentik-jentik nyamuk) dan larvasidasi (membunuh larva-larva nyamuk Aedes Aegypti dengan menggunakan abate). Selain itu, ada pula tindakan fogging (pengasapan). Tempat tinggal saya yang letaknya persis di depan Fakultas Teknik UNY di mana dilalui Selokan Mataram juga tak luput dari aksi fogging tiap tahunnya.

Namun apakah cara-cara lama ini cukup efektif mengurangi kasus-kasus terkait DBD? Hey ini sudah tahun 2015! Maksud saya adakah suatu terobosan di dalam sains, terutama di bidang biologi sel & molekuler, bioteknologi dan rekayasa genetika yang mampu menciptakan suatu vaksin yang menghambat transmisi virus dengue dari nyamuk ke manusia? Membuat telur-telur nyamuk menjadi infertil misalnya? Memperpendek usia hidup nyamuk yang menjadi inang virus dengue?
Pada tanggal 1 Desember 2015, saya bersama rekan-rekan Komunitas Blogger Jogja (KBJ) mendapat undangan dari EDP (Eliminate Dengue Project) Yogyakarta untuk mengunjungi insektarium dan laboratorium diagnosis di mana terdapat fasilitas riset untuk meneliti nyamuk Aedes aegypti. Fasilitas riset ini cukup lengkap. Di dalamnya terdapat tempat penetasan telur-telur nyamuk berukuran kurang lebih 50 mikron di mana telur-telur tersebut hanya dapat dilihat melalui mikroskop elektron.
Documentation : Paulus Enggal
Fasilitas riset EDP Yogyakarta dilaksanakan di bawah naungan Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM) dan didanai oleh Yayasan Tahija Jakarta (organisasi filantropi nonprofit yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, dan juga pelayanan sosial). Dalam riset ini, UGM menjalin kerjasama dengan Monash University di Australia. Untuk EDP global melibatkan sejumlah negara seperti Australia, Vietnam, Brazil, Singapura, Colombia, termasuk Indonesia. Ini proyek riset prestius yang digarap serius, berbiaya mahal, melibatkan sejumlah ahli dan peneliti dari berbagai negara serta membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk pengujiannya. 

Ada hal yang menarik dalam proyek riset ini. Ternyata para peneliti menggunakan bakteri Wolbachia untuk mengendalikan virus dengue. Ini penemuan menarik dan melibatkan multidisiplin ilmu seperti bioteknologi, virologi, bakteriologi, entomologi, dan juga biologi molekuler. Bahkan saya berusaha mencari jurnal-jurnal ilmiah terkait penelitian ini.

Tentu saja riset tentang wolbachia cukup banyak menyedot perhatian saya. Pernah mendengar Wolbachia sebelumnya? Baiklah saya akan sedikit bercerita. 
________________________________________________________________________________
Perjalanan Panjang Si Wolbachia dan Kisah Sang Profesor
________________________________________________________________________________
A lot of science involves failure, but there are also the brilliant successes, successes that can lead to new inventions, new tools, new drugs — things that can change the world (Anonim)
Terkadang kisah sukses seseorang lahir dari sebuah gagasan sederhana. Sebuah inovasi yang menghadirkan solusi. Juga perjalanan panjang yang melelahkan. Demikian pula yang dialami Profesor Scott O'Neill ketika mengupayakan penemuannya di bidang ilmu biologi. Sebuah terobosan di bidang sains yang menghadirkan solusi mengatasi virus dengue. 

Sang profesor kala itu tertarik pada bakteri Wolbachia pipiens. Bakteri ini pertama kali ditemukan di dalam tubuh nyamuk Culex pipiens pada tahun 1920. Bakteri Wolbachia terdapat di hampir 60% hingga 70% serangga seperti ngengat, lalat buah, capung, kumbang, dan nyamuk, tetapi tidak pada nyamuk jenis aedes aegypti yang merupakan inang virus dengue. 

Wolbachia dapat dikatakan sebagai bakteri parasit yang menginfeksi sistem reproduksi serangga sehingga mempengaruhi kelanjutan garis keturunan mereka. Terdapat hubungan yang cukup kompleks antara sang inang (serangga) dengan bakteri wolbachia. Reaksi infeksi bakteri ini dengan serangga terhadap garis keturunan selanjutnya pun beragam. Bakteri ini bisa menyebabkan kematian jantan yang terinfeksi, siklus atau usia hidup serangga yang pendek, ketidaknormalan reproduksi yang berujung pada kematian dini embrio. Dalam penelitiannya, Sang Profesor juga melaporkan bahwasanya wolbachia juga mampu menghentikan duplikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk. 

Profesor O'Neill kini menjabat sebagai dekan fakultas sains di Monash University Australia. Sebelumnya beliau menyelesaikan program doktoralnya di bidang entomologi (ilmu serangga)  di Queensland University. Beliau juga pernah bekerja di Yale Medical School sebagai ketua grup biologi yang mempelajari serangga pembawa penyakit. 

Apa yang dikerjakan oleh Profesor O'Neill di dalam labnya juga pernah tidak membawa hasil apapun. Membuatnya stress dan tertekan. Setidaknya 20 tahun hidupnya dihabiskan untuk penelitian ini. Profesor O'Neill menggunakan teknik injeksi mikro untuk menyuntikkan wolbachia dalam telur nyamuk. Saya membayangkan seberapa kecil ukuran jarum yang digunakan. Apakah pakai skala mikro atau nano? Teknologi yang digunakan pasti mengagumkan.

Rekan sejawatnya, Tom Walker menghabiskan hari demi hari di lab hanya untuk menyuntikkan wolbachia ke lebih dari 500 telur setiap harinya. Walker kemudian menunggu dengan sabar hingga telur tumbuh menjadi nyamuk dewasa dan memastikan apakah nyamuk-nyamuk dewasa tersebut terinfeksi wolbachia. Namun hasilnya nihil. Tak ada nyamuk yang di dalamnya mengandung bakteri wolbachia. Tingkat keberhasilan penelitian ini sangat rendah, ujarnya suatu ketika. Bahkan Walker telah menyuntik 18.000 telur tanpa ada tanda-tanda bahwa telur-telur tersebut di dalamnya mengandung bakteri wolbachia. Ah, kisah ini mengingatkan saya pada Thomas Alfa Edison.

