Rabu, 31 Mei 2017

Bicara Bhinneka dan Kontribusi untuk Bangsa


Angkringan yang letaknya tak jauh dari bundaran UGM itu terbilang ramai. Angkringan merepresentasikan kehangatan yang bisa dinikmati siapa saja. Tak ada sekat-sekat yang membatasi. Tak peduli tua atau muda, wanita atau pria, mulai dari kalangan akademisi, pekerja kantoran, tukang becak, tukang koran, musisi jalanan, pengemudi taksi, pemuka agama, dan entah siapapun di Kota Budaya ini pasti pernah menikmati atau sekadar mendengar tentang angkringan. Ya angkringan dengan menu andalannya berupa nasi kucing.

Di angkringan inilah saya menikmati senja sembari menunggu waktu berbuka. Tiga kepal nasi kucing, gorengan, dan sapaan ramah dari bapak penjual angkringan cukuplah bagi saya. Tak selang berapa lama, bapak penjual minuman di seberang angkringan mengantarkan segelas hangat wedang uwuh pesanan saya. Dengan gerobak dorongnya, si bapak penjual minuman tidak hanya menawarkan wedang uwuh, tetapi juga wedang ronde dan wedang jahe.

Wedang uwuh dapat dikatakan sebagai minuman berbahan rempah dan dedaunan yang dikeringkan. Kombinasi jahe, cengkeh, kayu manis, daun pala, pala, kapulaga, sereh, dan gula membuat aromanya rempahnya menguar. Sangat menyegarkan. Perlahan saya mengaduknya dan menemukan cengkeh kering serta potongan kecil kayu manis berenang di permukaan.

Sejenak, saya teringat beratus tahun silam bangsa penjelajah dari Eropa dengan kapal-kapal besarnya melakukan perburuan rempah di bumi nusantara. Motif ekonomi dan pertukaran pengetahuan menjadi alasan awal yang mendasari eksplorasi tersebut. Meskipun akhirnya berujung pada pencarian wilayah baru, kolonisasi, hingga imperialisasi. Pala (Myristica fragrans) dan cengkeh (Eugenia aromaticum) merupakan salah satu komoditas primadona yang membuat Bangsa Eropa membelah lautan dan melakukan perjalanan panjang menuju negeri menjanjikan bernama nusantara. Tercatat, pada tanggal 8 April 1608, Laksmana Pieterszoon Verhoeven dari Belanda bersama 13 kapal ekspedisi menjejak Banda Naira dan memerintahkan armadanya untuk menguasai pulau-pulau penghasil rempah terutama cengkeh dan pala baik dengan perundingan maupun kekerasan.

Saya tersentak dari lamunan ketika 2 anak muda mengisi bangku kosong di sebelah kiri saya. Karena kaget, cengkeh dan potongan kayu manis hampir tumpah dari sendok. Saya tersadar bahwa saat ini saya berada di Jogja tahun 2017 bukan Banda Naira tahun 1608. Saya kemudian membuka catatan sekadar membuat draft  yang akan menjadi bahan tulisan di blog pribadi saya.

Pagi tadi saya menghadiri sebuah talkshow di Fisipol UGM yang mengundang remaja berusia 18 tahun. Remaja yang memikat perhatian publik karena tulisannya begitu viral dan dibagi ribuan kali oleh netizen. Remaja yang pemikirannya menuai pujian, kritikan, kecaman, bahkan ancaman kematian. Remaja dengan follower lebih dari setengah juta jiwa yang menulis pesan-pesan perdamaian, kemanusiaan, nasionalisme, keberagaman, dan pendidikan. Remaja yang berhasil membuat saya penasaran. Siapakah gerangan?
***
Yogyakarta, 29 Mei 2017 (Fisipol UGM)
Gadis berusia 18 tahun itu tak menyangka jika tulisan yang diposting melalui akun facebooknya bakalan viral seperti sekarang ini. Melalui akun facebook bernama Afi Nihaya Faradisa, gadis tersebut kerap mencurahkan segala pemikirannya. Tulisannya cukup serius untuk remaja berusia 18 tahun. Terkadang tulisannya mengandung sentuhan spiritualitas, filsafat, dan juga psikologi. Tulisannya menunjukkan kedewasaan dalam berpikir dan kematangan dalam bersikap. Gadis itu kerap disapa Afi. Nama aslinya Asa Firda Inayah (AFI). Afi Nihaya Faradisa tak lebih dari anagram yang digunakan untuk menyembunyikan identitas aslinya. Dengan menggunakan nama samaran, Afi tak berharap pujian. Afi berharap pesan-pesan dalam tulisannya mampu mengajak orang untuk berpikir. Mengasah logika. Mengolah rasa. Seberapa Indonesiakah dirimu?