Suatu ketika di tahun 2006, setelah hari-hari yang dilalui membuat jenuh dan menghilangkan semangat, kabar gembira itu akhirnya datang. Salah seorang mahasiswa O'Neill berkata bahwa dia telah berhasil menginjeksi telur, hingga telur yang mengandung bakteri wolbachia tumbuh menjadi nyamuk dewasa. Ini seperti momen eureka! Sang mahasiswa tersebut menularkan ledakan optimisme kepada Sang Profesor.
Proses ini belumlah usai. Profesor O'Neill harus menguji sampel penelitian di lapangan. Nyamuk-nyamuk yang mengandung bakteri wolbachia dilepasliarkan di daerah yang rentah terhadap DBD agar kawin dengan nyamuk setempat yang mengandung virus dengue. Tujuannya untuk mengetahui seberapa efektif pengendalian wolbachia terhadap virus dengue dan juga bagaimana hasil kawin silang dua varietas nyamuk tersebut (nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia dengan nyamuk aedes aegypti pembawa dengue) terhadap garis keturunan selanjutnya. Tempat uji coba pertama kali dilakukan di Yorkeys Knob dan Godonvale, Queensland pada tahun 2011. Penelitian ini juga mendapat dukungan dana dari Bill and Melinda Gates Foundation
________________________________________________________________________________
Tahija Foundation dan Eliminate Dengue Project (EDP) Jogja 
________________________________________________________________________________
Jika di tingkat global proyek riset Eliminate Dengue didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation, di Indonesia aksi ini didukung penuh oleh organisasi filantropi Yayasan Tahija Jakarta. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, organisasi ini bergerak di bidang sosial, kesehatan, dan pendidikan. Organisasi ini didirikan oleh Jean dan Julius Tahija pada tanggal 21 Maret 1990. Bunga Cinnamomum tahijanum (kayu manis liar) yang berasal dari Kalimantan menjadi simbol organisasi ini. Simbol  Cinnamomum tahijanum mereprentasikan empati, persamaan, dan keberagaman.

Dalam Annual Report 2014, organisasi ini melaporkan bahwa pada tahun 2013 mereka berhasil menyiapkan landasan operasional untuk pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia di Yogyakarta. Pada Januari 2014, pelepasan perdana nyamuk dilakukan di Desa Kronggahan dan Nogotirto, Kabupaten Sleman. Tantangan yang dihadapi tim EDP Jogja kala itu adalah bagaimana mensosialisaikan kegiatan ini kepada masyarakat. Tantangan yang lain adalah letusan Gunung Kelud pada Bulan Februai 2014, tetapi hal ini tidak menyebabkan gangguan signiikan pada proses kegiatan pelepasan nyamuk. Pada Desember 2014, tim EDP Jogja melakukan kegiatan serupa di dua wilayah yang ada di Kabupaten Bantul.

Bahkan Sri Sultan Hamengkubuwono X memberikan dukungan penuh pada kegiatan EDP Jogja. Selain dari pemerintah daerah, komisi etik Kedokteran Universitas Gajah Mada juga memberikan feed back dan bimbingan etis terhadap kegiatan EDP Jogja. Kegiatan pelepasan nyamuk ber-wolbachia pada tahun 2014 adalah bukti keberhasilan kerjasama antara Yayasan Tahija, tim EDP dari Monash University dan Universitas Gajah Mada.
Saya sendiri sangat antusias ketika mendapat undangan dari EDP Jogja. Ini kesempatan langka! Tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan ini. Di insektarium tersebut, saya bisa menyaksikan bagaimana telur nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia menetas. Tentu saja saya melihatnya dengan bantuan mikroskop elektron. Di insektarium tersebut kami berdiskusi mengenai isu DBD. Saya mendapat pemahaman baru dan juga knowledge yang berharga. Ini keren!

Indonesia juga punya ahli entomologi (ilmu serangga) lho, beliau bernama Pak Warsito Tantowijaya Ph.D. Pak Warsito inilah yang mengajak kami tour de lab dan menjelaskan proses penangkaran nyamuk-nyamuk ber-wolbachia. Sedangkan Mbak Bekti Dwi Andari, MA. selaku stakeholder engagement coordinator menjelaskan tentang nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia ini kepada audience melalui slide presentasi dan video singkat. Peneliti utama EDP Jogja adalah Prof. dr. Adi Utarini, MPH., Ph. D. dan peneliti pendamping dr. Riris Andono Ahmad MPH. Ph. D.

Eliminate Dengue Project Jogja juga tergabung dalam IDAMS (Internasional Research Consortium on Dengue Risk Assesment, Management, and Surveillance) yang merupakan konsorsium penelitian 8 negara di Asia dan Amerika Latin. Diharapkan, penelitian ini mampu menekan risiko dan kasus yang disebabkan oleh virus dengue. Semoga!

Yogyakarta, 15 Desember 2015

Kamis, 12 November 2015

Dunia Tido & Friends (Kreativitas, Imajinasi, dan Mimpi-Mimpi)

____________________________________________________________________________
Sekilas Tentang Tido & Friends
____________________________________________________________________________

Dunia anak-anak lekat dengan imajinasi. Lewat imajinasi tersebut terciptalah kreativitas  yang menghantarkan mereka pada mimpi-mimpi. Itulah yang menjadi alasan tim Gobaksor Interactive yang digawangi oleh Iki Mazadi dalam menciptakan aplikasi atau media yang membantu mengasah imajinasi dan kreativitas anak-anak.

Tentunya yang saya maksud di sini adalah anak-anak berusia 3 hingga 6 tahun (anak usia dini). Sebab, anak-anak dalam rentang usia seperti itu sedang berada dalam periode emas masa pertumbuhan (Golden Age Era). Dari situlah sel-sel aktif otak terbentuk. Pertumbuhan sel-sel aktif ini dimulai di usia 3 tahun dan terbentuk secara sempurna di usia 5 hingga 6 tahun. Di sinilah pentingnya optimalisasi kecerdasan anak melalui serangkaian aktivitas yang menyenangkan yang tentunya akan berdampak pada tumbuhkembang termasuk kreativitas dan imajinasi mereka. 

Tido & Friends adalah salah satu hasil olah kreativitas tim Gobaksodor Interactive. Ada beberapa jenis produk yang telah dihasilkan Gobaksodor Interactive di antaranya game, e-book interactive, komik, animasi (2D maupun 3D), dan kini mulai merambah ke dunia Virtual Reality.

Seperti yang diutarakan oleh Iki Mazadi (founder Startup Gobaksodor Interactive), Tido & Friends diharapkan mampu menjadi sebuah media penyampai nilai-nilai kebaikan dan pengetahuan yang membentuk karakter serta kepribadian anak-anak calon pewaris masa depan Indonesia. 

Tido & Friends sendiri adalah karakter imajiner berbentuk binatang yang imut dan lucu. Di dalamnya terdapat 9 tokoh yang memiliki karakteristik berbeda. Mereka adalah Tido (komodo), Fogi (katak), Simoo (sapi), Pinky (naga), Bibu (buaya), Quin (penguin), Chipo (luwak), dan Phipo (naga). Saat ini, telah  ada 3 jenis produk kreatif Tido & Friend, di antaranya : edumini komik, animasi dalam bentuk lagu anak-anak (2D dan 3D), dan e-book interactive berbasis android.

Pantengin terus ya postingan ini sampai akhir karena ada Giveaway 5 DVD animasi (lagu anak Tido & Friends) buat kamu yang mau ikutan. Iya buat kamu.
Gambar GIF 1. Karakter-karakter Animasi Tido & Friends
 _______________________________________________________________________________
Lagu Anak Tido & Friends (Animasi) 
________________________________________________________________________________ 
Mobil Listrik
 
Mobil listrik itu mobil yang keren
Tidak menyebabkan asap polusi
Yang lebih hebat dan lebih keren lagi
Yang membuat adalah teman kita sendiri 
Di Indonesia mobil itu dibuat, negara kita tercinta

Ini adalah sebagian lirik yang saya cuplik dari lagu anak Mobil Listrik. Mobil listrik adalah mobil yang tidak membutuhkan bahan bakar fosil (misal bensin) sehingga tidak menimbulkan polusi udara. Mobil ini hanya perlu diisi ulang (charging) jika kehabisan energi listrik. Mobil listrik digadang-gadang menjadi salah satu kendaraan masa depan yang ramah lingkungan (green car). Di Indonesia ada beberapa teknokrat yang menggagas dan menciptakan mobil listrik, di antaranya Bung Ricky Elson. 

Dari situlah ide awal penciptaan lagu mobil listrik ini. Lagu ini diharapkan memberi insight dan nilai edukasi kepada anak-anak Indonesia agar menjadi generasi kreatif yang mampu menciptakan terobosan-terobosan di bidang teknologi, semisal penciptaan mobil ramah lingkungan (mobil listrik). Tentu saja dalam hal ini peranan orangtua menjadi kunci dalam menumbuhkembangkan proses kreatif anak dalam menciptakan ide-ide. 

Jaman sekarang sangat sulit mencari lagu anak-anak. Apalagi yang cocok untuk usia 3 hingga 6 tahun. Tidak seperti jaman saya ketika masih TK atau SD. Begitu banyak penyanyi cilik bersliweran. Hal-hal semacam ini menjadi tantangan tim Gobaksodor Interactive dalam menciptakan lagu anak. Lagu-lagu tersebut dibuat dalam format animasi agar anak-anak jatuh hati. Selain mobil listrik ada judul lain seperti cita-cita, layar ajaib, dan Indahnya pagi. 

Lagu cita-cita mengajarkan anak-anak akan keindahan mimpi-mimpi. Hey apa cita-citamu di masa depan? Begitulah kira-kira makna yang tersirat. Lagu layar ajaib mengajarkan anak berbuat kebaikan. Lagu Indahnya pagi mengajarkan anak akan pentingnya bangun di pagi hari. 

Berikut saya lampirkan tautan lagu-lagu anak Tido & Friends yang lain yang bisa kamu tonton via Youtube.
1. Layar Ajaib
2. Indahnya Pagi
3. Cita-Cita
________________________________________________________________________________
Edumini Komik Tido
________________________________________________________________________________
Rahasia Antara Pohon & Daun
Belajar Sambil Berlibur
Wortel
Edumini komik adalah komik singkat yang memberikan nilai-nilai kebaikan dan juga pengetahuan untuk anak usia dini. Menarik bukan? Kalau kamu punya ide kreatif untuk Tido & Friends silakan saja sampaikan ide tersebut ke  Fanspage Tido & Friends. Apapun itu. Mungkin ide tersebut berupa narasi dan sebagainya. Cerita berjudul WORTEL di atas adalah ide kreatif saya yang kemudian diolah kembali oleh tim kreatif Gobaksodor Interactive.
_______________________________________________________________________________
Colouring Sheet For Kids
_______________________________________________________________________________

Kalau lembar mewarnai ini anggap saja bonus untuk mengasah kreativitas anak-anak. Kamu bisa mengunduhnya di Album Colouring Sheet For Kids. Jangan lupa di-print dan siapkan alat mewarnai ya?
_______________________________________________________________________________
E-Book Interactive Berbasis Android (Free Download)
_______________________________________________________________________________ 
1. Cita-Cita
Cita-cita @Playstore
Gambar GIF 2. Cita-Cita
E-book interaktif berjudul cita-cita merupakan aplikasi edukasi dalam bentuk e-book yang bisa diunduh via playstore. Didalamnya dilengkapi fitur-fitur berupa game kecermatan, lagu anak cita-cita, narasi teks, serta beberapa benda atau objek dalam e-book tersebut bisa dimainkan. Ada pula jendela untuk memilih halaman yang diinginkan. Selengkapnya kamu bisa mengunduhnya sendiri di tautan berikut Cita-CitaUntuk mendapatkannya kamu tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun sebab e-book ini free alias gratis diunduh siapa saja.

2. Indahnya Pagi
Indahnya Pagi @Playstore
E-book interaktif berikutnya berjudul Indahnya Pagi. Fitur yang disematkan hampir mirip dengan yang pertama (cita-cita). Ada games yang melatih kecermatan juga narasi teks. Juga lagu anak Indahnya Pagi. Jika berkenan silakan unduh di sini Indahnya Pagi
3. Tido di Negeri Huruf 
Tido di Negeri Huruf @Playstore
E-book interaktif Tido di Negeri Huruf membantu anak-anak usia dini mengenal huruf melalui aktivitas yang menyenangkan yakni games. E-book interaktif ini juga dilengkapi lagu anak 'Mengenal Huruf.' Nama-nama benda atau objek yang ada disesuaikan dengan awalan huruf, misal A untuk Ayam. Huruf-hurufnya lengkap dari A hingga Z. Selain itu, Tido di Negeri Huruf bisa dimainkan secara offline. Kalau penasaran silakan mampir ke Tido di Negeri Huruf

Selengkapnya boleh berkunjung ke Gobaksodor Interactive Via Google Play
_______________________________________________________________________________
Capaian Prestasi
_______________________________________________________________________________
Tido & Friends di ajang Baros International Animation Festival 2015
Gobaksodor Interactive sendiri merupakan sebuah digital startup yang berfokus pada digital kreatif yang dirintis oleh Iki Mazadi pada tahun 2012 di Yogyakarta. Saat ini pria yang pernah mengenyam pendidikan di jurusan teknik informatika di suatu universitas di Bandung ini mulai mantap meniti karirnya di dunia digital creative startup. Semenjak tahun 2014, studio Gobaksodor Interactive menjadi sebuah tempat untuk bermain dan berkarya dengan ide-ide kreatif terkait pengembangan aplikasi digital berupa games dan e-book interaktif, animasi 2D & 3D, aplikasi augmented reality & virtual reality, ataupun lainnya terkait ranah digital kreatif.