Apa yang menarik dari sosok Afi hingga menjadi sorotan publik, dibicarakan netizen, bahkan diundang menjadi pembicara di berbagai acara? Beragam ulasan dari berbagai media (baik online maupun offline) tentang sosok Afi dan tulisannya turut mewarnai dinamika negeri ini dalam mengekspresikan gagasan. Melalui media sosial Facebook, Afi menyuarakan literasi keberagaman lewat tulisan bertema kemanusiaan, perdamaian, kebangsaan, patriotisme, cinta tanah air, dan pendidikan.

Gadis yang bercita-cita menjadi psikolog, penulis, dan trainer pemberdayaan diri ini merasa gelisah dengan banyaknya ujaran kebencian (hate speech), gambar berisi pesan provokatif memecah belah (dalam bentuk meme), dan juga berita palsu (hoax) melintas di media sosial. Ujaran kebencian, meme, serta berita palsu tersebut mengendap dan meracuni benak banyak orang. Hal seperti ini tentunya tak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab bisa merusak kebhinekaan dan persatuan bangsa yang sudah terjalin sekian lama. Oleh karena itu, melalui media sosial Afi mengajak netizen untuk berpikir dan melakukan perenungan. Sederhana saja. Afi membuat tulisan (konten) yang menggugah hati banyak orang. Sungguh tak disangka tulisan-tulisan tentang literasi keberagaman yang diposting di akun facebooknya viral dan mendapat apresiasi berbagai pihak.

Sebagai salah satu admin grup pembongkar berita/informasi palsu (hoax) terbesar di Indonesia, Afi miris dengan banyak beredarnya berita palsu (hoax), ujaran kebencian (hate speech), gambar berupa meme yang provokatif dan bernuansa SARA. Isu hoax merupakan senjata pamungkas bagi mereka yang tidak memiliki daya tarik lain untuk merebut opini publik, demikian tulis Afi di status facebook yang diposting pada tanggal 29 November 2016.

Dengan dihadiri lebih dari 400 peserta belum termasuk awak media, Afi mengisi talkshow kebangsaan bertajuk “Saya Indonesia, Saya Pancasila.” Talkshow tersebut diselenggarakan Fisipol UGM dalam rangka #PekanPancasila serta peringatan 72 tahun lahirnya Pancasila.

Negeri ini diperjuangkan dengan tetesan darah dan air mata. Diperjuangkan rakyat atas dasar persaudaraan dan kemanusiaan. Diperjuangkan supaya terbebas dari belenggu penjajahan. Diperjuangkan agar generasi berikutnya bisa menikmati kemerdekaan. Akan tetapi hari ini kita menyaksikan kebencian-kebencian dan pesan-pesan antikeberagaman (bhinneka) yang memicu perpecahan dan konflik antar anak bangsa terus bergulir dan mengalir setiap detiknya. Di setiap detik membuka media sosial, kita disuguhkan informasi yang terkadang tidak memberdayakan.

Negeri ini sedang bergolak. Negeri ini sedang butuh perhatian. Isu radikalisme dan terorisme baru-baru ini menghiasi headline media nasional. Kamu tahu darimana radikalisme dan terorisme ini mengakar? Mereka tumbuh dan bersemanyam dari benih-benih kebencian. Benih-benih kebencian tersebut bahkan diajarkan mulai dari pendidikan tingkat bawah, Sekolah Dasar. Konten-konten kebencian baik berupa tulisan, gambar, dan video tidak boleh dibiarkan begitu saja. Karena berbahaya jika sudah merasuk ke dalam kendali alam bawah sadar. Apakah kita menutup mata dan hati dengan hal ini?