Selain Tido & Friends, Iki Mazadi dan tim Gobaksodor Interactive telah menelurkan cukup banyak karya. Salah satu dari sekian karyanya yakni desain 3D home interior, desain 3D Candi Borobudur, dan game virtual Reality dengan konsep petualangan luar angkasa (project 3599).
Hasil kreativitas Gobaksodor Interactive
Selama kurun waktu 2012 hingga 2013, Tido & Friends sendiri pernah menyabet beberapa penghargaan, di antaranya juara 3 Indigo Fellowship Telkom kategori game dan komik interaktif (2012) serta harapan 1 dalam ajang Rockstar Intel 2013. Sebenarnya masih ada penghargaan yang lain lagi, tapi 2 aja yang saya tulis cukup kan?

Selain itu, untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas Iki Mazadi pernah mengikutsertakan Tido & Friends ke beberapa pameran, di antaranya Pekan Produk Kreatif Indonesia or PPKI 2013 (jakarta), Business Connect 2013 (Jakarta), ICT Expo 2014 (Jakarta), Baros International Animation Festival or BIAF 2015 (Bandung), dan terakhir Digital Science Technopark 2015 (Semarang).

Apa mimpi-mimpi serta harapan ke depan? Tido & Friends diciptakan sebagai media kreativitas dan visualisasi imajinasi dunia anak-anak. Ini sesuai dengan spirit Gobaksodor Interactive yakni Inspiring, educating,visualizasing, and empowering for children imagination. Harapannya Tido & Friends mampu menjadi media penyampai nilai-nilai tersebut.

Mari mampir ke :
1. Tido & Friends Website
2. Gobaksodor Website 
3. Tidofiends Lands (Official Facebook) 
4Tido & Friends (Fanspage)
_______________________________________________________________________________
Giveaway Tido & Friends 
________________________________________________________________________________
Okay Sobat Blogger. Terima kasih sudah mampir ke lapak saya yang sederhana ini. Nah kali ini saya akan mengadakan giveway yang hadiahnya berupa DVD animasi (10 lagu anak Tido & Friends). Ada 5 DVD dari sponsor saya Gobaksodor Interaktive. So ikuti alurnya ya yang mau ikutan.
A. Syarat dan Ketentuan
  1. Like Fanspage Tido & Friends dan add facebook Tidofriends Lands
  2. Share postingan ini di akun facebook masing-masing
  3. Silakan tulis di kolom komentar postingan ini dengan menyertakan : nama lengkap dan akun sosmed masing-masing (boleh twitter atau facebook)
  4. Berikan ulasan mengenai produk Tido & Friends (Lagu Anak Tido & Friends, Edumini komik Tido, E-book interaktif) pilih salah satu atau ketiganya sekaligus boleh. Tulis di kolom komentar di bawah Nama dan Akun social Media. Apakah kamu punya pengalaman terkait dunia komik, animasi, atau game, kemudian hubungkan pengalamanmu dengan Tido & Friends. Apakah kamu kesulitan mencari media edukasi untuk anak usia dini, kaitkan pengalamanmu dengan Tido & Friends, Apakah anak-anak atau adik kecilmu di rumah tertarik dengan komik atau lagu Tido, silakan bagi pengalamanmu di sini. Apakah review Tido & Friends ini menarik menurutmu? Setiap orang pasti punya hal menarik untuk diceritakan. Tulislah bebas sekreatif mungkin. 
  5. Tim Gobaksodor Interactive akan memilih 4 pemenang dengan komentar/ulasan paling kreatif dan unik (baik berupa masukan, saran, support, dan sebagainya). Sedangkan 1 Pemenang akan diundi secara random (acak) oleh saya. Jadi siapapun bisa dapat kesempatan untuk mendapatkan DVD ini (total 5 DVD). 
  6. Menjelang deadline GA, saya mau memberi tambahan hadiah buat para pemenang. Hadiahnya yakni oleh-oleh khas Yogyakarta berupa 3 kaos (bertuliskan Yogyakarta), 3 buah tas rajut/tas etnik mungil, dan @ 3 gantungan kunci (bertuliskan Yogyakarta/Malioboro) untuk 3 pemenang beruntung. Hadiah diundi secara acak oleh saya. 
B. Periode Giveaway dan Pengumuman Pemenang 
  1. Masa Berlakunya Giveaway ini dimulai dari tanggal 13 November hingga tanggal 8 Desember 2015. 
  2. Para Pemenang Giveaway Tido & Friends akan diumumkan di fanspage Tido & Friend pada tanggal 15 Desember 2015.    

Minggu, 08 November 2015

The Mahuzes (MIFEE & Cerita Getir Perampasan Tanah Ulayat)

________________________________________________________________________________
Seperti yang saya janjikan di postingan sebelumnya yakni Papua di Mata Jogja, saya akan membuat ulasan film dokumenter The Mahuzes. Jika kamu baca Papua di Mata Jogja, mulanya saya mengira akan ada akan diskusi dan pemutaran film Raja Ampat dalam acara bertajuk #CorakTanahPapua, tapi ternyata tidak. Film yang diputar justru berjudul The Mahuzes. Pada awalnya saya agak sedikit kecewa. Saya datang meluangkan waktu dari  jam 19.30 WIB ke Fisipol UGM untuk menyaksikan film Raja Ampat. Bukan The Mahuzes.

Tapi saya salah kira, justru dari The Mahuzes ini saya belajar banyak hal. Saya belajar bagaimana menjadi seorang Indonesia yang mencintai bumi pertiwi. Saya belajar menghargai keragaman. Saya belajar memahami sebuah budaya, karena di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. 

Dari film dokumenter ini pula saya menyaksikan sebuah kisah pilu, sebuah ironi yang melanda Bumi Cendrawasih. Cerita getir bagaimana Suku Malind bermarga Mahuze memperjuangkan tanah ulayat dari investasi kelapa sawit dan MIFEE Project yang menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan dan ketahanan energi nasional. Saya tak menyesal hadir di sana, sebab pada malam itu saya mendapat sebuah insight yang begitu berharga. 
________________________________________________________________________________
The Mahuze 
(Cerita Getir Perampasan Tanah Ulayat)

Suku Malind tinggal di pelosok Merauke. Merauke adalah kabupaten yang letaknya di wilayah paling timur Indonesia. Luas tanah Merauke sekitar 4,7 juta hektare dan 95.3% adalah hutan. Di Merauke terdapat beragam jenis suku, salah satunya Suku Malind. Suku Malind pun memiliki beragam marga. Mahuze adalah salah satunya. 