Tidak. Saya tidak bisa menutup mata dengan kondisi bangsa yang seperti sekarang ini. Saya tidak bisa berdiam dan bermasa bodoh. Saya kemudian tersentak, ternyata kesadaran bangsa ini mengenai literasi keberagaman masih terbilang rendah. Saya sangat mengapresiasi Afi yang dengan cerdas mampu menghadirkan literasi keberagaman di tengah-tengah kita. Tulisan-tulisan Afi begitu hidup dan bernas. Mencerahkan tanpa menghakimi.

Bagaimana cara mendukung literasi keberagaman di era digital seperti sekarang ini? Seperti halnya yang Afi lakukan. Kita bisa menjadi content creator dan menyampaikan aspirasi melalui berbagai kanal media sosial yang ada. Jika kamu pecinta fotografi sampaikanlah cerita-cerita yang mengusung humanisme dan pesan-pesan perdamaian di akun instagrammu. Jika kamu suka bidang videografi kamu bisa membuat konten video kreatif, vlog, atau film pendek yang menginspirasi banyak orang di akun youtube-mu. Selain itu, bagi kamu yang mempunyai bakat kreatif lainnya bisa menyalurkan literasi keberagaman dalam bentuk novel, komik, game, boardgame, virtual/augmented reality, dan sebagainya.

Bentuk dukungan lain bisa kamu lakukan dengan cara menjaga sikap dan tutur kata ketika berinteraksi dengan orang lain di dunia maya. Melaporkan dan tidak mengikuti (unfollow) akun-akun penyebar kebencian. Bijak dan cerdas dalam membaca setiap informasi atau berita yang beredar (tidak mudah terprovokasi). Memilah informasi ketika akan dibagi di media sosial, tanyakan apakah layak dan bermanfaat ketika dibagi ke publik. Jangan mau lagi termakan berita hoax!

Keberagaman adalah anugerah. Demikian pendiri bangsa ini merumuskan falsafah Pancasila yang menjadi landasan berkebangsaan dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi spirit persatuan. Demi menjaga keutuhan NKRI yang multikulural. Perlu diketahui, baik falsafah hidup, lambang negara, dan semboyan persatuan dibuat dengan pemikiran yang matang dan kecerdasan yang tinggi. Frasa Bhinneka Tunggal Ika diambil dari Kitab Sutasoma Berbahasa Sansekerta karya Mpu Tantular. Mpu Tantular seorang bijak yang hidup di abad ke 14 pada masa Pemerintahan Kerajaan Majapahit. Bhinneka Tunggal Ika memiliki makna meskipun berbeda tetapi dalam satu kesatuan.

Bagaimana bentuk kontribusi dan peran generasi muda demi kemajuan bangsa? Kamu bisa berkontribusi dan mendukung literasi keberagaman dengan menjadi content creator di bidang apapun yang kamu sukai. Saya punya blog. Dari blog saya menulis dan menyuarakan literasi keberagaman. Di tahun 2016 saya pernah membuat tulisan berjudul “Social Media : Berkah atau Musibah Bagi Keberagaman?” Sungguh tak disangka tulisan saya mendapat apresiasi dari Indonesia Consortium for Religious Study (ICRS). Di tahun 2015 tulisan saya berjudul “Mereka yang Memilih Menjadi Cahaya” mendapat apresiasi dari International Committe of the Red Cross. Saya bahkan diundang ke Jakarta untuk memberikan semacam short speech. Di podium saya berdiri dan menyampaikan short speech tentang perdamaian, humanisme dan religiusitas di hadapan tamu undangan beberapa rekan media. 

Jika saya menyampaikan literasi keberagaman melalui blog. Afi melalui facebook. Kamu? Tenang masih ada banyak cara untuk berkarya dan berkontribusi positif kok! Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan saya. Saya Arinta, saya cinta Indonesia, bhinneka, dan Pancasila.