Seperti halnya suku-suku Papua lainnya yang tinggal di pedalaman dan pegunungan, masyarakat Suku Malind adalah kaum pemburu dan peramu. Mereka tidak terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam dan beternak. Bagi mereka hutan adalah rahim ibu yang memberikan kehidupan. Dari hutan mereka bisa langsung memperoleh makanan dengan berburu binatang dan memangkur (memanen) sagu. Sebab alam menyediakan segalanya secara gratis. 

Namun, semua itu berubah sejak dicanangkannya MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate. Proyek MIFEE mendatangkan investor-investor asing tentunya. Dalam film dokumenter tersebut, Presiden Jokowi mengeluarkan sebuah pernyataan yang cukup mencengangkan. Merauke akan menjadi lumbung pangan dan energi nasional. Maka dari itu perlu penyediaan lahan sekitar 1,2 juta hektare yang digarap dalam kurun waktu 3 tahun untuk merealisasikan hal tersebut. Ini mimpi atau ilusi?
Hutan di Merauke yang dibuldozer dengan alat berat.
Sumber : Fanspage Ekspedisi Indonesia Biru
Perlu kita ketahui bahwasanya makanan khas Papua adalah sagu. Titik. Demikian pula suku Malind dan suku-suku lainnya di Papua. Sagu adalah makanan pokok. Seperti halnya kita makan nasi. Proyek MIFEE ini seakan-akan membunuh masyarakat Papua secara tidak langsung. Dengan ditebang hutan-hutan yang kemudian diubah menjadi lahan produktif untuk pertanian padi dan kelapa sawit menjadikan Suku Malind di Merauke kehilangan tumpuan utamanya, lahan sagu. Selain itu, mereka juga kebingungan jika generasi selanjutnya hendak membangun rumah. Sebab kayu-kayu dari tanah mereka yang seharusnya digunakan untuk membangun rumah telah diratakan dengan tanah oleh perusahaan. 

Bagi hasil antara Suku Malind (pemilik tanah) dengan perusahaan kelapa sawit (pengelola) dinilai tidak adil. Perusahaan menggunakan skema 80 : 20. Delapan puluh persen keuntungan diserahkan kepada perusahaan. Sisanya untuk pemilik tanah. Terkadang perusahaan tidak menunaikan kewajibannya dengan baik. Perusahaan melanggar kesepakan yang telah dibuat dan hukum adat setempat . Perusahaan memperluas lahan kelapa sawit melebihi patok-patok yang menjadi batas tanah ulayat yang dianggap sakral oleh Suku Malind. Suku Malind menjadi terasing dan terusir di negerinya. Bukan hanya itu, tingkat melek huruf, pendidikan, sumber daya manusia yang masih terbatas di kalangan Suku Malind membuat sebagian dari mereka mau bekerja sebagai buruh sawit di perusahaan tersebut.
Rusaknya hutan ulayat karena proyek MIFEE
Sumber : Fanspage Ekspedisi Indonesia Biru
Belajar dari hal tersebut, masyarakat dari Marga Mahuze melakukan upaya penolakan masuknya perusahaan kelapa sawit di wilayah mereka. Sebab, Marga Mahuze menyaksikan sendiri dusun tetangga telah kehilangan tanah mereka. Tak hanya kehilangan tanah, dusun tetangga juga kesulitan mencari sumber pangan. Tak ada lagi sagu untuk dipangkur (dipanen).

"Dulu Kali Bian airnya bisa diminum. Airnya bersih sebelum adanya perusahaan. Tapi dengan adanya perusahaan, kami tidak bisa lagi mimun. Untuk minum kami harus pergi beli air atau masak air dari sumur." Ujar salah satu Marga Mahuze ketika ditanya kondisi air di Sungai Bian. Kondisi Sungai Bian telah tercemar oleh limbah perusahaan.

Keadaan itu diamini oleh Darius Nenob Mahuze,"Kami sekarang tidak bisa melihat ikan di bawah permukaan air." Sungguh ironis.

Konflik di sini bermula ketika salah satu sesepuh Marga Mahuze menerima 'amplop' dari perusahaan. Sejak saat itu perusahaan datang dengan mengerahkan buldozernya. Hutan ulayat  hendak diratakan dengan tanah. Pada tanggal 21 Juni 2015, para marga mengadakan Rapat Mahuze Besar untuk bermusyawarah mengenai hal tersebut. Menjelang tengah malam situasi semakin memanas. Namun akhirnya disepakati bahwasanya tanah ulayat Marga Mahuze tidak boleh dijual kepada perusahaan kelapa sawit. Apapun yang terjadi.

Cerita lebih detailnya bisa kamu saksikan sendiri di video berdurasi 1 jam 25 menit berikut ini (full movie). Film ini dibuat oleh tim Ekpedisi Indonesia biru yang beranggotakan seorang jurnalis foto (Ucok Suparta) dan videografer (Dandhy D. Laksono). Pengambilan gambar dari atas udara begitu menakjubkan. Gambar dan video tersebut direkam via drone (robot terbang yang dilengkapi kamera beresolusi tinggi). Kamu bisa menyaksikan keindahan alam Merauke dan perjuangan panjang Marga Mahuze melalui film ini.
_______________________________________________________________________________
Sekilas Tentang MIFEE 

Proyek MIFEE (Merauke Integrated Food and Energi Estate) berbasis agroindustri tersebut digagas di era Presiden SBY pada tahun 2010, kemudian tongkat estafetnya dilanjutkan oleh Presiden Jokowi. Pada awalnya proyek ini bernama MIRE (Merauke Integrated Rice Estate) dan diinisiasi oleh Bupati Merauke John Gulba Gebze pada tahun 2007. Merauke dipilih sebagai grand design MIFEE tak lain karena banyak lahan basah dan potensial yang luas dan subur di sana. Apalagi setelah pemekaran wilayah pada tahun 2002. Luas lahan basah dan potensial tersebut mencapai 4,5 juta hektare. Proyek ini disusun guna mengantisipasi terjadinya krisis ekonomi dan juga menciptakan ketahanan pangan dan energi nasional.
Seorang warga dari Dusun Zanegi, Distrik Animba, Merauke menatap nanar hutan
tempat dia mencari sumber pangan dan sandang yang telah rata dengan tanah.
Sumber : Reddplus. go.id
Namun tak berapa lama berselang, proyek ini menuai kritik dan reaksi tajam dari berbagai kalangan. Mereka yang melontarkan sorotan tajam tersebut tak lain adalah orang-orang LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan NGO (Non Governmental Organization), pejabat pemerintah setempat, media, suku-suku asli Merauke dan sebagainya. Proyek MIFEE ini justru lebih banyak menciptakan kerugian materi dan nonmateri bagi Pribumi Papua.

Banyak hak-hak pribumi Papua yang tercerabut. Para pribumi Papua akan mengalami kendala dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang. Seperti sudah saya jelaskan di bagian sebelumnya, bahwa pribumi Papua adalah kaum pemburu dan peramu. Mereka tidak terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam, bertani dan berdagang. Mereka murni mengandalkan hasil hutan. Konflik perebutan tanah adat atau tanah ulayat dimulai dari sini. Para investor dan pengusaha berdatangan mendirikan perusahaan dan industri setelah mengantongi izin hak guna hutan dari dinas terkait.

Dampak negatif lainnya adalah pencemaran air. Selain membabat habis hutan dan menghilangkan sumber pangan dan sandang pribumi Papua, air sungai menjadi terkontaminasi oleh limbah. Tidak hanya limbah kelapa sawit, tetapi juga limbah kayu serpih. Pribumi Papua kesulitan mencari air bersih dan ikan-ikan di sungai. Sepertinya perusahaan lepas tangan dan tutup mata terhadap hal tersebut.

Hiks. Sedih.

Sobat blogger, tulisan ini saya buat agar menjadi renungan dan pelajaran bagi kita semua.

Yogyakarta, 9 November 2015
_________________________________________________________________________
Sumber referensi :
1. Ekspedisi Indonesia Biru 
2. Catatan pribadi saat Talkshow #CorakTanahPapua
3. MIFEE, Tongkat Estafet Lumbung Pangan SBY ke Jokowi 
4. Belum Ada Masyarakat yang Bisa Hidup Dari MIFEE 
5. MIFEE dan Mimpi Swasembada Pangan
6. MIFEE di Merauke Adalah Genosida

Selasa, 03 November 2015

Papua di Mata Jogja

________________________________________________________________________________
#CorakTanahPapua
Jumat, 30 Oktober 2015

Papua. Apa yang kamu ketahui tentang Papua? Selain Papua bagian dari NKRI dan berada di wilayah Indonesia Timur dengan penduduk lebih dari 3 juta jiwa? Saya sendiri belum pernah sekalipun berkunjung ke Papua. Saya hanya mendengar sekilas-sekilas tentang Papua. Ketika mendengar Papua, saya jadi teringat Freeport (yang tentu saja membuat saya geram). Saya juga teringat akan kuliner khas Papua bernama Pepeda yang bahan dasarnya adalah sagu. Juga koteka dan noken. Papua memiliki banyak sekali suku dan juga tradisi. Ada pula rumah-rumah Honai (diperuntukkan untuk kaum lelaki) dan Ebai (diperuntukkan untuk kaum perempuan) yang beratapkan alang-alang. Sekilas bentuk rumah-rumah tersebut mirip jamur.

Dulu ketika saya SMA, ada salah satu televisi swasta yang menelisik keindahan Papua melalui segmen Jejak Petualang. Saya jadi sedikit tahu bagaimana kehidupan sederhana masyarakat di pedalaman Papua. Papua itu indah. Papua itu surga. Apalagi jika berbicara eksotisme Raja Ampat. Hmmm... Raja Ampat ini menjadi primadona dan andalan pariwisata Indonesia. Wisata bawah lautnya itu lho. Bikin mupeng kan? 
Lomba fotografi #CorakTanahPapua
Pagi menjelang siang, saya mendapat informasi dari @area_jogja (twitter) ada suatu acara bertemakan Papua di UGM. Ketika saya klik posternya mata saya langsung autofokus pada pemutaran film Raja Ampat. Acara tersebut bertajuk #CorakTanahPapua dan berlangsung selama dua hari, yakni dari tanggal 30 hingga 31 Oktober 2015 di Fisipol UGM. Ah cuma Fisipol, naik sepeda 10 menit aja cukup, batinku kala itu. Harus ikut nih! Untuk tahu poster lengkapnya silakan klik di sini

Dalam dua hari tersebut, terdapat 2 talkshow dan 2 sesi diskusi. Selain itu, juga ada pameran dan wisata kuliner di selasar Fisipol UGM. Sepertinya penyelenggara (Keluarga Mahasiwa Papua UGM) ingin menampilkan Papua dari perspektif budaya dan juga pendidikan, makanya tak salah jika judul talkshow di hari pertama adalah Papua di Mata Jogja. Sedangkan talkshow di hari kedua mengambil judul Strategi dan Pengembangan Pendidikan di Papua. Sesi diskusi di hari pertama (berdasarkan yang tertulis di poster) adalah pemutaran film Raja Ampat. Sedangkan sesi kedua, berupa diskusi Peluang Beasiswa Bagi Mahasiswa Papua

Kajian seperti ini ini sangat menarik menurut saya, dan tahun depan harus diadakan lagi. Acara-acara yang saya ikuti biasanya lebih berkaitan dengan dunia kepenulisan atau teknopreneurship. Baru kali ini saya menghadiri acara atau diskusi semacam ini. Saya yakin, pasti ada hal menarik yang bisa saya gali. Mata jurnalistik saya menyala.

Oh ya satu lagi, acara ini free kok alias untuk ikut tidak dipungut biaya. Namun, panitia hanya menyediakan 100 seat untuk peserta. Makanya saya kudu cepat-cepat daftar dan menanyakan apakah masih ada seat untuk saya hari itu. Ternyata masih ada. Meski free entry, peserta yang ikut kudu mendonasikan minimal satu buku untuk Papua. Tak masalah. Saya punya cukup banyak koleksi buku kok. Hari itu saya mendonasikan 3 buah buku sekaligus. Semoga buku-buku itu bisa bermanfaat di sana.
________________________________________________________________________________
Sorong dan Puncak

Ketika saya sudah berada di selasar fisipol UGM, saya diarahkan panitia yang stay di sana untuk menuju salah satu gedung di lantai 2. Saya datang sendiri ya elah kelihatan deh jomblonya. Namun di sana saya berkenalan dengan 2 mahasiswi dari salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) di Yogyakarta. Saya masih ingat, nama mereka Ika (asal Magelang) dan Anis (asal Klaten). 

Mayoritas peserta yang hadir 87% orang Papua. Sisanya nonPapua, termasuk saya, Ika, dan Anis. Almost booked seats were full. Saya perhatikan hampir semua kursi yang ada terisi penuh. 

Sesi talkshow kali ini menghadirkan 4 narasumber utama dengan didampingi 1 orang moderator dari Pokja Papua UGM. Dua narasumber merupakan pejabat daerah asal Papua, Stepanus Malak (Bupati Sorong) dan Willem Wandik (Bupati Puncak). Sedangkan 2 narasumber yang lain merupakan ketua Kesbang Limas (Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat) dan ketua STPMD (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogyakarta. 

Hanya beberapa poin menarik yang saya catat di sini. 

Materi pertama disampaikan oleh Pak Stepanus Malak, berhubung waktunya terbatas, setiap pembicara menyampaikan materinya kurang lebih 10 menit. Pak Stepanus kemudian menampilkan peta Kabupaten Sorong dalam slide powerpoint. Kemudian, beliau menjelaskan kondisi pendidikan yang ada di sana. Dulu, sekolah-sekolah negeri di Sorong tidak sebanyak seperti sekarang. Yang ada sekolah berbasis agama yang dibangun oleh gereja setempat. SD inpres letaknya di pedalaman, sedangkan untuk melanjutkan ke jenjang SMP, para pelajar harus pergi ke kota (yang jaraknya cukup jauh hingga berkilo-kilometer). Para pelajar terdidik tingkat SMA/SMK jarang sekali, apalagi sarjana. Biaya pendidikan mahal. Namun, Pak Stepanus adalah salah satu orang yang beruntung, sebab beliau bisa mengenyam pendidikan S2 di UGM. 

Toleransi dan keberagaman dijunjung tinggi di Sorong. Orang jawa, Sumatra atau etnis manapun diberi kebebasan untuk beribadah menurut keyakinannya masing-masing. Alhamdulilah, kita doakan semoga Sorong selalu diberi kedamaian dalam keberagaman. Tidak hanya Sorong, tetap juga Papua dan Indonesia tentunya.
Selain menjujung tinggi toleransi, Pak Stepanus cukup tegas menindak warganya jika ketahuan meminum miras alias mabuk-mabukan, meskipun itu saudaranya sendiri. Tindakan ini diakui sendiri oleh sang moderator acara, Pak Bambang Purwoko selaku ketua Pokja Papua UGM. 
Kabupaten Puncak dari udara. Sumber : www.skyscrapercity.com
Materi kedua disampaikan oleh Pak Willem selaku Bupati Puncak. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Puncak merupakan kabupaten tertinggi se-Indonesia (dengan ketinggian mencapai 2.309 Mdpl) dan wilayah ini adalah bagian dari pemekaran Kabupaten Puncak Jaya. Kabupaten Puncak terdiri dari 8 distrik (semacam kecamatan) dan diresmikan pada tanggal 21 Juni 2008 oleh Mendagri Mardiyanto. Kabupaten Puncak letaknya cukup terisolasi karena topografinya dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan. 

Ketika saya menulis postingan ini, saya mencari dan menelusuri berita-berita terkait Kabupaten Puncak. Apa yang saya temukan, membuat saya tak bisa berkata-kata. Sungguh miris. Di sepanjang Juli 2015 ini, ada beberapa titik di distrik tertentu di Kabupaten Puncak yang rentan sekali terhadap cuaca ekstrem (dari hujan es hingga badai salju). Distrik Agandagume adalah wilayah dengan kondisi terparah. Distrik Agandagume berlokasi di lereng Gunung Jayawijaya di bawah Puncak Cartenz (Puncak Jaya) yang konon katanya memiliki salju abadi. Maka tak heran daerah-daerah di sepanjang jalur ini sering dilanda cuaca dingin ekstrem hingga badai salju. Karena kondisi tersebut, lahan-lahan pertanian banyak yang rusak (membeku), kelaparan merajalela, dan ternak-ternak banyak yang mati. Belum dapat dipastikan berapa korban jiwa yang meninggal akibat siklus tahunan ini. Parahnya, akses transportasi yang terbatas dan infrastruktur yang tidak memadai menghambat proses evakuasi dan pemberian bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan. 
Distrik Agandagume, Kabupaten Puncak. Sumber : www.skyscrapercity.com
Menurut portal online lewatmana.com, Pak Willem sempat berbicara dengan Presiden Jokowi mengenai kendala dan tantangan yang dihadapi di Kabupaten Puncak. Kendala tersebut lebih terkait dengan penyediaan infrastruktur dan sarana transportasi yang belum memadai. Hal tersebut berimbas pada harga kebutuhan pokok  dan penunjang lainnya yang menjadi sangat mahal. Sekadar contoh, harga satu sak semen bisa mencapai 2 juta rupiah. Harga satu botol air mineral bisa mencapai Rp 50.000. Fantastis bukan? Dengan kisaran harga segitu bisa dibayangkan kan sobat blogger jika bantuan sulit dikirimkan mengingat biaya sewa pesawat dan bahan bakarnya tidaklah murah. 

Yah seperti itulah kondisi Kabupaten Puncak ketika mengalami cuaca ekstrem. Ini siklus tahunan. Kita doakan ya Sobat Blogger semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan bisa menemukan solusi.
_______________________________________________________________________________
Papua di Mata Jogja

Kita kembali lagi ke talkshow Papua di Mata Jogja Yuks. Nah di kesempatan ini, Pak Willem sempat memberikan motivasi dan wejangan agar para mahasiswa Papua yang menimba ilmu di Jogja, mau kembali ke daerah dan membangun Papua setelah purnastudi.

Ketika sesi diskusi alias tanya jawab berlangsung, banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan. Dari situ saya mendengarkan curhatan salah satu anak muda Papua yang kuliah di STPMD, betapa sulitnya dia mencari kos-kosan ketika menjadi mahasiswa baru. Betapapun sudah banyak kos-kosan yang dia sambangi, tetapi tetap saja para pemilik kos tidak menerima mahasiswa asal Papua tadi. Ada apa ini? Apakah Jogja sudah tidak toleran terhadap kaum pendatang dari Indonesia Timur?

Selain itu, betapa ribetnya birokrasi untuk mendirikan asrama anak-anak Papua. Ah entahlah. hiks.

Anak-anak muda Papua diidentikkan sebagai trouble maker. Padahal bisa jadi hanya satu atau dua oknum yang melakukan pelanggaran, tapi stigma buruk begitu melekat pada mahasiswa asal Papua. Ah, generalisasi. Tidak demikian kok. Nyatanya, justru dari talkshow ini saya mendapatkan keramahan ala Papua dari Panitia dan juga peserta yang hadir.

Diskusi tersebut begitu seru dan terbuka. Saya jadi terhenyak ketika salah satu anak muda bernama Metodhius Kossay (menempuh S2 hukum di Atmajaya) berkata dengan lantang kepada audience bahwasanya kita (anak muda Papua) harus membuktikan kalau semua itu tidak benar. Anak Papua hebat. Mari tunjukkan itu dengan prestasi, karya, dan juga karakter yang baik. Kontan saja, gemuruh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan.

Saya jadi teringat prestasi yang pernah diraih anak-anak muda papua dalam ajang Olimpiade Sains tingkat nasional dan internasional beberapa waktu silam. Prof. Yohanes Surya pun mengakui akan hal itu. Mereka berhasil merebut medali emas, perak, dan perunggu. Anak-anak muda Papua ini berhasil mengharumkan Indonesia.

Di forum diskusi ini saya melihat anak-anak muda Papua dengan mimpi-mimpi dan harapan akan masa depan. Saya melihat spirit antusiasme dalam jiwa mereka. Usia saya dan mereka bisa jadi tak jauh beda atau selisih 2 hingga 3 tahun saja. Namun saya berharap, kelak 10 atau 15 tahun kemudian ada perubahan yang lebih baik di tanah Papua. Bukan perubahan yang menghancurkan, tetapi perubahan yang memberdayakan. Guys, kalian yang berada di sinilah yang kelak akan memimpin negeri ini dan Papua! I love Papua.
________________________________________________________________________________
The Mahuze

Saya mau mengulas sesi pemutaran film dokumenter, tetapi di postingan berikutnya ya? Ada hal menarik yang ingin saya bagi. The Mahuze, judul film tersebut (bukan Raja Ampat seperti yang tertera di Poster). Film dokumenter ini berkisah tentang suku Malind yang berjuang mempertahankan tanah ulayat dari perusahaan kelapa sawit yang berinvestasi di Merauke. Film ini berdasarkan kisah nyata dan telah menyentuh hati saya.

Minggu, 01 November 2015

Kala Senggang Ini yang Saya Lakukan

Apa yang kamu lakukan jika kamu lagi enggak sibuk alias punya banyak waktu luang atau weekend tiba? Hah! jangan bilang kegiatanmu cuma makan, nonton TV, atawa mantengin facebook. Yah enggak apa-apa sih kalau facebookmu itu bisa dimanfaatkan buat monetize alias menghasilkan uang (misal kamu jualan produk via social media) atau berbagi sesuatu yang bermanfaat. Lha kalau facebook atau social media cuma kamu gunakan buat update status galau sekaligus stalking mantan #Eh or mantengin gebetan yang enggak jelas juntrungnya bakalan ke pelaminan atau enggak kan buang-buang waktu dan energi tuh #halah.

Mendingan ya spirit dan energi muda yang kamu miliki, kamu manfaatkan untuk melakukan aktivitas yang berdampak positif. Apa saja itu? Misal, belajar tutorial CorelDraw & Photoshop via youtube (kalau kamu benar-benar serius bisa di-expertise tuh skill desainmu), membuat DIY creative craft (lumayan kan kalau bisa dijual), belajar copywriting dan internet marketing pada seseorang yang dianggap berpengalaman di bidang tersebut, join komunitas hobi di daerahmu, belajar memasak, membaca novel atau buku inspiratif, dan masih banyak lagi daftar hal positif yang bisa kamu lakukan kala senggang. Apalagi buat yang masih jomblo  sedang melakukan pencarian jati diri seperti saya. Boleh tuh dicoba!

Nah Kalau Arinta sendiri apa yang dilakukan kala senggang? Kalau jaman saya masih jadi organisator di UKM (unit Kegiatan Mahasiswa) tahun 2013-2014, saya suka sekali menggarap event alias jadi panitia. Melalui organisasi saya belajar menjadi event organizer. Enggak tanggung-tanggung levelnya bisa sampai skala nasional lho.

Selain jadi panitia suatu acara, banyak sekali benefit yang didapat saat saya tergabung di organisasi, forum atau klub minat bakat, misal nambah teman. Selain itu, saya bisa menikmati jalan-jalan sekaligus observasi. Pernah nih suatu ketika, organisasi saya (UKM Rekayasa Teknologi) melakukan observasi ke Desa Srandakan (Bantul) di mana sebagian besar masyarakatnya menghasilkan tahu. Melalui tur desa, saya dan rekan-rekan diajak berkeliling ke beberapa pembuat tahu skala mikro. Saya mengamati proses pembuatan tahu, teknologi yang mereka gunakan, sembari bertanya kendala-kendala apa yang dihadapi mereka. Dari sana saya belajar banyak hal. Sungguh, kegiatan seperti ini masih sangat dibutuhkan di Indonesia. Diskusi antara pemuda (mahasiswa) dan masyarakat  untuk mencari solusi terhadap suatu hal. 

Jalan-jalan, observasi, dan diskusi inilah kegiatan yang saya lakukan saat senggang.

Itu dulu. Sekarang? Akhir-akhir ini saya lebih suka mantengin internet buat cari inspirasi menulis di blog, sembari dikit-dikit belajar tutorial apa gitu. Membaca buku (kadang-kadang). Nonton film dan animasi (kalau bagus buat bahan review di blog). Ikut kajian keagamaan, seminar, workshop, talkshow, dari yang gratisan sampai berbayar.

Okay,berikut saya list saja deh hal-hal apa yang biasa saya lakukan kala senggang :

  • Jalan-jalan sekaligus observasi (saya suka mengamati suatu hal dan bertemu orang-orang baru)
  • Diskusi mengenai suatu hal
  • Membaca buku atau novel
  • Mampir ke perpustakaan atau toko buku
  • Menonton film atau animasi
  • Mensukseskan suatu event (kepanitiaan organisasi)
  • Ikut workshop, seminar, talkshow, training, dan sebagainya
  • Menulis di blog
  • Ikut writing competition (entah dalam bentuk esai, cerpen, blog)
Inilah kegiatan-kegiatan yang saya lakukan saat senggang. Membangun kapasitas diri melalui seminar, talkshow dan workshop adalah salah satu cara yang saya tempuh.

Daripada ngejomblo bulukan di kos, mending saya ikut seminar, talkshow atau workshop kan? Lebih bermanfaat kan? Nah kebetulan pada kesempatan ini (Jumat, 30 Oktober 2015) saya mengikuti sesi diskusi dalam bentuk Talkshow #CorakTanahPapua yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Papua UGM dan bertempat di salah satu gedung Fisipol UGM lantai 2. Saya mengikuti 2 kegiatan hari itu, mulai dari Talkshow PAPUA DI MATA JOGJA hingga pemutaran Film (The Mahuze's). Ada hal menarik yang ingin saya ceritakan. Simak di postingan berikutnya ya?